
"Papa sudah rapih belum?" tanyanya memastikan lagi.
Reva tersenyum melihat Papanya yang sepertinya gugup dan ingin memberikan kesan yang baik pada perempuan yang disukainya itu. Sebenarnya Papanya sudah rapih dan tampan, dari tadi pun terus bertanya penampilan membuat Reva merasa geli sendiri.
"Sudah Papa, Papa nanyain itu ke tiga kalinya loh," ucap Reva gemas.
"Takut aja rambut Papa berantakan atau jasnya kotor."
"Enggak ih, Papa sudah ganteng. Rileks jangan gugup."
"Iya."
Saat Reva sedang asik dengan ponselnya, tepukan di bahunya membuat perhatiannya teralih. Papanya berdiri sambil memberitahu jika perempuan itu sudah datang, dan Reva pun menyimpan ponselnya lalu ikut berdiri. Awalnya Reva mencari sosok perempuan itu, tapi semakin perempuan itu dekat membuatnya terkejut sendiri.
"Maaf Pak Harry saya terlambat," ucapnya tidak enak.
"Tidak papa Intan, kami juga belum lama di sini." Dengan gentle nya Harry pun menarikkan kursi untuk perempuan itu, "Ayo silahkan duduk."
"Terima kasih."
Harry yang akan duduk merasa bingung melihat putrinya yang masih berdiri dengan bengong, saat Ia tarik tangannya Reva pun baru duduk, "Kamu kenapa?" tanyanya bingung sendiri.
"Ini Tante Intan itu, kan?"
Dan Intan pun baru sadar dengan perempuan muda itu, senyumannya langsung terukir, "Reva? Ya ampun, kita bertemu lagi."
"Loh kalian saling kenal?" tanya Harry.
Reva mengangguk, "Iya, Tante Intan waktu itu bantuin aku nyari Celine yang hampir diculik." Reva tidak menjelaskan lebih jika dirinya hampir di tabrak, toh saat itu kan Ia sendiri yang ceroboh.
"Pak Harry, apa Reva ini--"
"Iya Reva anak saya, syukurlah kalau kalian sudah saling kenal," sela Harry sambil tersenyum. Suasana yang sempat Ia kira akan canggung, malah tidak karena dua perempuan itu sudah saling kenal. Baguslah, Harry lega sendiri.
"Ya ampun, saya gak nyangka ternyata Reva ini putri Pak Harry." Ternyata manusia di pertemukan memang ada alasannya, Intan merasa terharu sendiri.
__ADS_1
"Ekhem jadi Tante Intan ini ya Pah yang sering Papa ceritain ke aku?" tanya Reva sedikit menggoda Papanya itu.
"Memangnya Papa kamu cerita apa tentang Tante?" tanya Intan ikut penasaran, sempat melirik Harry dengan senyuman manisnya.
"Papa selalu muji Tante, Tante ini katanya tipe Papa banget. Mungkin cuman Tante yang bisa buat Papa buka hati lagi dan tertarik mulai hubungan lagi."
"Benarkah? Terima kasih Pak Harry."
Harry tersenyum malu sambil mengusap tengkuknya, Ia jadi salah tingkah sendiri karena dua perempuan itu seperti sedang menggoda dengan membicarakannya. Tetapi Harry merasa senang karena Reva mengatakan hal baik tentangnya pada perempuan yang disukainya, seperti sedang mendukung hubungan mereka.
"Tante sama Papa sudah kenal lama, kan?" tanya Reva di sela makannya. Karena sudah kenal, mereka jadi mengobrol dengan santai dan asik sampai Harry pun tidak diajak.
"Iya sudah, bahkan lebih dulu dari bertemu dengan kamu," jawab Intan.
"Menurut Tante, Papa itu bagaimana?"
Intan terdiam beberapa saat, lalu melirik Harry yang duduk tepat di depannya, "Em Pak Harry baik dan perhatian, dia juga romantis."
"Oh ya?"
Reva tergelak sendiri lalu menatap Papanya dengan senyuman tertahan, mengakui Papanya itu cukup hebat juga pdkt dengan perempuan. Walaupun memang hadiah kecil, tapi setiap perempuan pasti suka saat diberikan kejutan manis seperti itu.
