Pasutri Gak Jelas

Pasutri Gak Jelas
Terpaksa Berjauhan Lagi


__ADS_3

Pagi-pagi sekali mereka sudah bangun, keberangkatan Rafael ke Amerika sekitar pukul delapanan, tapi mereka tentu harus lebih awal sampai di bandara. Bukan hanya Reva yang mengantar suaminya itu, tapi orang tuanya dan mertuanya.


"Sudah siap?" tanya Reva. Kali ini Ia yang bertugas menyetir.


"Siap," angguk Rafael.


Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang menuju bandara yang jaraknya lumayan jauh. Untuk beberapa saat keduanya saling terdiam. Rafael terus memperhatikan Reva yang sedang fokus menyetir, ada banyak yang ingin Ia ungkapkan tapi bibirnya seperti tertahan.


"Kok kamu kelihatan gak sedih aku mau pergi?" tanya Rafael.


"Kan nanti kamu juga bakal pulang lagi," jawab Reva.


"Iya tapi kan lama banget aku pulang lagi. Pas waktu pertama aku pergi juga, kamu kelihatan biasa." Padahal Rafael sedih karena mereka harus berpisah.


Reva terkekeh kecil, "Itu yang kamu lihat, padahal kenyataannya hati aku sedih karena kita harus pisah."


Sebenarnya Reva malu harus berterus terang begini, tapi Ia juga tidak mau membuat Rafael kepikiran sampai berpikir aneh-aneh. Kalau Reva menangis, Ia malah takut pria itu jadi terbabani nanti di sana. Reva harus bisa bersikap dewasa.


"Jadi kamu nangis?"


"Iya lah nangis, tapi gak mau di depan kamu," jawab Reva.


Rafael mendengar itu merasa terharu, Ia lalu mencondongkan tubuhnya lalu mengecup sekilas pipi istrinya itu. Rasanya senang sekali karena dirinya seperti di hargai, Rafael pikir Reva selalu acuh.


"Kenapa gak mau di depan aku? Mungkin aja kita bisa nangis bareng-bareng," celetuk Rafael.


"Hahaha lucu banget kalau misal nangis bareng-bareng, kaya anak kecil aja," ledek Reva.


"Tapi kan mumpung ada aku, jadi aku yang bakal nenangin kamu."


Reva lalu baru menatap Rafael, "Bukannya aku berhenti nangis, nanti malah makin menjadi karena gak mau pisah sama kamu," jelasnya.


"Jadi gitu ya yang kamu rasain," gumam Rafael.

__ADS_1


Entah mengapa perjalanan yang seharusnya jauh itu jadi seperti dekat, mereka pun sampai juga di bandara. Ternyata kedua orang tua mereka sudah datang lebih dahulu. Karena masih ada beberapa menit lagi untuk jam penerbangan, keluarga itu memutuskan bersantai dulu di sebuah Kafe kopi di sana.


"Rafael nanti kalau sudah sampai di sana jangan lupa kabari kami ya," ucap Bunda.


"Iya pasti aku akan langsung kabarin, tapi maaf kalau misal lupa, mungkin aku langsung istirahat karena capek," sahut Rafael.


Intan lalu menepuk bahu Rafael, "Semangat ya belajarnya, biar cepet lulus dan kalian gak LDR lagi," ucapnya.


Rafael dan Reva pun saling bertatapan, mereka lalu membalas senyuman dengan tipis. Tentu saja keduanya pun berharap waktu berjalan cepat, tapi berusaha menjalani saja dengan baik dan tidak banyak mengeluh.


"Wajah kalian kelihatan lelah, jangan bilang semalam bergadang ya?" tanya Bunda dengan senyuman menggoda.


"Hehe iya dong, harus puas-puasin sebelum LDR." Rafael terlihat tidak malu-malu lagi mengatakannya, lagi pula kan semuanya di sana sudah menikah.


Para orang tua pun tertawa kecil, berbeda dengan Reva yang menutup wajahnya merasa malu. Memang orang tua mereka hobi sekali menggoda pasutri muda ini. Tahu juga lagi kalau mereka tidak tidur semalaman.


Memang benar semalam Reva dan Rafael bermesraan. Saat merasa lelah istirahat sebentar, lalu dilanjutkan lagi. Reva pun merasa suaminya itu sangat bersemangat, bahkan tidak mau melepaskannya sedikit pun.


