Pasutri Gak Jelas

Pasutri Gak Jelas
64 Berbohong


__ADS_3

Sepulang dari sekolah Rafael memutuskan pergi ke rumah orang tuanya. Mungkin saja kan Reva di sana kan? Hubungan istrinya itu dengan kedua orang tuanya kan sangat dekat, bahkan sudah seperti anak kandung saja. Saat membuka pintu utama Rafael tidak lupa mengucapkan salam, langsung disambut Bundanya dengan senyuman lebar.


"Rafael, kok gak bilang-bilang mau kesini," ucap Bunda sambil mengusap kepala putranya itu yang sedang menyalami tangannya.


"Iya Bunda, aku kesini cuman mau tanya aja. Apa Reva ada di sini?" tanya Rafael langsung ke inti.


"Hah gimana-gimana? Memangnya Reva gak ikut sama kamu?" Alisa terlihat masih belum mengerti.


"Enggak, dari kemarin dia menghilang."


"Apa? Cerita yang jelas dong Rafael!" Alisa tidak bisa menahan keterkejutan nya lagi mendengar itu.


Merasa tidak nyaman mengobrol di ambang pintu, Alisa pun menarik tangan putranya itu untuk duduk di sofa. Melihat wajah murung Rafael, membuatnya yakin jika perkataannya tadi tidak sedang main-main. Alisa pun dengan perhatiannya sambil membawakan segelas air putih.


"Sekarang jelaskan bagaimana Reva bisa menghilang?" desak Alisa yang sudah tidak sabaran mendengarnya.


"Sebelumnya aku dan Reva sempat ada masalah," ungkap Rafael, memilih menceritakan semuanya.


"Masalah apa? Kalian ribut?"


Rafael mengangguk, "Iya, dan kali ini lumayan berat."


"Tentang apa?"


Apakah Rafael harus menceritakan semuanya? Tetapi bukankah aib dari pasangan harus saling menutupi? Jika sampai Rafael cerita jika Reva berpacaran dengan laki-laki lain, Rafael khawatir hubungannya dengan istrinya itu semakin rumit atau kenapa-napa.


"Biasalah ada sedikit salah paham saja," jawab Rafael. Lalu Rafael pun melanjutkan jika dirinya sempat bilang untuk mengurusi hidup masing-masing pada Reva dan jangan saling ikut campur.


Plak!


"Aww Bunda sakit ih," ringis Rafael merasakan tepukan keras di pahanya.


"Kamu sih ngomongnya gak dijaga, ya iya lah pasti Reva sakit hati. Kalian itu kan suami istri, kok ngomongnya kaya ke orang asing gitu," omel Bundanya emosi.


Mau bagaimana lagi, Rafael kan terlanjur kecewa dan sakit hati. Melihat hubungan Reva dan Lucas yang semakin langgeng, membuat Rafael lelah jiga menontonya. Tetapi bodohnya lagi Rafael selalu tidak berdaya menghalangi, padahal Ia punya kendali besar dan bisa saja memisahkan mereka.

__ADS_1


"Terus apa sampai sekarang kamu sudah dapat kabar dari Reva?" tanya Alisa.


"Belum, dari kemarin dia juga sulit dihubungi. Kayanya ponselnya aktif, tapi dia gak mau angkat panggilan dari aku." Rafael terlihat murung saat menceritakannya.


"Kamu sudah telpon Papanya Reva? Mungkin saja Reva pulang."


"Sudah tadi siang, tapi kayanya Papa marah deh pas aku bilang Reva hilang. Dia bilang aku gak becus dan harus temuin Reva. Huft gimana nih Bun?" rengek Rafael frustasi sambil mengusap wajahnya kasar, terlihat ekspresi keputusasaan di wajah tampannya itu.


"Ya sudah, biar Bunda coba telepon ya?" bujuk Alisa, rasanya tidak tega melihat putranya yang mengeluh begitu.


"Iya boleh." Rafael pun memperhatikannya dalam diam.


Alisa mencoba menghubungi Reva, butuh beberapa detik sampai akhirnya panggilan di angkat juga. Rafael tersenyum bahagia, tapi Ia tetap diam karena ingin mendengar obrolan di antara dua wanita itu.


["Hallo Bunda, ada apa?"]


"Em tidak sayang, Bunda cuman mau ngabarin kalau malam ini gimana kalau ke rumah Bunda untuk makan malam? Bunda sudah masak banyak, syukuran kelulusan kalian." Alisa sempat melirik Rafael, semoga saja putranya itu mengerti dengan rencananya.


["Maaf Bunda, kayanya gak bisa."]


