
Waktu terasa berjalan dengan cepat, kini usia kandungan Reva sudah menginjak enam bulan. Menjalaninya memang sangat tidak mudah, banyak sekali cobaannya. Tetapi Reva tidak sendirian, suport dari orang tua dan mertuanya selalu membuatnya tenang.
"Hai bumil, nih aku bawain sesuatu buat kamu," sapa Vanessa dengan riangnya. Perempuan itu pun duduk di sebelahnya
"Bawa apa?"
"Taraa!"
Reva tersenyum melihat kotak bekal dengan isi kue sus itu, "Kamu beli dimana? Aku udah cari ke mana-mana gak ada yang jual."
"Aku gak beli, buat sendiri," jawab Vanessa.
"Serius?"
"Iya, kemarin kamu bilang pengen banget makan kue sus. Terus kita kan sempat cari ke beberapa toko kue, tapi sudah habis. Makanya aku kemarin malam buat, khusus buat kamu," ujar Vanessa.
Mendengar itu membuat Reva tidak bisa menahan senyumannya, Ia pun berhambur memeluk temannya itu. Vanessa ini memang sangat baik dan perhatian sekali. Jika orang tuanya menjaganya di rumah, maka Vanessa ini yang selalu menjaganya saat di Kampus.
"Makasih ya Vanes, kamu baik banget sampai buatin untuk aku. Aku beli aja gimana?" tanya Reva, tidak enak juga kalau free karena bahan-bahannya pasti mahal.
"Ih gak usah, kaya ke siapa aja. Itu hadiah dari aku buat calon ponakan," celetuk Vanessa.
"Kamu ini selalu saja, sekali lagi makasih."
"Sama-sama, habisin ya kue nya."
"Iya pasti," ucap Reva.
Sebenarnya Reva ingin makannya itu kemarin, sekarang sudah tidak terlalu mau lagi karena mungkin saat itu sedang ngidam. Tetapi tidak mungkin juga Reva tolak, Vanessa sudah berusaha payah membuatkan untuknya jadi harus Ia hargai.
"Langitnya mendung, kayanya sebentar lagi mau hujan," ucap Vanessa melihat ke atas.
Reva pun ikut melihat langit, "Iya bener, sekarang kan sudah musim hujan."
"Sebentar lagi libur semester, akhirnya ya kita bisa santai dulu sebentar hehe."
"Iya bener, harus siap-siap semester depan yang pasti lebih padat jadwal belajarnya," sahut Reva.
__ADS_1
Melihat waktu yang sudah semakin sore, mereka pun memutuskan pulang. Kini Reva sudah tidak membawa mobilnya sendiri, Papanya menyuruh seorang supir untuk mengantar jemput dirinya kemana pun. Katanya bahaya kalau Ibu hamil menyetir.
Vanessa pun ikut nebeng pulang dengannya, setelah mengantar temannya itu langsung pulang menuju rumah Papanya. Di perjalanan hujan pun turun dengan lumayan deras, untung saja Reva sudah mau pulang. Sesampainya di rumah pun langsung masuk.
"Nona Reva gak hujan-hujanan, kan?" tanya pembantunya.
"Oh enggak kok bi, tolong buatin teh anget ya bi," pintanya.
"Iya nanti bibi buatin, terus anterin ke kamar?"
"Iya, aku juga mau mandi dulu."
Sepertinya saat hujan begini, makan kue sus dengan teh hangat pasti enak, lalu duduk bersantai di balkon kamarnya. Reva memutuskan mandi terlebih dahulu, badannya terasa lengket. Selesai mandi memakai baju tidur dan berdandan sedikit.
"Loh kue sus aku kemana?" tanya Reva bingung. Perempuan itu merasa tadi menyimpannya di meja, tapi anehnya menghilang.
Tok tok!
"Non ini teh nya," teriak bibi dari luar.
"Masuk aja bi."
"Ih kemana sih? Padahal lagi pengen makan kue sus," gerutu Reva sambil mengerucutkan bibirnya.
"Mau bibi buatin?" tawarnya.
"Tapi pasti lama, aku lagi pengennya sekarang. Gak usah deh bi, udah gak nafsu." Reva menggerutu sendiri, maklum saja Ibu hamil kan jadi sensitif.
