
"Tunggu, apa?!" tanya Reva sambil meregangkan pelukan ingin mendengar lebih jelas.
Vanessa lalu menunjukan dua test pack nya, "Lihat ini nunjukin garis dua, itu berarti kamu hamil," ucapnya lantang.
Dengan tangan gemetar Reva pun membawa dua benda kecil itu, melihatnya lebih jelas. Sebenarnya Reva juga tahu hasil akhir garis dua itu berarti positif hamil, tapi Reva hanya merasa tidak menyangka karena ternyata dugaannya benar.
"Bagaimana bisa?" tanyanya pelan.
Vanessa malah terkekeh kecil mendengar itu, "Bisa lah Reva, kamu kan sudah menikah," jawabnya.
"Bukan itu, tapi.. Tapi aku dan Rafael selalu main aman kok." Benarkah?
Seingat Reva begitu, tapi Ia juga tidak bisa memastikannya dengan benar karena kejadian itu sudah lumayan lama. Reva merasa speechless sendiri jika benar di dalam perutnya ada bayi, sebelah tangannya terulur begitu saja menyentuh perutnya yang rata.
"Kenapa Reva? Kok kamu kelihatan bingung gitu?" tanya Vanessa khawatir sendiri. Bukankah seharusnya Reva senang?
"Aku bingung aja, karena aku rasa ini bukan waktu yang tepat," jawab Reva pelan.
Benar ini bukan waktu yang tepat, karena baik Ia maupun Rafael kan sedang fokus belajar. Apalagi suaminya itu berada jauh di negara orang, tidak akan bisa terus bersamanya. Sekarang Reva jadi bimbang sendiri, apa yang harus dilakukannya?
"Mending sekarang Reva pakai baju dulu," perintah Vanessa, perempuan itu masih memakai handuk.
"Iya aku pakai baju dulu."
Cukup lama bagi Reva untuk memakai baju, jiwanya seperti melayang sampai membuatnya tidak bisa fokus karena terus memikirkan jika dirinya sedang hamil sekarang. Saat keluar kamar, Vanessa memanggilnya untuk duduk di sofa, setelahnya memberikan segelas air hangat.
"Minum dulu," ucap Vanessa.
Reva menerimanya dan tidak lupa mengucapkan terima kasih, Ia pun minum perlahan dengan tatapan kosong. Vanessa yang memperhatikannya dari tadi dibuat khawatir sendiri, reaksi Reva sangat di luar prasangka nya.
"Kamu baik-baik aja Reva?" tanya Vanessa.
"Hah entahlah, aku masih bingung sekarang," desah Reva menghela nafasnya berat.
"Kamu akan kabari keluarga dan suami kamu, kan?"
"Aku gak tahu," geleng Reva.
__ADS_1
"Kenapa? Kamu harus kasih tahu mereka kabar bahagia ini, aku yakin semua orang akan senang tahu kalau kamu sekarang sedang hamil." Vanessa berusaha mendorong Reva karena yakin jika rencananya itu bagus.
Vanessa lalu mengusap punggungnya, "Reva jangan murung begini, jangan terlalu di pikirkan. Sebenarnya apa yang kamu khawatirkan hm? Cerita sama aku."
"Sebenarnya aku hanya merasa tidak siap saja hamil di waktu sekarang. Masalahnya Rafael ada di luar negeri, kita akan menjalani hubungan jarak jauh. Aku gak bisa hamil sendirian, katanya hamil itu tidak mudah dan banyak sekali cobaannya." Itulah yang menjadi beban pikiran Reva saat setelah dirinya tahu sedang berbadan dua.
"Aku sudah duga itu yang kamu khawatirkan. Tapi kamu tenang saja Reva, aku dan keluarga kamu pasti akan selalu ada di samping kamu," ucap Vanessa berusaha menenangkan.
Keduanya lalu berpelukan, itulah yang namanya teman, ada di saat membutuhkan. Dulu Reva yang selalu membantu Vanessa, jadi kini giliran Vanessa yang berada di samping Reva untuk menemaninya.
"Nanti aku akan kabari keluarga dan Rafael tentang ini," kata Reva setelah memikirkannya baik-baik.
Jika disembunyikan pun tidak akan enak, karena Reva akan menaggungnya sendirian. Benar kata Vanessa, Reva tidak akan sendirian karena kedua orang tuanya pun masih ada. Reva sudah bisa bayangkan bagaimana reaksi mereka nanti setelah tahu kabar ini.
