Pasutri Gak Jelas

Pasutri Gak Jelas
87 Mempersiapkan Pesta


__ADS_3

Di pukul tiga sorenya, pasangan suami istri itu baru berangkat untuk ke rumah Bunda ber siap-siap merayakan syukuran ulang tahun Ayah. Tetapi di perjalanan mereka singgah dahulu di Mall untuk membeli kado yang akan diberikan kepada Ayah, juga kue tart.


"Apa masih sakit?" tanya Rafael yang memperhatikan cara berjalan Reva masih pincang.


"Sudah gak terlalu sih, kalau tadi pagi beneran linu banget," jawab Reva sambil berusaha tersenyum. Padahal sebelumnya Ia selalu kuat, tapi untuk yang satu ini lumayan agak berbeda.


"Kalau misal masih sakit, kamu tunggu di mobil aja," suruh Rafael. Mau bagaimana pun, ini kesalahannya kan karena membuat Reva kini berjalan pincang?


"Enggak ah, gue kan pengen ikut nyari kado buat Ayah."


"Reva, boleh gak aku minta sesuatu," ucap Rafael tiba-tiba dengan nada suara seriusnya.


Reva meboleh, "Minta apa?" Jangan bilang pria itu mau minta yang aneh-aneh? Contohnya bermesraan di Mall, kan tidak lucu. Apakah pikirannya ini terlalu jauh?


"Kenapa kamu selalu manggil lo gue?"


"Hah? Ya emang biasanya juga gini."


"Hm tapi katanya untuk ke pasangan terkesan kurang sopan ya, gimana kalau mulai hari ini manggil aku itu kamu." Sebenarnya dari dulu juga Rafael tidak terlalu menyukai sebutan Reva itu, mereka kan pasangan, tapi sudah seperti ke orang asing saja.


"Kenapa?"


"Ya gak papa, mungkin kalau manggilnya aku kamu bisa kedengeran lebih romantis gitu?"


"Huh dasar lebay, jadi pengennya di panggil kamu gitu? Formal banget ih," dengus Reva setengah meledek.


"Kaya pas kita lagi sama keluarga aja, kamu kan sering manggilnya bukan gue lo." Rafael masih berusaha membujuk Reva.


"Hah iya-iya, diusahain deh." Reva menghela nafasnya pasrah saja akan perintah Rafael, malas juga mendebatkan hal tidak penting itu.


Mereka lalu masuk ke sebuah butik ternama dengan nama brand ternama, toko pakaian komplit khusus laki-laki. Rencananya mereka akan membeli jas untuk kado ke Ayah, keduanya pun memilihnya bersama agar lebih cepat dan selera bagus.


"Ayah kan gak suka warna cerah ya?" tanya Reva sambil melihat-lihat jas yang dipajang.


"Iya enggak, kaya aku aja," sahut Rafael.

__ADS_1


"Padahal yang warna biru muda ini bagus banget," celetuk Reva sambil mengusap jas itu, Ia langsung jatuh hati begitu saja.


Rafael pun mengambil alih, "Kalau Ayah yang pakai gak cocok, beda lagi kalau aku yang pakai."


"Hm kayanya boleh juga, coba pakai."


Rafael pun menurut saja dan memakainya, ukurannya juga ternyata pas. Melihat senyuman lebar di bibir Reva, membuat Rafael yakin jika sepertinya perempuan itu menyukainya. Rafael lalu berbalik untuk berkaca di sebuah cermin tidak jauh darinya. Ternyata cocok juga Ia pakai, warna cerahnya malah membuatnya semakin menarik.


"Ganteng juga," celetuk Reva berdiri di sebelah nya.


"Iya lah, aku kan emang ganteng," ucap Rafael penuh percaya diri.


"Gimana kalau jas itu buat kamu." Reva terlihat kikuk saat menyebutkan di akhir kata, belum terbiasa saja.


"Boleh deh, suka juga jasnya." Rafael lalu membukanya untuk melihat harganya, lumayan sih empat jutaan. Tetapi tidak apa deh, Ia beli saja karena ini pilihan Reva dan Ia juga menyukainya.


"Terus buat Ayah yang mana?" tanya Rafael, meringis merutuki kebodohannya karena malah sibuk membeli untuk diri sendiri.


