
"Emangnya temen gue cuman mereka doang?!" tanya Reva balik.
"Kayanya enggak, ya udah lah. Ayo pulang," ajak Rafael.
Keduanya berjalan bersama menuju parkiran, suasana sekolah sudah benar-benar sepi. Tetapi Reva yang lebih dulu pergi, baru saja Rafael akan masuk ke mobilnya perhatiannya teralih mendengar deru suara motor keras mendekatinya.
"Hai Rafael," sapa Lucas di atas motornya.
"Ada apa?" tanya Rafael merasa bingung, baru kali ini di sapa Lucas. Mereka tidak cukup dekat.
"Gak ada apa-apa sih, lihat Reva gak?"
"Kenapa tanya ke aku?"
Lucas terlihat menahan tawanya, "Iya juga ya, kenapa tanya ke lo? Kalian kan gak deket."
"Hm, mungkin dia udah pulang."
"Kirain tadi lo ketemu dia, soalnya Reva juga kan baru pulang. Tadi kita udah ngobrol lumayan lama, jadi baru pulang."
Jadi teman Reva itu Lucas? Rafael sedikit terkejut mengetahui ini, ada perasaan tidak enak juga di hatinya. Tetapi Rafael berusaha menyembunyikan ekspresi wajahnya dengan tetap tenang.
"Oh."
"Kayanya besok bakalan ada kabar menghebohkan," ucap Lucas ambigu.
"Hah kabar apa emangnya?"
"Ada deh, tunggu aja besok. Kayanya lo juga bakal kaget." Setelah mengatakan itu, Lucas pun melajukan motornya perti dengan kecepatan tinggi.
Rafael terdiam beberapa saat di tempatnya memikirkan perkataan Lucas tadi, kabar apa kira-kira yang sampai heboh? Rafael mengedikan bahunya tidak mau terlalu memikirkan, kalaupun tentang pelajaran Ia sih siap-siap saja. Rafael pun masuk ke mobilnya dan menjalankan pergi dari sana.
Sesampainya di apartemen Ia tidak menemukan Reva, mungkin saja di kamarnya. Rafael memutuskan ke kamarnya, bersiap untuk mandi. Kebetulan Reva pun baru keluar dari kamar mandi, tapi perempuan itu hanya menatapnya sekilas lalu masuk ke kamarnya.
"Dia itu kenapa sih? Aneh sekali," gumam Rafael.
Saat makan malam pun Reva diam dan fokus pada makanannya. Rafael sungguh tidak nyaman melihat sikap istrinya itu yang terasa aneh dari kemarin, Ia yakin sekali jika Reva sedang menyembunyikan sesuatu.
"Mau jalan-jalan?" tanya Rafael.
Reva mengangkat kepalanya, "Jalan-jalan kemana? Lagian ini sudah malam."
"Main ice skating yuk."
"Emangnya masih buka?"
__ADS_1
"Masih lah."
Reva melirik jam tangannya, masih jam tujuh dan belum terlalu malam juga, "Ya sudah, bentar siap-siap dulu."
Rafael tersenyum melihat Reva yang menyetujui ajakannya tanpa menolak, mungkin dengan menghabiskan waktu bersama bisa membuat perempuan itu lebih baik. Rafael pun berharap semoga Reva itu mau sedikit bercerita mengeluarkan keluh kesahnya.
Tempat bermain ice itu pada malam ini tidak terlalu ramai, tapi baguslah agar lebih bebas juga. Sebenarnya Rafael tidak terlalu bisa main, tapi untungnya Reva lebih pandai jadi mereka selalu berpegangan tangan.
"Emangnya pas kecil lo gak diajarin Bunda atau Ayah belajar ice skating apa?" tanya Reva.
"Enggak, kita jarang main ke tempat begini."
"Sampai udah gede aja gak bisa, gimana sih?"
"Ya kan ada Reva, minta di ajarin kamu aja deh."
"Dasar," dengus Reva namun tetap memegangi tangan Rafael.
Mereka lumayan lama berkeliling di sana bermain, sesekali tertawa saat Rafael yang hampir jatuh. Lalu saat benar-benar jatuh, tentu Reva pun ikut tertarik dan jatuh menimpa atas tubuh Rafael. Bukannya marah, tawa mereka malah semakin keras.
"Bodoh banget ih," gerutu Reva sambil memukul tangannya.
