Pasutri Gak Jelas

Pasutri Gak Jelas
Ekstra Chapters 5


__ADS_3

Brak!


"Astaga!" pekik Rafael terkejut saat pintu kamar terbuka dengan kasar dari luar.


Melihat jika itu adalah perbuatan istrinya membuat Rafael menghembuskan nafasnya kasar, "Sayang pelan-pelan dong kalau buka pintu, gak aku kunci juga kok," tegur nya.


Tetapi melihat ekspresi wajah garang Reva, dengan tatapan tajam menghunus nya membuat Rafael bingung. Tiba-tiba perasaannya pun tidak enak. Rafael yang tadinya berbaring beranjak berdiriĀ  menghampiri istrinya itu.


"Siapa Melati?" tanya Reva langsung.


"Hah?"


"Sudahlah gak usah pura-pura gak tahu gitu, apa Melati itu selingkuhan kamu?" tuduh Reva.


Kedua mata Rafael terbelak, "Kok kamu nuduh aku begitu?" tanyanya.


"Ya sudah jelasin siapa Melati?" tuntut Reva tidak sabaran.


Rafael terdiam beberapa saat, bukan sedang mencari alasan tapi sedang memikirkan satu nama itu yang disebut oleh istrinya. Apa jangan-jangan Melati yang tadi ditemuinya di tempat wisata? Kalau begitu, dari mana Reva tahu?


"Kenapa diam aja? Mau nyari alasan apa buat bohongin aku?" tanya Reva sinis. Melihat suaminya itu terdiam begitu, membuat emosi Reva semakin naik.


Rafael lalu dua langkah mendekat, saat Ia akan memegang kedua tangan Reva, perempuan itu malah menyentak nya kasar. Tetapi Rafael tidak menyerah, pria itu pun kembali membawa tangan Reva dan menarik tubuhnya menjadi dekat dengannya.


"Sayang jangan emosi dulu dong," rayunya.


"Ck gimana aku gak emosi? Katanya selama di sana kamu berduaan terus sama si Melati. Kalian juga ngobrol kan, ngobrolin apa?"


"Kamu pasti tahu dari Rosalind ya?" tanya Rafael yang bisa langsung menebak nya.


"Iya," angguk Reva, "Dia katanya pengen cepet pulang soalnya gak suka lihat kamu berduaan sama si Melati."


Rafael malah tersenyum tipis, sama sekali tidak terlihat panik ditanyai seperti itu. Untuk mengobrol lebih enak Rafael pun menarik tangan Reva untuk duduk di sofa, pria itu bahkan dengan perhatiannya menyimpan bantal sofa di belakang punggung Reva agar duduk dengan nyaman.

__ADS_1


"Aku gak kenal siapa Melati," ujar Rafael.


"Halah bohong, masa gak kenal sih!" ketus Reva tidak percaya.


"Beneran aku gak kenal, dia tiba-tiba deketin aku di sana dan ngajak ngobrol. Aku yang ngerasa biasa aja ya nimpalin obrolin dia," jawab Rafael masih berusaha meyakinkan.


"Emangnya kalian ngobrolin apa?" tanya Reva penasaran.


Dengan perasaan sedikit gugup Rafael pun mulai menceritakan apa saja seingat nya yang di obrolkan dengan Melati. Ia juga bilang kalau perempuan itu lah yang selalu memulai obrolan, sedang Rafael hanya menjawab tanpa berniat membuat topik agar obrolan lebih panjang.


"Ck harusnya tadi aku ikut aja," gerutu Reva kesal. Mungkin kalau ikut Rafael tidak akan didekati perempuan itu.


Rafael lalu menunjukan sebuah nomor di ponselnya, "Nih dia chat aku, minta aku save back nomernya," laporan ya.


Reva pun segera merebut ponsel suaminya itu lalu menghapus cepat nomor si Melati itu. Sok kecentilan sekali pikirnya, biasanya tipe perempuan seperti ini pasti wanita penggoda suami orang lain agar bisa jadi sugar baby nya.


"Kamu gak hapalin nomor dia, kan?" tanya Reva agak sinis.


"Ya enggak lah, ngapain juga aku hapalin nomor dia." Rafael lalu mencolek dagu Reva, "Lagian aku gak tertarik sama dia, aku udah punya istri yang cantik begini di rumah."


