
"Saya antar kalian pulang ya, dimana rumah kalian?" tawar Intan.
"Apartemen kita gak jauh kok Tante, gak papa," tolak Reva sopan. Tidak perlu naik mobil, gedungnya pun bahkan terlihat dari sana.
"Gak papa yuk, Tante juga ingin ketemu sama orang tua kalian." Intan membukakan pintu mobil, mempersilahkan dua anak perempuan itu masuk. Ia ingin bertemu orang tua mereka membicarakan tentang hal ini.
Sesampainya di apartemen, Reva memutuskan ke apartemennya dahulu untuk sementara, Evan juga sepertinya belum pulang bekerja dan Reva tidak tega meninggalkan Celine sendirian. Reva juga tidak lupa membawakan minuman untuk tamunya itu, setelahnya duduk dengan saling berhadapan.
"Jadi kalian tinggal di apartemen ini?" tanya Intan sambil memperhatikan setiap sudut ruangan itu.
"Sebenarnya Celine tidak tinggal di sini, di sini saya tinggal sendirian," ucap Reva sambil tersenyum kikuk, sepertinya wanita itu masih salah paham.
"Loh bukannya kalian saudara ya?"
"Bukan, tapi saya sudah menganggap Celine ini adik saya. Dia ini anak tetangga yang masih tinggal di satu gedung, kami memang sangat dekat."
Intan menganggukan kepalanya, "Oh begitu ya, sekarang saya mengerti. Tapi kamu baik sekali ya, terlihat sayang juga pada Celine. Seperti benar-benar saudara."
"Hehe iya."
"Bagaimana kabar Celine? Dia baik-baik saja kan?" Dilihat dari ekspresi wajahnya, Intan terlihat benar-benar khawatir.
"Saya tidak tahu pasti, tapi sepertinya Celine masih trauma. Papanya sedang di jalan pulang, sebentar lagi pasti datang," ucap Reva memberitahu.
"Ya sudah saya tunggu dia sampai pulang ya, temenin kalian dulu."
"Silahkan Tante, tapi memangnya Tante lagi gak sibuk?"
"Enggak kok, saya baru pulang dari toko."
"Kalau boleh tahu Tante punya toko apa?"
"Bukan toko sih, maksudnya butik hehe."
Kedua mata Reva berbinar, "Serius Tante punya butik? Baju apa?"
"Butik gaun pengantin, namanya Beuty Shine."
__ADS_1
"Aku tahu butik itu, memang terkenal juga. Jadi yang punya itu Tante?"
"Hehe iya, sebenarnya dulu Mama yang bangun, dan sekarang Tante yang lanjutin."
"Gak nyangka aku bisa ketemu dan kenal begini sama pemilik butik terkenal itu," ucap Reva menggoda.
"Haha kamu bisa saja Reva, tapi makasih ya pujiannya."
Obrolan mereka lalu terhenti saat mendengar ketukan pintu, Reva pun segera beranjak untuk membukakan dan ternyata benar itu adalah Evan. Pria itu terlihat datang dengan wajah paniknya, Reva lalu segera memberitahu jika Celine sedang tidur di kamarnya.
"Ya Tuhan, saya kaget banget pas denger kabar itu dari kamu," ucap Evan sambil mengusap wajahnya kasar. Tatapannya menyendu melihat putrinya yang sedang tidur di ranjang.
"Maaf ya Kak kalau sempat buat Kakak kaget."
"Memangnya bagaimana kejadiannya?" tanya Evan penasaran.
Akhirnya Reva pun menceritakan dari awal, saat Celine yang meminta ingin dibelikan arumanis di sebrang jalan. Reva yang merasa di sana ramai dan tidak akan kenapa-napa pergi sendiri, tapi saat kembali terkejut tidak menemukan Celine. Lalu Ia yang melihat anak itu digendong seseorang dengan pakaian serba tertutup, Reva pun mengejarnya dengan dibantu warga lain.
"Aku hampir ketabrak pas kejar Celine," lanjut Reva.
Reva melepaskan tangan Evan, "Enggak kok, syukurnya aku gak ketabrak dan baik-baik aja. Yang di depan itu Tante Intan, dia yang hampir nabrak aku dan bantuin aku kejar Celine."
