Pasutri Gak Jelas

Pasutri Gak Jelas
62 Terus Mencarinya


__ADS_3

Rafael tetap memutuskan berangkat sekolah walaupun hatinya sedang gundah karena Reva yang menghilang dan sulit dihubungi. Semoga saja perempuan itu sudah berangkat duluan, jadi sekarang Rafael akan mengeceknya ke kelas Reva. Melihat salah satu teman Reva yang Ia kenali, Rafael pun melambaikan tangannya meminta mendekat.


"Ada apa?" tanya Ica.


"Lihat Reva gak? Dia udah ke kelas, kan?"


Sebelah alis Ica terangkat, "Ngapain lo nanyain Reva? Ada urusan apa?"


"Ada urusan sedikit, jadi dia dimana?"


"Gak ada, dia belum datang," jawab Ica melirik sekilas bangku Reva yang kosong.


"Oh belum datang ya, ya udah deh." Rafael tidak lupa mengucapkan terima kasih lalu pergi dari sana. Ia masih berharap Reva berangkat sekolah walaupun belum datang, mungkin nanti saat jam istirahat akan Rafael cek lagi.


"Masih pagi kok udah cemberut?" tanya Dinda menghampiri bangkunya.


Rafael berusaha tersenyum, "Enggak kok," bantah nya.


"Bohong, kamu lagi ada masalah Rafael?" Dinda terlihat care sekali dengan menanyakan itu.


"Gak ada, aku baik-baik aja," bohong Rafael. Padahal nyatanya tidak, Ia terus memikirkan Reva dari semalam.


"Ya sudah tapi semoga bener ya kamu baik-baik aja, soalnya kalau lihat kamu ngelamun gitu aku jadi ikutan kepikiran juga."


Rafael hanya tersenyum tipis dan tidak terlalu menanggapi Dinda. Perempuan itu terlihat masih berusaha mendekatinya dengan bersikap baik dan perhatian, apa mungkin masih berharap perasaannya berbalas darinya? Dinda terlambat, karena Rafael sudah tidak tertarik lagi padanya.


Tidak banyak kelas dua belas yang datang ke sekolah, mungkin karena sudah bebas dan tidak akan belajar juga membuat banyak yang tidak datang. Rafael sendiri sedang memperbaiki nilai ke beberapa guru pelajaran, padahal nilainya sudah bagus-bagus saja. Rafael terlihat serius sekali karena untuk masa depannya.


"Ica," panggil Rafael lalu berlari kecil menghampiri perempuan yang memiliki rambut pendek itu.


"Ada apa?" tanya Ica, "Jangan-jangan mau nanyain Reva lagi?"


"Em iya, jadi hari ini dia sekolah gak?"


Bukannya menjawab, ekspresi Ica terlihat menatapnya curiga, "Lo kenapa kepo banget tentang Reva? Kalian kan gak sedekat itu," tanyanya.


"Kan tadi udah dijelasin ada urusan penting sama dia."


"Urusan apa?"

__ADS_1


Rafael mengibaskan tangannya di udara, "Gak perlu tahu, pokoknya ini urusan aku sama dia."


"Huh sombong lo!" dengus Ica. Padahal dulu Rafael ini selalu Ia dan dua temannya kerjai, tapi sekarang auranya sudah tidak seculun dulu lagi.


"Atau jangan-jangan lo suka ya sama dia?" tanya Ica sambil menunjuknya, "Inget ya, dia itu udah punya pacar."


"Apaan sih? Enggak kok. Oh iya, apa Lucas juga sekolah?" Rafael baru teringat pada pria itu, Lucas dan Reva kan memiliki keterkaitan jadi mungkin saja mereka terhubung.


"Enggak juga, di kelas cuman beberapa orang yang sekolah," jawab Ica.


Helaan nafas berat keluar lewat celah bibir Rafael, Ia sangat kesulitan mencari keberadaan Reva yang entah kemana, "Bisa gak kamu hubungin dia?" pintanya. Mungkin saja kalau sahabat dekatnya yang menghubungi, Reva akan mengangkat.


"Enggak ah," tolak Ica langsung.


"Kenapa? Cuman minta telepon dia sebentar, soalnya yang aku gak aktif."


Ica terdiam beberapa saat, "Gue sama Reva udah gak terlalu deket."


"Maksudnya? "


"Iya kita udah gak sedeket dulu lagi, malah mungkin udah gak temenan."