"Lain kali kalau ada cewek gatel gitu kamu jangan timpalin dong, mereka kan pasti nyarinya spek kaya kamu. Masih muda, ganteng terus kaya lagi," kata Reva memperingati.


"Iya sayang, aku akan usahakan. Kamu sendiri tahu gimana sifat aku yang gak enakan ini, jadi semua orang selalu ramah," sahut Rafael.


Kedua mata mereka pun saling bertemu, dengan perlahan Rafael mendekatkan wajahnya dengan tatapan dalam ke bibir kemerahan itu. Tetapi baru saja sebentar lagi mengecup, pintu terbuka dengan kasar dari luar.


Keduanya pun langsung menoleh ke ambang pintu. Terlihat di sana Rosalind yang berkacak pinggang dengan bibir manyun nya melihat ke arah kedua orang tuanya. Dengan kaki kecilnya anak kecil itu pun berlari menghampiri.


"Ih Mama sama Papa lagi ngapain?" tanya Rosalind sensi.


"Menurut kamu?" tanya Reva.


Rosalind lalu naik ke atas pangkuan Rafael dengan susah payah, lalu segera memeluk leher Papanya itu dengan erat. Ekspresi wajahnya yang garang itu di mata mereka malah terlihat menggemaskan. Rosalind selalu cemburu jika Mama dan Papanya sedang bermesraan.

__ADS_1


"Gak boleh, nanti aku punya adik lagi," ucap Rosalind sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Kan sebentar lagi juga kamu emang mau punya adik," ujar Reva.


"Tapi kalau Mama sama Papa terus mesra-mesraan, bisa-bisa adik aku makin banyak. Aku gak mau punya banyak adik, di sini yang jadi ratu cuman aku," celoteh nya.


Reva dan Rafael dibuat terkekeh kecil mendengar itu. Tidak bisa bayangkan bagaimana Rosalind nanti saat adiknya lahir, apakah akan menjaganya dengan baik atau tidak dan malah di usili. Ya semoga saja Rosalind menjadi Kakak yang penyayang.


"Jadi kamu gak senang bakal punya adik?" tanya Rafael sambil mengusapi kepala anaknya.


"Enggak," jawab Rosalind.


"Kenapa? Kan kalau ada adik nanti gak main sendirian," sahut Reva.


Rosalind kembali mengerucutkan bibirnya, "Nanti kalau ada adik, Papa sama Mama gak akan sayang lagi kan sama aku?" tanyanya sedih.


Pasangan itu tentu dibuat tersentak mendengar pertanyaan seperti itu, sekarang mereka tahu ke khawatiran Rosalind. Anak itu memang selalu mencari perhatian kedua orang tuanya, ingin selalu menjadi yang pertama dan satu-satunya.


"Kata siapa? Papa sama Mama bakalan tetep sayang kok sama kamu," ucap Rafael.


"Iya bener, mau sama kamu ataupun adik, kasih sayang kita sama," angguk Reva.


"Beneran ya?" tanya Rosalind.


"Iya," jawab orang tuanya bersamaan.


Untuk menghibur putri mereka yang sedang sedih ini, keduanya memutuskan jalan-jalan ke taman kota. Cuaca sore itu lumayan cerah dan sejuk, seperti alam saja mendukung kepada semua untuk menikmati ciptaannya. Di taman pun setiap sore selalu ramai, tapi itulah yang membuat senangnya.


"Papa aku main ayunan, Papa dorongin aku ya?" bujuk Rosalind.


"Iya sayang, yuk."


Tetapi sebelum pergi, Rafael meminta izin pada Reva dan setelah istrinya itu mengangguk mereka pun langsung pergi. Kebetulan posisi bangku yang diduduki Reva tidak terlalu jauh, masih bisa melihat ke arah keluarga kecilnya itu.

__ADS_1


Tatapan Reva terlihat lembut menatap dua orang yang disayanginya itu. Reva tidak menyangka sekarang hidupnya terasa lengkap dan bahagia, padahal dulu sempat meragukan dan banyak sekali masalah yang terjadi. Tuhan memang sudah menakdirkan, dan manusia hanya bisa menerima dengan ikhlas.


TAMAT


__ADS_2