"Namanya Intan?"
"Iya, yuk aku kenalin Kak."
Melihat Evan dan Reva yang sudah kembali, Intan pun tersenyum sambil beranjak dari duduknya. Sempat berkenalan dengan Evan, setelahnya kembali duduk untuk mengobrol lebih serius.
"Makasih ya sudah bantuin selamatin anak saya," ucap Evan pada wanita cantik yang sepertinya seusia dengannya.
"Sama-sama, saya juga tadi ikut panik sendiri dan khawatir. Tapi untungnya Celine cepat ditemuin dan dia gak kenapa-napa. Cuman tadi sempat nangis, mungkin dia ketakutan," sahut Intan.
"Iya saya juga kaget pas dengar Celine hampir diculik," gumam Evan. Tidak terbayang jika anaknya itu hilang, karena hanya Celine satu-satunya yang Ia punya.
"Maafin aku ya Kak," ucap Reva tidak enak, Ia terlalu ceroboh dan tidak menjaga Celine dengan baik.
"Ini bukan salah kamu, kejadian seperti ini memang tidak ada menduga." Evan tidak menyalahkan Reva, perempuan itu juga tidak mungkin membiarkan Celine karena selama ini selalu menjaga putrinya dengan baik.
__ADS_1
"Iya benar Reva, tadi juga kan kamu kelihatan panik ikut cari Celine," sahut Intan ikut membantu menjelaskan.
"Kak Evan tahu gak siapa penculik itu?"
"Belum, jadi siapa? Dia sudah di tangkap, kan?"
"Dia Nana," jawab Reva.
"Apa?"
"Nana mangan babysitter Celine."
"Hah?!" Evan sampai terpekik keras mendengar siapa penculik itu ternyata orang yang dikenal inya, "Kamu serius Reva?"
"Iya, aku juga kaget pas tahu dia yang hampir culik Celine. Aku tanya kenapa dia lakuin itu, dia kayanya dendam sama aku karena sudah buat dipecat dari kerjaannya jadi babysitter."
"Dendam kenapa? Bukannya dia memang tidak bekerja dengan baik ya?" Bahkan Evan pun mengerti, tapi Nana itu keras kepala dan tidak tahu diri.
"Gak tahu, namanya juga dendam. Aku cuman marah aja karena dia hampir celakain Celine. Kalau semisal marahnya ke aku, kenapa gak temuin aku aja?" Reva masih geram saat cekcok tadi dengan Nana, perempuan itu benar-benar tidak mau kalah darinya.
"Ya sudah, nanti saya akan temui Nana dan bicara dengan dia," ucap Evan. Sepertinya mantan babysitter nya itu harus bicara empat mata dengannya, memancing emosinya saja.
"Dia sudah di bawa ke kantor polisi, nanti Kakak akan kesana?" tanya Reva.
"Iya lah harus, kasusnya juga harus diurus. Saya takut kalau dia bebas, malah melakukan hal yang sama. Mencelakai kalian berdua." Walaupun Reva adalah orang asing, tapi Evan sudah menganggapnya keluarga sendiri.
"Iya benar saya setuju, kasusnya di lanjut saja dan dia harus dihukum," ucap Intan mendukung.
Memang Nana itu tidak tahu terima kasih sekali. Waktu kerja jadi babysitter saja tidak becus, tapi Evan dengan baik hati masih memberikan upah dan tidak melaporkannya pada polisi karena menelantarkan Celine. Tetapi sekarang malah bersikap kurang ajar dengan hampir menculiknya, memang sepertinya Nana itu ingin masuk penjara.
"Sepertinya saya harus pulang sekarang," ucap Intan melihat jam tangannya. Tidak terasa lumayan lama juga di sini, mengobrol dengan mereka.
"Oh iya Tante, saya anter sampai bawah ya?" Reva ikut berdiri untuk mengantarkan.
"Boleh."
Tidak lupa Intan juga berpamitan dengan Evan, setelahnya keluar dari apartemen untuk pulang. Sifatnya yang ramah dan mudah berbaur dengan orang asing itu, membuat Ingan jadi tidak canggung dan dalam waktu cepat pun bisa akrab.
__ADS_1