
Setelah Reva mengungkap semuanya, ruangan itu terasa hening. Berbeda dengan Reva yang merasa lega karena akhirnya semua perasaan yang dipukul nya selama ini sendirian akhirnya keluar juga, tapi yang Lucas rasakan malah sebaliknya. Rasanya malu sekali hanya untuk sekedar menatap kedua orang tuanya saja.
"Reva, kami sebagai orang tua Lucas ingin meminta maaf pada kamu," ucap Ivana dengan merendahkan hati, wanita itu mengakui kesalahan putranya dan merasa ikut andil.
"Saya juga minta maaf karena di awal kunjungan kesini malah membuat masalah, tapi sungguh saya hanya merasa tidak kuat lagi untuk menahan ini sendirian," sahut Reva pelan.
Dion kembali menatap Reva, "Apa Rafael juga tidak tahu ini?"
"Iya, dia tidak tahu alasan sebenarnya aku menerima Lucas. Yang dia tahu kalau aku dan Lucas benar pacaran dan kami saling mencintai." Reva tersenyum kecut, "Entah kenapa, aku merasa menjadi istri berdosa karena sudah mengkhianati dia."
Terdengar helaan nafas berat dari pasangan paruh baya itu, mereka jadi ikut malu sendiri dengan ulah putranya yang sudah mengganggu pernikahan orang lain. Tetapi sungguh mereka baru tahu ini, Lucas selama ini selalu menjadi anak yang baik dan tidak aneh-aneh.
"Tapi hubungan kamu dengan Rafael masih baik-baik saja, kan?" tanya Dion setengah cemas. Jangan sampai karena putranya itu, membuat pernikahan mereka jadi berantakan.
"Kami masih bersama, tapi tidak terlalu baik dan malah semakin buruk karena kesalahpahaman ini," jawab Reva lirih.
Dion lalu beralih menatap Lucas, tatapannya pun dengan cepat berubah menjadi tajam, "Kamu ini apa-apaan sih Lucas? Memalukan saja mengancam seorang perempuan!" omelnya.
Lucas menggigit pipi bagian dalamnya merasa gugup dimarahi seperti itu, "Tapi aku cinta Pah sama Reva, aku tulus suka sama dia," ucapnya membela diri. Lucas saja sampai tidak menyangka karena Reva berterus terang begini, Ia kira pertemuan ini akan berjalan lancar dan hubungannya dengan Reva semakin baik.
"Itu bukan cinta lagi Lucas, itu namanya obsesi. Kamu tahu ini salah, tapi kamu melakukan berbagai cara sampai nekad hanya untuk bersama Reva. Mungkin kamu bahagia bisa bersama dia, tapi tidak dengan Reva. Apa kamu pernah menanyakan perasaan dia saat bersama kamu?" tanya Ivana menohok membuat putranya itu terdiam.
Tatapan Lucas menyendu, "Tapi aku pikir seiring berjalannya waktu, mungkin Reva bisa membuka hati untuk aku." Lagi-lagi Lucas masih mencoba berpikir positif dan berharap. Tidak tahukah jika pria itu terlihat menyedihkan sekarang?
__ADS_1
"Tidak akan Lucas, karena Reva sudah menjadi milik orang lain. Yang dia cintai itu suaminya, pemilik sah dia. Kamu jangan bersikap begini Lucas, jangan memisahkan pasangan yang saling mencintai," tegur Mamanya masih dengan suara lembutnya.
Lucas malah tertawa kecil, "Tapi Reva tidak bahagia dengan Rafael, hubungan mereka itu tidak se harmonis yang kalian bayangkan."
"Itu menurut kamu Lucas," sela Reva tanpa menatapnya, "Kamu jangan sok tahu karena yang menjalani itu aku dan Rafael."
Lucas langsung terdiam merasa malu sendiri, tapi Ia merasa percaya dengan dugaannya itu. Hanya saja Lucas terdiam karena tidak tahu harus mengatakan apa.
"Mungkin karena kami masih muda, ego kami masih tinggi dan sama-sama tidak mau mengalah. Tapi aku merasa baik aku dan Rafael bisa menerima satu-sama lain sebagai pasangan, hanya saja kami tidak bisa berterus terang tentang perasaan masing-masing karena malu." Reva tanpa sadar tersenyum kecil, walau dadanya agak nyesek mengetahui fakta itu. Kenapa hubungannya dengan Rafael sulit sekali berdamai?