["Aku.. Aku lagi gak ada di Jakarta."]


"Maksudnya?" Bukan hanya Alisa yang bingung, tapi juga Rafael.


["Aku lagi di Surabaya, jenguk Oma yang sakit bareng Papa."]


Mendengar itu membuat Rafael menelan ludah kasar, tapi juga merasa lega begitu saja karena ternyata Reva baik-baik saja. Jadi perempuan itu pergi diam-diam ke Surabaya? Tetapi yang membuat Rafael bingung karena ternyata Reva pergi dengan Papanya, bukannya mertuanya itu memarahinya karena mengatakan Reva menghilang? Aneh sekali.


"Begitu ya, lalu apa Rafael ikut?" Alisa masih Berpura-pura berakting tidak tahu. Untung saja Rafael pun yang dari tadi di sampingnya hanya diam, jadi kemungkinan Reva tidak akan curiga.


["Enggak Bunda, tapi aku sudah minta izin kok."]


Rafael mendengus tanpa sadar mendengar itu, dipikirnya hebat sekali istrinya itu berbohong. Padahal di sini Rafael dari kemarin malam dibuat cemas karena Reva yang menghilang tanpa kabar, kenapa Reva melakukan ini? Apa karena sebal kepadanya?


"Ya sudah tidak papa, mungkin bisa lain kali. Semoga Oma cepat sembuh dan pulih ya, titip salam untuk semuanya di sana." Alisa terlihat pandai sekali mengontrol emosinya, padahal menantunya itu sudah berbohong kepadanya.

__ADS_1


["Iya Bunda, makasih. Nanti aku beliin oleh-oleh deh buat Bunda."]


"Haha iya sayang boleh, ditunggu ya." Setelah obrolan mereka berakhir, Alisa pun langsung mematikan panggilannya dan bertatapan dengan putranya. Untuk beberapa saat pun mereka saling terdiam dengan pikiran masing-masing.


"Dia bohong, aku bahkan gak tahu sama sekali dia pergi ke Surabaya," ucap Rafael sedikit ketus.


"Beneran kamu gak tahu? Apa Reva emang gak ngabarin?"


"Enggak, mungkin dia lagi ngambek makanya pergi gitu aja. Tapi semalam tuh aku ngerasa lihat mobil Papa di depan apartemen, mungkin aja jemput Reva ke Surabaya."


"Tapi kamu bilang Papanya Reva marah karena Reva hilang," sahut Alisa.


"Nah itu, aku juga bingung, sedangkan kan Reva lagi sama dia." Bahkan saat melihat isi chat dari Papa mertuanya itu, Rafael sempat dibuat takut karena merasa baru kali ini membuatnya marah, jadi Ia harus secepatnya menemukan Reva.


"Ya sudah jangan dipikirkan lagi, sekarang kan sudah tahu dimana Reva. Dia juga pasti baik-baik aja di rumah Omanya," ucap Alisa sambil mengelus punggung Rafael memberikan ketenangan.


Rafael mengangguk pelan, "Mungkin kalau tadi Bunda bilang aku lagi di sini, Reva bakalan langsung matiin teleponnya."


"Ya makanya Bunda gak bilang, biar dia cerita yang sebenarnya." Sebenarnya Alisa juga sedikit kecewa karena Reva berbohong padanya, tapi Ia mengerti jika menantunya itu pasti terpaksa karena tidak mau dirinya tahu permasalahan di antara anak-anaknya itu.


"Kalau gitu aku mau pulang," ucap Rafael sambil berdiri dari duduknya.


"Kok buru-buru? Gak bakal nginep di sini? Reva juga kan gak ada di apartemen."


"Kayanya malam ini aku bakal susul dia ke Surabaya." Rafael sudah memutuskan ini, rasanya gemas saja dengan tingkah nekad Reva.


Alisa terbelak mendengar itu, "Serius kamu mau susul Reva ke Surabaya? Tapi kan jauh."


"Gak papa, namanya juga perjuangan."


Alisa terkekeh kecil baru mengerti, "Kamu romantis juga, ya sudah deh sana pergi. Tapi hati-hati ya, jangan sampai kamu ngantuk pas di perjalanan."


"Iya Bunda, nanti kasih tahu Ayah ya."


"Iya."

__ADS_1


Rafael pun menyalami tangan Bundanya itu sebelum pergi dari rumah itu. Ia akan ber siap-siap dulu sebelum berangkat ke Surabaya dengan mobil pribadinya, itu berarti besok pun Ia akan izin tidak masuk sekolah. Tidak apalah, semua Ia lakukan demi Reva. Bukankah Rafael sangat serius orangnya?


__ADS_2