"Berarti nanti kamu di sana harus puasa dong," celetuk Ayah.


"Fokus belajar ya Rafael, jangan aneh-aneh pokoknya di sana," nasihat Bunda sambil mengusap bahu putranya itu.


Rafael mencebikan bibirnya, "Aneh-aneh gimana sih Bunda?" protesnya.


"Pokoknya kamu harus selalu inget aja kalau kamu sudah punya istri, jadi di sana jangan nakal!"


Mendengar Bunda nya langsung yang memperingati Rafael, membuat Reva tersenyum puas karena itu juga yang ingin Ia sampaikan pada suaminya itu. Tetapi Reva yakin Rafael tidak akan bersikap aneh-aneh, pria itu pasti selalu memegang janjinya.


Di tengah asik obrolan mereka, perhatian teralih mendengar suara pengumuman menggema dimana penerbangan ke Boston akan segera berangkat dan para penumpang di perintah untuk segera naik ke pesawat. Saat itu juga suasana menjadi mellow.


"Ekhem ayo Rafael, kami antar," dehem Harry membunuh keheningan, Ia tahu semuanya sedang sedih.


Semuanya pun beranjak keluar dari Kafe itu, mengantar Rafael. Sepanjang perjalanan pun pasangan muda itu terus saling bergenggaman tangan, erat dan tidak mau terpisah. Sesekali Rafael terus mengecupi punggung tangan Reva, rasanya berat sekali untuk berpisah.

__ADS_1


"Hati-hati ya Rafael, jaga diri kamu di sana," ucap Ayahnya lalu memeluknya. Bunda pun ikut mendekat dan saling berpelukan.


Mereka tentu tidak bisa berlama-lama berpamitan, karena pesawat akan segera pergi. Tidak lupa Rafael juga pamitan pada mertuanya, memeluk mereka beberapa saat. Dan terakhir Rafael pun mendekati Reva, berdiri di hadapannya.


"Sayang aku pergi ya," pamit Rafael.


"Iya sudah sana nanti ketinggalan pesawat."


"Gak akan peluk aku dulu?"


Reva tersenyum mendengar itu dan Ia pun memeluk Rafael. Senyumannya berubah menjadi tawa saat pria itu mengangkat tubuhnya dan berputar-putar. Setelah merasa cukup Rafael pun baru menurunkannya, terlihat nafas keduanya berderu kencang.


"Jaga diri kamu baik-baik di sini, aku sayang sama kamu." Sebenarnya banyak yang ingin Rafael katakan, tapi tenggorokannya serasa tercekat.


"Iya."


Sebelah alis Rafael terangkat, "Cuman itu? Gak mau balas sayang aku?"


Reva sempat melirik kedua orang tuanya, merasa malu karena mereka dari tadi memperhatikan. Rafael juga hobi sekali menggoda, tidak tahu tempat. Mungkin Rafael tidak malu, tapi kan Reva malu dan gugup. Tetapi tidak apalah toh ini detik-detik mereka berpisah.


"Iya aku juga sayang sama kamu," balas Reva dengan senyuman tertahan.


Rafael yang merasa gemas pun mengecupi kedua pipi perempuan itu bergantian, sampai menimbulkan suara khasnya juga. Sayang sekali mereka tidak berlama-lama, karena pengumuman terakhir terdengar.


"Sudah sana ih nanti beneran ketinggalan lagi," desak Reva sambil mendorong dada Rafael.


"Iya-iya, ya sudah aku berangkat sekarang."


Rafael pun melambaikan tangannya pada keluarganya, sambil menarik koper nya pria itu pun berjalan menjauh. Setelah Rafael tidak terlihat lagi, Reva pun menurunkan tangannya sambil menghela nafas berat.


"Sayang, mau pulang sekarang?" tanya Intan menghampiri anak tirinya itu. Serasa bisa merasakan saja bagaimana perasaan sedih putrinya ini yang harus berpisah dengan suaminya.


"Kayanya enggak Mah, aku mau ketemu temen dulu setelah ini," jawab Reva.

__ADS_1


"Ya sudah hati-hati ya, kalau gitu kita juga mau pulang."


Reva pun ikut pergi dan masuk ke mobilnya. Kepalanya lalu jatuh di setir mobil, bahunya pun terlihat terguncang menandakan jika perempuan itu sedang menangis.


__ADS_2