Rafael mengusap tangannya itu, "Makanya tariknya jangan cepet-cepet, kan aku takut."
"Santai dong, jangan gemeter gitu makanya jatuh. Kan udah sering juga main ice skating, masih belum biasa," omel.
"Udahan dulu yuk, dingin juga. Idung lo tuh mulai merah."
Rafael menyentuh hidungnya, "Iya sedikit berair juga, bisa-bisa aku filek lagi."
"Kita beli minuman hangat."
Mall tutup pukul sepuluh malam, jadi mereka terlihat santai sekali di sana. Keduanya duduk di dekat pembatas, bisa melihat ke bawah. Walaupun sudah malam, tapi Mall ini malah semakin ramai saja.
"Tuh kan ngelamun lagi," ucap Rafael.
Reva menoleh, "Enggak kok," bantah nya.
"Kamu ini kenapa sih Reva? Kalau ada masalah cerita dong, jangan di pendam sendiri."
Reva malah terdiam memikirkan lagi masalahnya yang rumit, Ia bimbang sampai sekarang apakah harus cerita pada Rafael atau tidak. Tetapi semua sudah terlambat, karena Reva pun sudah menerima Lucas sebagai pacarnya.
"Oh iya, tadi pas mau pulang aku ketemu Lucas di parkiran," ucap Rafael.
"Apa dia bilang sesuatu?"
__ADS_1
"Kamu kelihatan panik gitu."
"Enggak tuh, biasa aja."
"Dia bilang habis ngobrol berdua sama kamu di belakang sekolah. Jadi temen yang kamu maksud itu dia? Aku kira perempuan."
"Terus dia bilang apalagi?" tanya Reva penasaran. Hanya khawatir saja si Lucas itu cerita aneh-aneh.
"Dia cuma tanyain kamu katanya udah pulang atau belum, terus aku tanya balik lagi aja kenapa dia nanya ke aku."
Reva tertawa canggung, "Haha iya emang aneh dia itu," ucapnya. Padahal Rafael tidak tahu saja jika Lucas itu sudah tahu rahasia mereka.
"Terus dia juga bilang, katanya besok bakalan ada berita heboh. Pas aku tanya, dia malah minta denger besok aja. Kamu tahu kira-kira apa?"
Sialan, batin Reva.
Sudah pasti Lucas itu akan memberitahu semua siswa di sekolah kalau mereka sudah jadian, membuat Reva dilanda rasa panik saja. Bahkan Lucas terang-terangan memberitahu Rafael lebih dahulu, walaupun tidak langsung ke inti. Sikapnya itu kan bisa membuat Rafael semakin bingung.
"Enggak tahu," elak Reva.
"Apa tentang ujian sekolah?"
"Hm kayanya." Memang dasar Rafael itu polos sekali, batin Reva.
Setelah minuman dan makanan mereka habis, keduanya memutuskan pulang karena waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam juga. Besok sekolah, jangan sampai bangun kesiangan. Keduanya memang pergi dengan satu mobil, yaitu milik Rafael.
"Lo beneran filek?" tanya Reva. Dari tadi Rafael terus menarik ingusnya dan sesekali bersin.
"Kayanya, padahal kita main di sana juga gak lama ya."
"Lemah sih lo," ledek nya.
"Ck aku juga gak tahu bakalan filek gini, tapi semoga aja gak sampai demam."
Dengan memberanikan diri, Reva mengulurkan sebelah tangannya menyentuh kening Rafael. Terkejut karena ternyata suhu tubuhnya lumayan tinggi, Reva bisa merasakan panas di telapak tangannya itu.
"Lo kayanya beneran demam, gimana dong?"
Rafael ikut menyentuh keningnya, "Mungkin imun aku lagi turun, jadi pas dingin-dinginan di sana langsung ke serang."
"Sorry ya."
"Kenapa minta maaf?"
"Lo ajak gue ke sana cuma pengen hibur gue, kan?" Reva sadar Rafael sering memperhatikannya, mungkin saat melamun pun.
__ADS_1
"Soalnya aku gak suka Reva jadi pendiam gitu, apalagi suka ngelamun. Kaya lagi nyembunyiin masalah, tapi Reva sampai sekarang gak mau cerita."
Apakah Reva sudah membuat suaminya itu khawatir? Reva jadi merasa tidak enak.