"Lo gak perlu tahu, ini masalah kita. Aduh udah ah, ganggu banget. Gue pergi, bye." Ica pun pergi begitu saja meninggalkan Rafael dengan sejuta pertanyaan dan kebingungan nya.


Rafael mendudukan tubuhnya di sebuah bangku yang ada di Koridor itu. Terdiam memikirkan perkataan Ica tadi, benarkah jika mereka sudah tidak berteman lagi? Tapi alasannya kenapa? Reva juga tidak cerita kepadanya. Rafael lupa, hubungannya dengan perempuan itu kan sedang buruk.


"Aku harus bagaimana lagi?" gumamnya frustasi sendiri.


***


Di lain tempat Reva dan Papanya sedang di rumah sakit menjenguk Omanya. Wanita paruh baya itu untungnya sudah siuman dan sadar, walau masih terbaring lemah di brankar rumah sakitnya. Semalam memang menginap di rumah karena terlalu larut sampai, jadi paginya baru ke rumah sakit.


"Cucu Oma sudah besar ya, makin cantik aja," puji Omanya sambil mengusap kepala Reva.


Reva tersenyum lalu menggenggam tangan keriputnya, "Sudah lama aku gak jenguk Oma, maaf ya?"


"Gak papa, kan jauh juga. Kamu juga sekolah. Oh iya, gimana ujiannya? Lancar?"


"Lancar kok, tinggal nunggu nilai terus udah gitu lulus."

__ADS_1


"Oma senang dengarnya, semoga lancar ya. Terus kamu mau lanjut kuliah dimana?"


"Gak akan jauh, Papa gak izinin."


"Kok Papa sih, kan sekarang yang paling bertanggung jawab ke kamu ya suami kamu. Dimana Rafael? Dia ikut, kan?" Omanya juga tentu tahu jika Reva sudah menikah di usianya yang masih muda. Dan Ia mendukung saja, apalagi permintaan dari almarhum menantunya.


"Dia gak ikut," jawab Reva sedikit acuh.


"Tapi kamu sudah minta izin kan sama dia bakalan jenguk Oma di sini?"


"Hm."


Tatapan Omanya memicing, "Reva, jangan bohong."


"Aku gak bohong," bantah Reva, Omanya itu memang pintar sekali membaca raut wajah. Tentu saja tahu, toh dulu seorang psycholog.


"Sayang, ada apa hm? Kenapa wajah kamu jadi murung begitu?" tanya Omanya khawatir.


Reva menghela nafasnya, memutuskan untuk sedikit mencurahkan isi hatinya pada Omanya itu, "Sebenarnya aku dan Rafael lagi ada masalah, dan aku gak ngasih tahu dia kalau aku pergi ke Surabaya."


"Ya ampun, sampai segitunya. Memangnya masalah apa?"


"Ada lah, aku gak bisa cerita sama Oma." Masa saja Reva menceritakan semuanya, yang ada nanti akan menimbulkan masalah lain yang semakin besar. Lagi pula masalahnya ini cukup rumit dan menjadi rahasianya saja.


"Pertengkaran di antara suami istri itu memang hal wajar, tapi jangan sampai berlebihan dan saling meninggikan ego. Oma malah gak nyangka kalian berantem, kirain selalu romantis karena seperti pacaran." Omanya sedikit tersenyum menggoda.


Reva ikut tersenyum, "Enggak kok Oma, kadang kita juga cekcok."


"Mungkin karena kalian masih muda dan labil, tapi gak pernah sampai melakukan kekerasan kan?"


Rasanya Reva ingin tertawa mendengar itu, Rafael tentu tidak pernah melakukan sampai kekerasan karena dirinya lah yang lebih sering melakukannya, "Enggak kok Oma, Rafael gak kaya gitu."


"Syukurlah, tapi Rafael memang terlihat anak baik-baik sih. Kamu bahagia sama dia?"


Ditanyai seperti itu membuat Reva terdiam bimbang karena tidak tahu harus menjawab apa, rasanya campur aduk sekali. Sebenarnya Reva bersyukur memiliki pasangan seperti Rafael, hanya saja hubungan di antara mereka masih rumit dan perlu menyelesaikannya dengan cara bicara berdua.


"Tapi dari pada kamu menghindar begini, lebih bagus selesaikan berdua dan bicara baik-baik. Kasihan Rafael, dia pasti sekarang khawatir banget nyariin kamu," nasihat Omanya.


"Benarkah Rafael sekarang sedang mencarinya?" Batin Reva.

__ADS_1


__ADS_2