Pasutri Gak Jelas

Pasutri Gak Jelas
53 Berusaha Mengikhlaskan


__ADS_3

Saat Reva berbelok, perempuan itu terkejut merasakan tangannya ditarik dan masuk ke salah satu ruangan kosong. Baru saja Ia akan memarahi orang kurang ajar itu, tapi langsung terdiam menyadari jika itu adalah Rafael.


"Kirain cowok cabul," dengus Reva sambil mengatur nafasnya.


Rafael melipat kedua tangannya di dada, ekspresi wajahnya terlihat datar, "Jelaskan sekarang!" desaknya. Ia dari tadi sudah menahan rasa keingintahuan ini, dan sekarang saat menemukan Reva ingin mendengar penjelasannya langsung.


"Jelasin apa?" tanya Reva Pura-pura bodoh.


"Aku sudah dengar semuanya, jadi berita yang sedang heboh di sekolah itu kamu dan Lucas pacaran? Wah benar-benar mengejutkan ya." Nada suara Rafael terdengar ketus, bibirnya pun mencebik meledek.


"Itu em--"


"Apa?"


"Diam dulu dong, belum juga jelasin!"


"Aku akan diam, tapi beri aku alasan yang masuk akal." Rafael lalu duduk di sebuah kursi, menatap dalam Reva yang berdiri di depannya.


"Gue sama si Lucas emang jadian, beberapa hari lalu," ungkap Reva memilih jujur.


"Terus kenapa Reva gak bilang sama aku?"


"Mungkin lo juga gak akan peduli," ucap Reva pelan.


Kernyitan terlihat di kening Rafael, "Aku ini suami kamu loh, kamu kaya gak ngehargain aku."


"Maksudnya?!"


"Setidaknya Reva cerita sama aku, gak usah sembunyi-sembunyi begini karena buat aku tersinggung. Kenapa Reva gak bilang? Apa malu atau takut aku cemburu?" tanya Rafael serius.


"Terus gimana tanggapan lo? Apa gak papa kalau gue emang bener jadian sama Lucas?"


Rafael malah mengedikkan bahunya acuh, "Kenapa Reva pengen tahu tanggapan aku? Tadi aja Reva nuduh aku gak peduli."


"Ck jangan baperan dong, ayo jawab yang jujur."

__ADS_1


"Oke, sebenarnya aku cemburu," ucap Rafael blak-blakkan.


Reva mengedipkan matanya perlahan mendengar itu, "Serius?" tanyanya memastikan dengan jantung berdebar.


"Aku gak tahu pasti sih, tapi pas denger kabar itu hati aku sedikit sakit. Kayanya emang bener aku cemburu." Rafael terlihat tersenyum miris, merasa sedih saja dengan dirinya sendiri.


Reva berusaha menahan senyumannya karena terlalu bahagia mendengar itu, jadi ternyata si Rafael itu cemburu? Tetapi Reva berusaha menahan ekspresi wajahnya, tidak mau terlalu menunjukan karena malu sendiri. Anehnya Reva malah semakin ingin memanasi Rafael, ingin melihat seberapa besar perasaannya juga.


"Gue cuma ngerasa tersanjung aja lihat perjuangan si Lucas yang pantang menyerah gitu nungguin gue," ucap Reva sengaja memanasi.


"Tapi emangnya pas Reva mutusin nerima dia, Reva gak mikirin aku?" tanya Rafael penuh harap, di sini kan Ia sebagai suaminya.


"Lo juga yang waktu itu bilang gak papa, kan?"


Sebenarnya bukan mengizinkan juga, Rafael waktu itu hanya tidak mau terlalu mengekang juga karena khawatir Reva tidak menyukainya. Rafael berpikir, mungkin perempuan itu bisa mencari kebahagiaan dari orang lain. Tetapi setelah mendapatkannya, kenapa Rafael merasa tidak terima ya?


"Iya sih, tapi aku gak serius waktu itu," gumam Rafael pelan sampai tidak terdengar.


"Ekhem lo juga mungkin bisa jadian sama si Dinda, mungkin dia sekarang udah ada rasa sama lo." Rasanya Reva tidak ikhlas sekali saat mengatakan ini, takut seperti mendukung Rafael dan pria itu menyetujui seperti waktu itu.


"Aku udah gak ada perasaan apa-apa sama Dinda," ungkap Rafael jujur.