Pembantunya itu pun menurut saja lalu keluar kamar, merasa tidak tega sebenarnya melihat Nona nya yang sedang hamil itu ngidam sesuatu. Reva lalu duduk sedikit kasar di sofa, lalu menyeruput teh nya sedikit.
"Ck kalau sama kue sus pasti lebih enak," gumam Reva masih kesal sendiri.
Menonton film kartun ternyata membuat Reva bosan juga, matanya pun perlahan terpejam merasakan kantuk. Di tengah kesadarannya yang hampir habis, Reva merasa ada seseorang yang menggendongnya memindahkan ke ranjang. Pintu balkon yang tadi sempat Ia buka pun ditutupnya.
Reva juga nerasakan tubuhnya di selimuti, bahkan keningnya di kecup dengan singkat oleh orang itu. Tetapi merasa terlalu mengantuk, membuat perempuan itu malah semakin nyaman dan terlelap. Entah berapa lama Reva tertidur, perempuan itu baru terbangun saat merasakan usapan di tangannya. Perlahan matanya pun terbuka.
"Mama?" tanya Reva dengan suara serak nya.
__ADS_1
"Hai, ayo bangun. Gak baik loh tidur magrib begini, nanti gak ngantuk lagi," tegur Intan.
Dengan dibantu Mama nya itu Reva pun duduk bersandar di ranjang, kesadarannya belum pulih sempurna karena tidur nyamannya itu diganggu. Saat melirik ke jam dinding ternyata sudah pukul enam sore, lumayan lama juga Ia tidur.
"Kamu sudah mandi?" tanya Intan.
"Sudah kok tadi sebelum tidur," jawab Reva.
"Ya sudah ayo turun, sebentar lagi kita makan malam," ajak Intan.
Saat teringat sesuatu, Reva menahan tangan Intan yang beranjak akan pergi, "Mah, apa tadi Mama yang pindahin aku ke ranjang?" tanyanya.
"Hah? Kapan?"
"Tadi sorean, aku kan sebelumnya ketiduran di sofa. Terus aku ngerasa ada yang gendong aku mindahin ke ranjang, dia juga bahkan nyium kening aku." Reva mengingat itu, walau tidak yakin apa itu mimpi atau kenyataan.
Bukannya menjawab, Intan malah tersenyum tipis yang seperti bermakna sesuatu. Wanita itu lalu melenggang keluar kamar begitu saja, meninggalkan Reva yang masih terdiam dengan seribu kebingungan nya.
"Apa aku mimpi ya?" tanya Reva seorang diri.
Tetapi seperti bukan mimpi, karena Reva merasakannya sendiri. Sayang sekali saat itu Reva terlalu mengantuk sampai untuk membuka mata melihat orangnya saja merasa berat. Reva menghela nafas berat lalu memutuskan ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya, tidak mau terlalu memikirkan lagi.
Reva pun turun ke lantai bawah untuk makan malam, sepertinya Papanya pun sudah pulang kerja. Tetapi saat masuk ke ruang makan, Reva malah tidak menemukan siapapun. Mungkin mereka belum kesini, jadi Reva memutuskan duduk dahulu sambil menunggunya.
"Bi, Papa udah pulang belum?" tanya Reva pada pembantunya yang kebetulan menyimpan buah-buahan di meja.
"Sudah kok Non dari tadi juga," jawab pembantunya.
"Kok belum kesini sih? Kan sudah waktunya jam makan malam."
"Non emangnya gak tahu? Nyonya dan Tuan kan makan di luar," sahut pembantunya.
Mendengar itu membuat Reva terkejut, "Loh kok aku gak diajak? Kenapa juga mereka gak bilang-bilang?" tanya Reva bingung. Bukankah tadi Intan juga katanya menunggu Ia di bawah?
"Non gak akan makan sendirian kok, tenang aja," ucap bibi.
"Terus sama siapa? Sama bibi?"
__ADS_1
"Bukan, tuh sama seseorang di sana."
Melihat pembantunya yang menunjuk ke arah ambang pintu, membuat Reva pun ikut melihat. Kedua matanya langsung terbelak melihat seseorang yang berdiri di sana sambil tersenyum lebar ke arahnya.