"Reva, kami sungguh minta maaf dengan sikap Lucas. Terimakasih sudah dengan lapang menceritakan ini, kami akan membicarakannya dengan Lucas. Mulai hari ini Om pastikan dia tidak akan mengganggu kamu lagi, jika dia tetap mengganggu kamu katakan saja pada Om ya?" Dion terlihat tulis sekali saat mengatakannya.
Reva mengangguk sambil tersenyum tipis, "Terima kasih Om dan Tante sudah percaya pada saya dan mau menerima ini."
"Tidak perlu berterima kasih Reva, memang sudah menjadi kewajiban orang tua untuk menegur anaknya jika salah. Kami malah merasa malu karena Lucas sudah memperlakukan kamu begitu, kami pastikan dia tidak seperti itu lagi pada kamu," sahut Ivana.
"Semoga hubungan kamu dan Rafael baik-baik saja ya, jika dia belum percaya pada kamu lagi, kamu bisa telepon Om untuk bicara dengan Rafael agar semakin meyakinkan dia."
Reva menggeleng, "Tidak perlu Om, saya bisa menyelesaikannya sendiri dengan Rafael." Bukankah jika ada masalah, harus bicarakan berdua?
Reva tidak menatap Lucas sedikit pun, perasaannya akan semakin campur aduk. Ia lalu berdiri dari duduknya untuk pamit pulang dari sana. Setelah keluar dari rumah itu, Reva langsung bernafas lega. Ia sempat meboleh ke belakang, tapi untungnya Lucas tidak mengejarnya. Reva terdiam beberapa saat karena memikirkan perasaan Lucas. Apakah pria itu tersakiti karenanya?
"Tapi yang dia lakukan juga salah, bukan begini caranya, karena dia malah membuat aku jadi membenci dia," gumam Reva setelah memikirkannya lagi.
__ADS_1
Reva memutuskan pulang dengan naik taxi, Ia ingin cepat sampai di apartemen untuk bertemu Rafael dan mengatakan yang sebenarnya. Sepanjang perjalanan pun Reva sudah menyiapkan kata-kata dengan detak jantung yang semakin cepat. Reva berharap semuanya lancar.
Ceklek!
"Rafael!" panggil Reva dengan suara keras, tapi ternyata pria itu sedang duduk di sofa sambil melihat tablet nya. Menyadari dirinya terlalu bersemangat, membuat Reva tersenyum geli sendiri.
"Baru pulang? Kirain gak bakal pulang." Itulah hal yang pertama Rafael katakan, dengan nada suara sinisnya.
"Em tadi aku ke rumah Lucas ketemu orang tuanya terus--"
"Habis minta restu mereka ya? Terus gimana tanggapan mereka? Pasti langsung setuju in hubungan kalian, kan?"
Reva menghela nafasnya, "Bisa gak jangan motong dulu, biarin gue jelasin dulu bentar," ucapnya gemas sendiri.
"Jelasin apa? Gak usahlah, aku juga gak mau denger," ketus Rafael. Pria itu beranjak dan seperti akan pergi, membuat Reva panik sendiri dan langsung menahan tangannya.
"Mau kemana?" tanya Reva.
"Terserah aku mau kemana, lagian bukan urusan kamu juga, kan?"
"Rafael, lo jangan gini dong." Pinta Reva memelas merasa lelah sendiri dengan sikap pria itu yang jadi semakin dingin. Reva sudah katakan waktu itu jika dirinya sangat tidak menyukai.
Rafael melepas tangannya, "Lagian selama ini juga aku gak suka ikut campur di antara hubungan kamu sama dia, kan?" Dia di sini sudah pasti Lucas. "Jadi jangan ikut campur hidup aku lagi."
__ADS_1
Tanpa bisa ditahan kedua mata Reva berkaca-kaca, merasa sedih saja melihat Rafael yang jadi dingin dan ketus begitu kepadanya. Sungguh Reva sangat merindukan sosoknya yang dulu, tapi Reva hanya bisa memendam sendiri karena tidak bisa meminta.
"Aku ada urusan di luar," ucap Rafael. Padahal tadinya tidak akan Ia beritahu, tapi saat melihat mata Reva yang seperti akan menangis membuatnya tidak tega sendiri. Tetapi Rafael tidak berusaha membujuk, Ia harus menahan dirinya untuk jangan terlalu luluh.