
"Apa Bunda sama Ayah tahu kamu pulang hari ini?" tanya Reva penasaran, mungkin saja kan hanya dirinya dibohongi.
"Enggak, aku juga pengen ngejutin mereka," jawab Rafael.
"Jadi besok kita ke rumah mereka ya?"
"Iya," angguk Rafael. Pria itu lalu menghadapkan tubuhnya pada Reva, mereka sedang berbaring bersama di ranjang, "Kamu sering main ke rumah Bunda sama Papa gak?"
"Sering kok, setiap minggu pasti aku kesana dan nginep."
"Baguslah, terus kenapa gak terima tawaran Papa untuk pindah?"
"Dulu sih sempat mau, tapi aku pikir kalau tinggal sama Papa takutnya jadi manja dan bergantung ke dia terus. Kalau kaya gitu, kapan dewasanya, kan?"
Mendengar itu membuat Rafael tanpa sadar tersenyum sendiri, "Wah sekarang Reva jadi dewasa ya, apa aja yang udah aku lewatin selama ini?"
"Iyalah, masa gak berubah," sahut Reva ikut bangga sendiri. Apalagi semenjak ditinggal Rafael, Reva jadi lebih mandiri.
"Besok mau sarapan sama apa?" tanya Reva ikut menghadapkan tubuhnya, kini mereka saling berhadapan dengan posisi yang cukup dekat.
"Terserah, kenapa nawarin? Kamu mau pesen?" tanya Rafael balik.
"Enggak, aku yang masak."
"Pffft emangnya kamu bisa masak?"
Melihat suaminya yang malah menahan tawa seperti mengejeknya kembuat Reva sedikit tersinggung, Ia pun memukul dada pria itu, "Lihat aja nanti, kamu bakalan kaget sendiri pas nyoba masakan kamu."
"Oke bener ya kamu yang masak, kalau gitu besok aku pengen makan sama nasi goreng."
"Ah itu mah gampang, nanti aku buatin yang spesial, pokoknya bakalan enak."
"Oke." Rafael jadi tidak sabar, kalau dilihat dari ekspresi Reva sih seperti serius. Benarkah istrinya ini sekarang sudah bisa masak?
"Reva," panggil Rafael.
"Hm?"
"Yuk."
"Apa?"
"Begituan, aku kangen banget sama kamu."
Kedua mata Reva yang tadinya tertutup kembali terbuka. Saat melihat Rafael, terlihat dari sorot matanya yang penuh gairah itu. Sebenarnya Reva menyadari dari tadi, memang benar ternyata jika lekaki itu mudah sekali tegang.
__ADS_1
"Aku lagi datang bulan," ucap Reva sambil tersenyum ambigu.
"Hah serius? Yah sayang banget." Rafael mengerucutkan bibirnya merasa sedih sendiri, padahal Ia sedang turn on sekarang.
"Tapi bohong," lanjut Reva lalu tidak lama tertawa.
"Hei dasar, kamu jangan mainin aku dong," rengek Rafael, tapi tidak bisa menahan senangnya karena ternyata hanya bohong. Rafael lalu menarik Reva agar berbaring lebih dekat dengannya, "Jadi boleh ya?"
"Hm gimana yah?"
"Oh ayolah."
"Hahaha iya-iya, dasar."
"Asikk."
Rafael benar-benar tidak bisa menahan senangnya lagi saat mendapatkan izin itu, hatinya sampai berbunga-bunga. Malam itu Rafael bertindak cukup dominan dan sangat bersemangat, Reva pun terlihat pasrah saja Ia apa-apa kan. Tetapi tentu Rafael tetap berhati-hati karena khawatir menyakiti istrinya ini.
"Ayo berbalik," perintah Rafael.
"Tunggu sebentar, aku capek sekali," pinta Reva setengah memohon. Terlihat dadanya naik turun, peluh pun di sekujur tubuhnya. Badannya sampai bergetar merasa lelah, tapi juga nikmat di waktu bersamaan.
"Oke kita istirahat dulu kalau gitu." Rasanya Rafael pun jadi tidak tega melihat Reva yang terlihat kesalahan begitu. Rafael pun ikut berbaring di sebelah Reva.
"Penasaran apa?" tanya Rafael sambil menolehkan kepalanya.
"Terus kamu selama ini selalu nahan gitu? Bukannya nafsu laki-laki itu tinggi banget ya?"