Tadinya Reva sempat menawarkan akan mengantar pulang Vanessa, tapi temannya itu menolak karena tahu Reva sedang tidak enak badan. Jadinya Vanessa pun pulang dengan ojek online, perempuan itu memang selalu tidak mau merepotkan Reva.
"Hallo Pah."
["Ya ada apa sayang?"]
["Iya boleh, nanti Papa sama Mama akan kesana. Apa kamu yang masak?"]
"Sepertinya gitu."
["Tumben, memangnya ada apa?"]
"Ada sesuatu yang ingin aku beritahu," ucap Reva.
["Memangnya apa?"]
"Nanti saja saat kalian datang, aku juga akan undang Bunda dan Ayah untuk makan malam bersama."
["Sepertinya cukup penting, baiklah kami akan datang. Tapi kamu baik-baik saja kan Reva?"] tanya Papanya khawatir.
"Aku baik-baik saja kok, pokoknya kalian harus datang ya. Aku tunggu." Setelah mengatakan itu, Reva pun mematikan panggilan.
Selanjutnya Reva pun menghubungi mertuanya, Ia juga sama mengundang mereka makan malam bersama besok di apartemennya. Reaksi Bundanya juga sama seperti Papanya, juga penasaran hal apa yang ingin Ia beritahu.
__ADS_1
Untuk beberapa saat, Reva terdiam dengan perasaan berkecamuk nya. Apakah Ia beritahu Rafael sekarang? Tetapi entah kenapa, Reva gugup sekali. Reva lalu memilih memfoto dua test pack itu, setelahnya Ia kirimkan pada Rafael. Dan tidak butuh waktu lama, setelah Rafael melihatnya langsung menghubunginya.
["Reva, jelaskan apa itu tadi. Itu test pack, kan? Itu milik siapa?"] tanya Rafael tidak sabaran dari sebrang sana.
"Menurut kamu itu punya siapa?" tanya Reva balik.
["Aku gak tahu, apa itu punya kamu?"]
"Hm, bagaimana ini Rafael. Aku hamil."
["Apa? Jadi benar itu punya kamu?!]
Reva sampai menjauhkan ponselnya mendengar suara keras di sebrang sana, pasti sekarang Rafael syok sekali mendengar kabar itu. Tetapi di sana hening, membuat Reva bingung apa Rafael masih ada atau tidak.
"Hallo Rafael, kamu masih ada, kan?" tanya Reva memastikan.
["I-iya aku masih di sini, kamu serius hamil?"]
"Aku juga gak nyangka, pantesan aja beberapa hari ini aku sering mual dan mudah jijik. Tadi setelah pulang dari kampus aku mutusin beli test pack itu karena ngerasa curiga, aku juga telat datang bulan sudah dua minggu."
["Ya Tuhan, "] desis Rafael.
Reva tidak tahu pasti reaksi suaminya itu sekarang setelah tahu kabar ini, karena Reva tidak berada di sana dan melihatnya langsung. Tetapi dari lubuk hati, tentu Reva juga berharap reaksi Rafael itu baik-baik aja.
"Apa aku gugurin aja ya?" celetuknya asal.
["Jangan gila, kamu bicara aneh-aneh!"] bentak Rafael terkejut sendiri.
"Tapi aku rasa ini bukan waktu yang tepat, kamu juga pasti setuju. Kita sama-sama sedang sibuk dan saling berjauhan, aku ngerasa berat kalau harus jaga dia sendirian." Reva menghela nafasnya berat setelah mengungkapkan isi hatinya.
["Memang aku juga sama belum siap, tapi Tuhan paling tahu waktu yang tepat seseorang diberikan amanah besar seperti itu."]
Reva lalu terpikirkan sesuatu, "Terus apa reaksi kamu? Apa kamu senang tahu aku hamil atau kamu gak seneng?"
["Pertanyaan kamu ini konyol, tentu saja aku senang denger kabar kamu hamil. Selamat ya sayang, sebentar lagi kita akan menjadi orang tua."]
Sungguh reaksi Rafael di luar dugaan Reva, jadi pria itu senang? Tanpa bisa ditahan bibirnya pun melengkungkan senyuman. Beban berat di hatinya pun terasa langsung menguap begitu saja.
__ADS_1