Pasutri Gak Jelas

Pasutri Gak Jelas
100 Tidak Memilih-milih


__ADS_3

Reva pun berdiri dari duduknya, "Nama gue Reva," ucapnya memperkenalkan diri, tapi ekspresi wajahnya tetap datar dengan senyuman tak ikhlas.


Kembali Reva melirik Vanessa, Ia merasa perempuan itu jadi pendiam dan tertekan saat sekumpulan empat orang perempuan ini datang. Vanessa seperti sedang tidak nyaman, Reva bisa melihatnya jelas di raut wajahnya itu. Reva jadi penasaran apa yang sebenarnya terjadi.


"Kenalin nama gue Ivana," ucap perempuan yang memakai bando itu sambil membalas jabatan Reva, "Kenapa berduaan sama Vanessa?"


"Kenapa bertanya seperti itu?" Batin Reva bingung.


"Kebetulan tadi pagi gak sengaja ketemu, terus ternyata teman sekelas, jadi deket," jawab Reva mencoba tidak curiga.


"Oh gitu, haha agak kaget aja sih ada yang mau jadi temen dia," celetuk Ivana.


Kernyitan terlihat di kening Reva, "Emangnya kenapa?"


"Gak papa kok, tapi kayanya Reva lebih cocok temenannya sama kita deh, dari pada sama Vanessa." Ivana bahkan sampai mengibaskan helaian rambutnya saat mengatakan itu.


"Gue temenan sama siapa aja sih," balas Reva.


"Ya sudah deh, nanti kita ketemu lagi ya Reva, soalnya gue ada kelas sebentar lagi," ucap Ivana setelah melihat jam tangannya.


"Hm." Reva hanya berdehem malas, nyatanya Ia tidak mau bertemu Ivana dengan teman-teman nya lagi. Mereka terlihat seperti sekumpulan cewek sombong dan banyak gaya, pasti suka centil juga pada laki-laki.


Setelah kepergian ke empat perempuan itu, Reva pun kembali duduk di kursinya lalu menatap Vanessa. Terlihat Vanessa yang seperti menghela nafas lega, ada beberapa bulir keringat juga di keningnya. Reva merasa perempuan itu tidak baik-baik saja, apa karena kedatangan mereka tadi?


"Kamu kenal sama mereka Vanessa?" tanya Reva kembali memulai obrolan.


"Iya, dulu kita juga satu SMA," jawab Vanessa.


"Oh pantesan aja, tapi kok mereka tadi bilang gitu ya sama kamu?"


"Bilang apa?"


"Yang tadi katanya ngerasa aneh karena kamu punya temen, emangnya dulu gak punya temen? Aneh banget, gak mungkin lah," bantah Reva sambil terkekeh kecil.


"Tapi aku dulu emang gak punya temen," cicit Vanessa pelan.


"Hah?" Reva tidak bisa mendengarnya dengan jelas, tapi Ia merasa yakin jika Vanessa tadi sempat mengatakan sesuatu.


"Hehe gak papa kok, mereka cuman bercanda aja," bantah Vanessa sambil berusaha tertawa.

__ADS_1


"Bercanda mereka gak terlalu lucu menurut aku, kaya sok kenal juga tadi." Reva merasa geli sendiri, melihat Ivana itu jadi mengingatkannya pada Dinda, musuh bubuyutannya di SMA dulu.


Karena jam pelajaran kedua akan segera dimulai, mereka pun segera menyelesaikan makan untuk kembali ke kelas. Di pukul satu siangnya akhirnya bisa pulang juga. Walaupun jam belajar saat di sekolah SMA dan Kampus berbeda, tapi tetap saja sama-sama melelahkan.


"Tadi kamu berangkat ke sini pakai apa?" tanya Reva. Mereka sedang berjalan menuju parkiran untuk pulang.


"Naik angkot," jawab Vanessa.


"Naik angkot? Serius?"


"Iya emangnya kenapa? Biasanya aku emang berangkat ke mana-mana suka naik angkot." Vanessa terlihat tidak malu saat menceritakannya.


Reva menggeleng pelan, "Gak papa kok." Reva tidak mau mengatakan apapun karena khawatir menyinggung perasaan Vanessa, hampir saja keceplosan bicara jika angkot itu sangat panas.


"Ya sudah, biar aku anterin kamu pulang," ucap Reva sambil tersenyum.


