
"Celine sudah yuk berenangnya, nanti kamu kedinginan," ajak Reva. Mungkin hampir satu jam lamanya mereka berenang, tidak terasa langit pun sudah semakin senja.
"Papa sudah pulang belum Kak Reva?" tanya Celine.
"Kakak kurang tahu, tapi nanti anterin kamu dulu ya," jawab Reva.
"Iya."
Dan Rafael pun ikut mengantarkan Celine lebih dahulu ke apartemennya, kalau sudah bertiga seperti itu benar-benar jadi terlihat seperti keluarga kecil sungguhan. Celine terlihat imut karena tubuhnya di bungkus oleh bathrobes mini, handuk kecil pun menutupi rambutnya yang basah. Rafael yang bertugas menggendong Celine, sedangkan Reva membawakan pelampung bebeknya.
Tok tok!
"Permisi," teriak Reva dari luar. Tidak lama pintu pun terbuka dan terlihat Nana, perempuan itu sempat menatapnya tidak nyaman.
"Non Celine sudah berenangnya?" tanya Nana berusaha ramah.
"Sudah dong, seru berenang sama Kak Reva dan Kak Rafael," jawab Celine.
"Nona sudah mandi belum? Apa Celine sempat dimandikan?" tanya Nana.
"Belum, kami antarkan pulang biar dia mandi di apartemennya," jawab Reva dengan tatapan datarnya, "Tadi kenapa gak ke bawah?"
"Em maaf saya kan tadi selesai beresin mainan Non Celine." Ternyata alasan Nana masih sama.
Sebelah sudut bibir Reva terangkat, "Tapi Celine bilang dia gak main hari ini, kamu katanya marahin dia ya kalau ngeberantakin mainan?" Setelah mengatakan itu, suasana di sana pun menjadi canggung.
"Saya gak suka marahin Non Celine kok, mungkin dia salah paham, cuman saya tegur sedikit kalau semisal dia terlalu banyak ambil mainan nya." Nana terlihat panik saat menjawabnya.
"Oh ya? Tapi katanya anak kecil gak suka bohong," celetuk Reva. Sepertinya Nana itu jadi terintimidasi dengan tatapan tajamnya. Iyalah, Reva kan mantan pembully.
"Ekhem mbak Nana ini tolong Celine nya langsung dimandiin ya? Kasihan dia takut kedinginan." Rafael mengalihkan obrolan karena merasa suasana ini sangat tidak nyaman.
Nana pun mengangguk lalu mengambil alih menggendong Celine, "Iya, terima kasih sudah ajak Non Celine berenang," ucapnya.
"Gak papa kok," ucap Rafael sambil berusaha tersenyum.
Pasangan itu pamit kepada Celine, lalu baru berbalik untuk pergi ke unit apartemen sendiri. Baru saja masuk ke dalam lift, Rafael sudah mengeluarkan uneg-unegnya, "Kamu kenapa tadi nanya begitu ke babysitter Celine?" tanyanya.
Reva menoleh sebentar, "Soalnya Celine bilang babysitter nya itu emang suka bohong, terus dia juga ngasih alasan yang beda dari jawaban Celine. Aku ngerasa pembantu itu ada yang aneh," ujarnya.
__ADS_1
"Aneh gimana?"
"Kayanya dia kerja gak ikhlas deh, aku jadi takut Celine kenapa-napa kalau dijagain nya sama pembantu kaya gitu."
Rafael lalu merangkul bahu istrinya itu, "Kenapa kamu nge khawatirin orang lain sampai kaya gini?"
"Gak tahu, mungkin karena Celine lucu jadi aku juga suka dan perhatian sama dia."
"Atau kamu emang beneran mau punya anak ya?" goda Rafael.
Bug!
Reva menyikut perut Rafael sampai pria itu pun menjauh dan meringis pelan. Salah sendiri nakal sudah menggodanya, bahkan kurang ajarnya lagi menjilat telinganya membuat Reva kegelian. Saat pintu lift terbuka, Reva pun melenggang keluar begitu saja diikuti Rafael yang berjalan tergopoh di belakangnya.
"Dasar istri tukang kdrt!" ucap Rafael menggeram, tidak berbohong perutnya jadi linu sendiri.
"Ya maaf, tadi kan kaget pas ngerasain jilatan di telinga." Reva beralasan sambil tersenyum polos tanpa merasa bersalah sedikit pun.