"Tapi kok Tante masih panggil Pak sih? Formal banget," tanya Reva bingung.
"Biasanya manggilnya Mas kok, cuman pas lagi berdua," sahut Papanya yang baru membuka suara, Intan yang mendengar itu jadi malu sendiri pada Reva.
"Oh gitu ya, kirain se formal itu hubungan kalian." Reva memaklumi karena usia mereka pun sudah tidak lagi muda.
"Sebentar ya Papa mau ke toilet dulu," izin Harry lalu beranjak pergi meninggalkan dua perempuan itu.
Setelah kepergian Harry, entah kenapa suasana di sana lebih rileks. Mungkin saat ini Reva pun bisa berbicara lebih serius dengan Tante Intan itu, tentang kelanjutan hubungannya dengan Papanya.
"Tante, aku mau tanya sesuatu," ucap Reva.
"Iya boleh, tanya aja." Intan menganggap serius, jadi wanita itu menghentikan sejenak makannya dan memfokuskan pandangan pada Reva.
__ADS_1
"Kalau semisal Papa tiba-tiba lamar Tante, apa Tante akan terima?" Karena Reva tahu, Papanya itu sudah sangat menyukai Intan dan pasti tidak ingin lama untuk mengajaknya ke arah yang serius.
"Diterima kok," jawab Intan tanpa ragu.
Reva tidak bisa menyembunyikan senyumammya lagi mendengar itu, "Tante serius? "
"Iya," angguk Intan, "Lagi pula, Papa kamu itu sangat baik dan selalu ada di samping Tante. Dia setia dan sabar nemenin Tante bangun dari kesedihan karena kehilangan suami dan anak Tante." Membayangkan perjuangan Harry yang pantang menyerah itu, membuat Intan tersenyum-senyum sendiri.
"Aku ikut senang dan akan dukung hubungan kalian," ucap Reva sambil menunjukan jempol tangannya.
"Kamu serius Reva? Kenapa?"
"Kenapa apanya?"
"Kenapa semudah ini kamu merestui hubungan Tante dengan Papa kamu? Biasanya bagi anak, sulit sekali menerima orang tua tiri."
"Ya karena aku yakin Tante memang orang yang baik dan penyayang, sepertinya Tante juga bisa jagain dan nemenin Papa," ucap Reva yakin. Contohnya waktu itu saja saat penculikan Celine, Intan yang paling khawatir, padahal bukan siapa-siapa.
Intan lalu membawa tangan Reva, "Terima kasih ya Reva sudah menerima saya untuk jadi calon Ibu kamu. Saya memang tidak akan pernah bisa menggantikan Mama kamu, tapi saya akan berusaha berperan seperti Mama pada umumnya."
Kata-kata itu sangat manis, membuat dada Reva bergetar sebentar. Ya semoga saja Intan dapat menjadi istri yang baik bagi Papanya, karena Reva lebih mementingkan kebahagiaan Papanya itu di banding dirinya. Reva kan sudah menikah, Ia juga punya suami yang harus Ia jaga dan bisa saling menjaga.
"Tapi jarak usia Tante sama Papa lumayan jauh, tidak papa?" tanya Reva memastikan.
"Tidak papa kok, hanya beda dua belas tahun saja, bukan masalah. Malahan di luar banyak yang jarak usianya lebih jauh dari kita, saya dan Mas Harry sudah sama-sama matang," ucap Intan sambil tersenyum.
"Benar juga," gumam Reva.
Tidak lama Harry pun sudah kembali dari toilet, cukup lama pria itu pergi, katanya sih tadi sempat ketemu dengan klien kerjanya yang kebetulan sedang makan di sana juga. Entahlah benar atau tidak, atau mungkin pria itu hanya memberikan waktu pada Reva dan Intan untuk lebih mengenal?
"Saya anterin kamu pulang ya?" tawar Harry, khawatir membiarkan kekasihnya itu pulang sendiri.
"Enggak usah Mas, kamu pulang saja dengan Reva. Lagian rumah aku gak terlalu jauh, lebih jauh kamu," tolak Intan pengertian, tidak manja sama sekali.
"Ya sudah, tapi hati-hati."
__ADS_1
"Iya kamu juga." Intan pun berpamitan dengan Harry dan Reva, setelahnya pulang lebih dahulu.