"Kadang kalau sudah mupeng banget ya gak di tahan juga."
Kedua mata Reva langsung melotot mendengar itu, Ia pun repleks mencubit pinggang Rafael sampai membuat pria itu berteriak kesakitan, "Aduh-aduh Reva ih sakit, kenapa cubit aku sih?" tanya Rafael protes.
"Jadi kamu di sana sering nyewa wanita malam?"
"Hah, kamu ngomong apa sih?" Rafael jadi bingung sendiri.
"Ck katanya tadi kalau sudah mupeng selalu dikeluarin, jadi kamu pernah nyewa wanita malam?" Reva semakin menatap garang Rafael, "Dasar laki-laki kurang ajar, aku aduin Bunda sama Ayah ya."
Rafael jadi panik sendiri dituduh seperti itu, "Eh kok Reva ngomongnya gitu sih? Aku gak pernah nyewa wanita penghibur kok," belanya.
"Loh terus kamu gimana ngeluarin nya?" Apa mungkin Reva salah sangka?
"Ya sendiri aja, di kamar mandi."
"Jadi gak sampai nyewa wanita penghibur?" tanya Reva memastikan sekali lagi.
__ADS_1
"Enggak sayang, gak mungkin lah aku nyewa mereka. Aku gak berani dan emang gak mau kalau selain sama kamu," jawab Rafael meluruskan, pikiran Reva itu terlalu jauh.
Reva pun tanpa sadar menghela nafasnya lega, "Ih aku kira kamu sampai nyewa wanita begituan buat muasin kamu."
"Ck enggak lah, ada-ada aja kamu ini."
Reva mengerucutkan bibirnya merasa tuduhannya pun hanya perasaan takut dan khawatir saja, sepertinya semua perempuan pun mengkhawatirkan hal yang saja jika berjauhan dengan pasangannya. Apalagi kan di Amerika sangat bebas, Reva takutnya Rafael juga terbawa-bawa.
"Reva juga gak aneh-aneh kan selama aku di sana?" Kini giliran Rafael yang menginterogasi.
"Enggak, aku di sini benar-benar sibuk kuliah."
"Gak deket sama cowok lain, kan?"
"Cuman temen biasa, tapi sekarang temen aku kebanyakan sih cewek."
"Ya baguslah, tapi temen cewek kamu juga pada baik, kan?"
"Iya, baik-baik kok."
Rafael mengangguk merasa lega jika benar begitu, karena Ia hanya khawatir Reva terbawa arus pergaulan tidak baik. Rafael kan berada jauh di Amerika, jadi tidak akan bisa memperhatikan Reva terus. Tetapi jika mau lebih yakin, tentu Rafael harus bertemu dengan teman-teman Reva dahulu.
"Ayok lanjut, " ucap Rafael sambil menyengir kuda.
"Lanjut apa?"
"Ronde dua lah, kamu baru sekali aja udah nyerah gitu. Perasaan cuman diem aja, aku yang gerak," celetuk Rafael.
"Dasar, ya tetep aja capek lah."
"Capek ngedesah ya?" tanya Rafael frontal, membuat Reva malu sendiri. Memang Rafael ini hobi sekali menggodanya.
"Emangnya kamu gak capek?" tanya Reva balik.
"Enggak, malahan aku lagi semangat. Aku mungkin bisa tahan sampai lima ronde, tapi kalau sebanyak itu bisa-bisa kamu pingsan."
"Ah hentikan, dasar laki-laki cabul," jerit Reva yang terus diledek suaminya itu. Ia pun memukul-mukul Rafael, dan pria itu hanya berusaha menghalau sambil tertawa-tawa.
Malam itu mereka tidur cukup larut, ingin melepas rindu dengan asiknya dan penuh kebahagiaan. Keduanya tentu harus memanfaatkan waktu bersama dengan baik, karena tidak akan lama bersama seperti ini terus, akan kembali berjauhan.
"Aku tidur sekarang ya," ucap Reva dengan suara lemahnya. Tiga kali melakukannya membuat Reva tidak kuat sendiri, matanya berat sekali.
"Iya sayang, makasih ya. Sudah ayo tidur, besok gak akan aku bangunin."
Rafael dengan perhatiannya menyelimuti tubuh perempuan itu, lalu membawanya ke pelukan. Walaupun di balik selimut itu tidak memakai apapun, tapi tetap hangat karena kulit yang bertemu langsung.
__ADS_1