"Andalan kamu itu selalu aja nyikut perut aku, kan sakit," keluh Rafael setengah merengek.
"Jangan lebay deh, kok cowok lemah sih?" ledek Reva, "Apalagi suka nge gym, ups lupa, kan kamu gak punya sixpack ya jadi perutnya lemah hehe."
Menyadari Reva yang sepertinya sebentar lagi akan mandi, membuat Rafael buru-buru ke kamarnya sendiri membawa handuk. Ia lalu masuk ke kamar mandi dan sembunyi di balik pintu. Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Reva pun masuk juga ke dalam. Saat perempuan itu menutup pintu, Rafael pun langsung mengejutkannya.
"Hei!"
"Kyaa!" Reva menjerit keras terkejut melihat Rafael berada di balik pintu. Melihat pria itu yang malah tertawa, membuatnya kesal dan memukuli tubuhnya.
"Dasar, kirain hantu," kesal Reva.
"Hehe maaf, yang ini hantunya ganteng." Rafael terlihat narsis sekali dan percaya diri.
Reva melipat kedua tangannya di dada, "Aku duluan yang mandi, kamu keluar," usir nya.
"Kan aku duluan yang masuk," ucap Rafael tidak mau kalah.
"Gak kasihan sama istrinya yang udah kedinginan gini?" Reva menunjukan wajah memelas nya membujuk Rafael, semoga saja luluh.
"Tapi kamu mandinya suka lama, kalau cowok kan gak lama." Rafael menarik sebelah sudut bibirnya melihat wajah Reva menjadi masam setelah Ia mengatakan itu.
__ADS_1
"Enggak-enggak, pokoknya aku dulu ah."
"Ya sudah, gimana kalau kita mandi bareng aja?" tawar Rafael sambil menaik turunkan alisnya.
"Apa?" Tiba-tiba Reva jadi lemot mendengar itu.
"Kan gak ada yang mau ngalah nih, jadi mandi bareng aja." Sebenarnya Rafael memang sengaja tidak mengalah, karena merencanakan hal ini.
Perasaan panik pun perlahan hinggap di dada Reva, "Ya sudah deh, kamu duluan aja mandinya. Aku tunggu di luar," tolak nya beusaha menghindar. Tetapi saat Reva akan membuka pintu, Rafael malah menguncinya dan menahan tangannya.
"Datang bulan kamu sudah habis belum?" tanya Rafael dengan nada seriusnya.
"Itu--"
"Kamu tahu sendiri kalau hormon cowok itu tinggi, jadi aku pengen kamu sekarang. Bolehkan?"
Detak jantung Reva seperti berhenti beberapa detik saat mendengar itu, Ia dilanda rasa panik yang menjalar sampai seluruh tubuh dan membuatnya gugup. Rafael satu langkah semakin mendekatinya, lalu pria itu merangkum wajahnya membuat mereka saling bertatapan. Reva merasa tatapan Rafael terlihat sayu, seperti sedang menahan sesuatu.
"Bolehkan Reva?" tanya Rafael mengulang.
"Dimana?" tanya Reva balik. Tunggu, jadi dirinya akan memberikan izin?
"Aku pengen coba di sini." Orang lain mungkin bilang Rafael ini sangat polos, tapi tanpa mereka ketahui pria itu memiliki beberapa fantasi tentang hubungan seksual. Seperti contohnya melakukannya di kamar mandi.
"Hah? Di sini?" tanya Reva mengulang.
"Iya, bolehkan?"
"Tapi gimana caranya?"
"Reva tenang aja, serahin ke aku." Saat mengatakan itu, Rafael terlihat pro sekali.
Saat tangan Rafael akan membuka ikatan handuk di dadanya, repleks Reva malah menahannya, "Kenapa sayang? Jangan malu," bujuk Rafael.
Reva menundukan kepala sambil menggigit bibir, tentu saja Ia sangat malu sekarang karena tubuh polosnya akan kembali dilihat Rafael. Memang pria itu suaminya dan berhak, tapi Reva hanya belum terbiasa dan suasananya seperti saat awal-awal lagi.
"Reva," panggil Rafael membujuk.
Akhirnya Reva pun tidak menahan handuknya lagi, membuat Rafael pun dapat membukanya dan melihat tubuh polosnya. Setelah itu Reva pasrahkan saja semuanya kepada Rafael, mengikuti semua alur permainan panas yang Rafael lakukan. Seperti saat pertama, Reva pun masih terlihat gugup dan kaku.
__ADS_1