"Enggak papa Reva gak usah, aku bisa pulang naik angkot kok," tolak Vanessa cepat.


"Anggap aja ini sebagai permintaan maaf karena tadi pagi gak sengaja buat kamu jatuh. "


"Ya ampun Reva, tapi aku beneran udah maafin kamu kok." Vanessa terlihat tidak enak sendiri.


"Sebenarnya gak terlalu jauh sih, di Pondok Indah," jawab Vanessa.


Reva terdiam beberapa saat merasa bingung sendiri. Tadi Vanessa bilang selalu ke mana-mana naik angkot, tapi bukannya perumahan di sana itu untuk orang-orang kaya ya? Reva hanya tersenyum tidak mau menanyakan lebih, takut tidak sopan juga.


"Terus kalau misal naik angkot itu tongkatnya gimana?" tanya Reva penasaran.


"Biasanya di simpen di bawah aja."


"Oh gitu, tapi pasti agak kesusahan kan pas naik?"


"Iya, apalagi kalau lagi banyak penumpang di dalam angkotnya jadi sempit."


Reva tersenyum kecil mendengar itu, tidak bisa membayangkan sendiri karena Ia jarang naik angkutan umum. Sepertinya pernah, tapi hanya satu kali. Reva kan punya mobil sendiri, jadi tidak perlu repot-repot naik angkutan umum. Jangan salah paham, Reva tidak bermaksud sombong.


"Kalau Reva sendiri tinggal dimana?" tanya Vanessa. Mereka sedang di perjalanan menuju rumah Vanessa.


"Aku di apartemen sendirian." Kalau dulu sih berdua dengan Rafael, tapi kan sekarang pria itu kuliah di Amerika.

__ADS_1


"Wah keren, gimana rasanya tinggal di apartemen?" Vanessa kelihatan semangat saat menanyakan itu.


"Hm ya begitu aja, biasa aja sih." Menurut Reva lebih enak tinggal di rumah yang lebih besar, tapi kan sekarang Ia sudah menikah jadi berpisah tempat tinggal dengan orang tuanya.


"Kayanya Reva ini emang orang berada ya? Ivana tadi bener, kayanya Reva lebih cocok temanan sama dia," gumam Vanessa sambil tersenyum kecut.


Reva yang sedang menyetir pun menoleh, "Kok bilangnya gitu?"


"Gak papa kok, maaf ya."


Mobil Reva lalu berhenti di depan sebuah gerbang tinggi, dimana di dalamnya ada rumah besar bertingkat dua. Alamat yang Vanessa berikan sama, apa mungkin ini rumahnya? Reva semakin dibuat bingung saja.


"Makasih banyak ya Reva sudah anterin aku pulang, maaf kalau ngerepotin," ucap Vanessa tidak enak sambil membuka seatbelt nya.


"Kan aku yang nawarin sendiri, jadi santai aja dong." Reva lalu kembali melirik rumah itu, "Jadi ini rumah kamu?"


"Bukan, ini bukan rumah aku."


"Loh tapi alamat yang kamu kasih--"


"Iya memang sama, tapi ini bukan rumah aku. Sebenarnya aku tinggal di sini karena jadi pembantu, sama bibi aku," ungkap Vanessa.


Reva terdiam beberapa saat mendengar itu, "Oh gitu ya," ucapnya pelan. Reva tidak menyangka sendiri, Vanessa tidak terlihat orang biasa seperti itu.


"Reva kelihatan kaget gitu, maaf ya gak bilang dari awal. Apa Reva malu setelah tahu aku sebenarnya pembantu?"


"Hah? Enggak kok, kenapa juga aku malu. Santai aja, kita tetep temanan kok."


"Makasih ya Reva, aku seneng banget bisa ketemu orang sebaik Reva."


Saat dikatai seperti itu, membuat Reva terkesima sampai dadanya bergetar sendiri. Baru kali ini ada yang mengatakan dirinya orang baik, Reva jadi salah tingkah sendiri. Memang sih sikapnya dengan yang dulu dan sekarang jadi berbeda.


"Kayanya aku juga gak bisa ajak Reva main ke rumah, soalnya ini bukan rumah aku," ucap Vanessa tidak enak.


"Haha iya gak papa, nanti kamu aja deh yang main ke apartemen aku."


"Emangnya boleh?"


"Boleh lah, apalagi aku tinggal sendirian."

__ADS_1


__ADS_2