"Gimana sama yang ini?" tanya Reva yang memang sudah mendapatkannya.


Rafael memperhatikan jas dengan warna coklat gelap itu, desainnya pun tidak ramai dan terlihat elegan. Untung saja ukuran tubuh Ayahnya pun ada, jadi keduanya memutuskan membeli yang itu. Setelah membayar dua jas itu, mereka keluar dari tempat itu dan selanjutnya mencari kue di lantai bawah.


"Iya, tunggu biar aku aja yang beliin." Reva meminta Rafael duduk saja, sedang dirinya menghampiri pelayan di toko kue itu dan menyebutkan keinginannya. Stok kue di sana pun lumayan banyak, jadi Reva tidak kesulitan mencarinya.


"Sudah?" tanya Rafael melihat istrinya itu yang kembali.


"Sudah, aku gak lupa minta mbaknya tulisan selamat untuk Ayah di kuenya."


"Iya bagus, ya udah yuk kita berangkat."


Reva melirik sekilas jam tangannya, "Iya bener, takut keburu sore juga." Reva kan sudah janji akan membantu mertuanya ber siap-siap untuk acara syukuran nanti malam, tidak enak kalau terlambat datang.


Kebetulan Ayah memang katanya akan pulang telat, jadi mereka ada waktu untuk ber siap-siap beres-beres menyiapkan kejutan. Sesampainya di rumah keduanya langsung masuk, terlihat Bunda yang sedang kerepotan menyiapkan ini itu bersama pembantu.


"Bunda maaf aku telat," ucap Reva tidak enak setelah menyalami tangannya.

__ADS_1


"Enggak telat kok, gak papa."


"Bunda lagi apa? Terus aku bantuin apa?" tanya Reva.


"Gimana kalau kamu sama Rafael tempelin hiasan-hiasan di dinding yang sudah Bunda beli?"


"Okey itu mah gampang, Bunda ternyata benar-benar sudah siapin semuanya ya."


"Hehe iya dari kemarin juga, semoga aja berjalan lancar."


"Tenang Bunda masih lama kok, pasti keburu. Ya sudah aku sama Rafael mau hias dindingnya dulu."


"Iya sayang makasih."


Reva menghampiri suaminya itu yang baru menyimpan barang-barang mereka di sebuah meja. Memberitahu kegiatan mereka selanjutnya, dan Rafael hanya mengangguk patuh saja mulai mempersiapkan. Kalau soal masalah mendekor itu keahlian mereka, selera anak muda kan selalu bagus.


"Nanti kalau aku ulang tahun bakal kamu siapin kaya gini juga gak?" tanya Rafael yang sedang mengisi balon dengan alat khusus.


"Kamu mau?"


"Mau lah, mungkin rasanya bakalan beda kalau dikasih kejutannya sama istri," celetuk Rafael mengkode.


Reva tertawa kecil, "Kaya anak kecil aja ih," ledek nya.


"Loh kalau aku dianggap anak kecil, Ayah apa dong? Bayi gitu?"


Tawa Reva semakin keras mendengar gurauan dari Rafael, membuatnya terhibur sendiri dengan tingkah nya. Mereka pun mendekor ruangan itu sambil mengobrol dengan asik terkadang di selingi tawa merasa terhibur akan sesuatu.


"Hati-hati," ucap Reva pada Rafael yang naik ke tangga untuk memasang pernak-pernik di dinding.


Rafael melihat Reva di bawah yang sedang memegangi tangga, "Kamu kelihatan khawatir, padahal tangga ini tingginya gak seberapa loh."


Memangnya salah? Reva kan hanya khawatir. Sikapnya ini apa berlebihan? Batin perempuan itu.


"Tenang aja sayang aku gak akan jatuh, kan ada kamu di bawah. Tapi kalau misal akun jatuh, kamu harus siap-siap ya soalnya kayanya aku bakal jatuhnya di atas kamu hehe." Rafael lagi-lagi bergurau mencairkan suasana.

__ADS_1


Reva berdecak lalu memukul pelan kaki Rafael, "Jangan suka aneh-aneh, yang bener masangnya," tegur nya.


"Iya-iya."


__ADS_2