Tetapi Rafael hanya menggeleng karena alasannya bisa sampai tidak menyukai Dinda itu cukup panjang. Tetapi yang pasti karena Rafael baru sadar jika ternyata benar selama ini dirinya hanya dimanfaatkan, Ia juga merasa lelah terus mengejar. Biasanya laki-laki akan menyerah di saat sudah merasa lelah dan perjuangannya tidak dihargai juga.


"Bagus deh kalau misal lo gak suka lagi sama si Dinda, dia emang gak pantes buat lo," celetuk Reva senang sendiri, seperti do'a nya dikabulkan Tuhan agar si Rafael itu di sadarkan.


"Reva senang?" tanya Rafael ambigu.


"Seneng apa?"


"Pacaran dengan Lucas, gimana dia orangnya?"


Reva terdiam beberapa saat, "Seneng kok," bohongnya. Kenapa Reva harus melanjutkan kebohongannya ini ya? Tidak berterus terang yang sebenernya, mungkin Reva masih ingin melihat sedikit lagi kesungguhan Rafael.


"Biasanya kalau laki-laki yang lebih cinta emang bakalan baik sama pasangannya, semoga aja si Lucas itu bisa jagain kamu dan bahagiain kamu lebih dari pada aku."

__ADS_1


"Kenapa Rafael mengatakan itu? Memangnya Rafael tidak pernah membahagiakannya?" Batin Reva.


"Kalau Reva bahagia, aku akan dukung. Tenang aja, aku gak akan kasih tahu Ayah Bunda dan Papa, aku akan ikut rahasiain ini," lanjut Rafael sambil berusaha tersenyum.


"Kenapa?"


"Hm?"


"Kenapa lo bodoh banget mau dukung istri lo yang lagi selingkuh ini?"


"Karena mungkin Reva gak bahagia sama aku, jadi Reva bisa lebih bahagia sama Lucas." Percayalah saat Rafael mengatakan itu, hatinya semakin sakit.


Tanpa bisa ditahan kedua mata Reva berkaca-kaca mendengar suara Rafael yang terdengar tulus itu. Padahal tadi Reva hanya sedang mengujinya saja, tapi sekarang seperti terlihat orang jahat dan Rafael yang terlalu baik mengikhlaskan nya. Reva lalu mendekat dan tanpa diduga memeluk Rafael yang sedang duduk, membuat tubuhnya sedikit membungkuk.


"Reva?" tanya Rafael terkejut sendiri mendapatkan pelukan itu.


Reva memukul pelan punggung pria itu, "Dasar bodoh, jangan begitu!" omelnya sambil terisak. Reva jadi merasa tidak pantas mendapatkan lelaki sebaik itu.


Rafael tersenyum tipis menduga sesuatu. Ia lalu berdiri sambil tetap memeluk Reva, membuat pelukan mereka semakin erat dan merasa nyaman satu-sama lain. Reva pun tidak lama menangis nya, tapi merasa enggan saja melepaskan pelukan karena terlalu malu.


"Reva ngerasa bersalah ya sama aku?" tanya Rafael sambil mengusap belakang kepalanya.


"Hm, gue selingkuh sendirian," jawab Reva pelan.


"Gak papa kok Reva, aku baik-baik aja."


Tetapi yang Reva rasakan tidak begitu, "Sok kuat banget lo!" dengusnya kembali memukul punggung Rafael.


Rafael terkekeh kecil lalu meregangkan pelukan mereka, sekarang jadi bisa melihat jelas wajah Reva. Dengan perhatiannya Rafael menghapus bekas air mata di sekitar mata dan pipi itu, dari tadi bibirnya pun terus melengkungkan senyuman berusaha terlihat baik-baik saja.


"Sudah jangan nangis, kok Reva jadi cengeng sih?" tanya Rafael menggoda.


"Gara-gara lo."


"Kenapa jadi nyalahin aku?" Rafael kan jadi bingung sendiri, apa mungkin ada kata-katanya yang tidak enak?

__ADS_1


Reva membatin, sebenarnya Rafael tidak menyakitinya. Tetapi melihat pria itu yang berkata tulus dan mengikhlaskan, membuat dadanya bergetar. Bukan jawaban ini juga sebenarnya yang Reva harapkan, Reva inginnya Rafael menahan dan tidak membiarkannya dengan Lucas. Tetapi pria itu terlalu baik, dan hanya menginginkan dirinya bahagia. Tidak tahu kah Rafael itu kalau Reva lebih bahagia bersamanya?


"Maaf." Hanya itu yang bisa Reva katakan, Ia tidak bisa menjelaskan situasi yang sebenarnya karena memikirkan juga Rafael ke depannya.


__ADS_2