Pasutri Gak Jelas

Pasutri Gak Jelas
15 Ribut Dengan Ibu-ibu


__ADS_3

Hari sabtu ini, Reva dan Rafael akan berkunjung ke rumah kedua orang tua Rafael. Nanti mereka akan menginap sehari, mumpung besok juga hari libur. Biasanya berkunjung ke sana setiap minggu, kalau tidak pasti akan dimarahi.


"Beli apa buat dibawa ke Bunda sama Ayah?" tanya Reva.


Rafael yang sedang menyetir menoleh sekilas, "Gak papa lah gak usah bawa apa-apa."


"Jangan dong, masa gak bawa apa-apa."


"Ya sudah, terserah Reva mau beli apa aja."


"Kalau buah-buahan pasti Bunda juga sering beli, beli kue aja gimana?"


"Iya terserah."


"Ck dari tadi terserah mulu, kaya cewek lo!" ketus Reva mulai emosi.


Rafael menghela nafasnya, "Kan yang mau beli juga Reva, aku cuma nganter."


"Tapi jangan terserah dong, kasih masukan kek."


"Iya-iya, sudah beli kue kering aja."


"Ya sudah, cari tokonya. Kalau bisa yang terkenal, biar enak."


Tadinya Rafael tidak akan ikut, tapi Reva paksa dan akhirnya mengalah juga. Ternyata suasana toko sore itu lumayan ramai, dan kebanyakan yang beli pun Ibu-Ibu.


"Bunda suka kue yang gimana?" tanya Reva.


"Kalau Bunda setiap Lebaran pasti nyetok kue keju dan nastar, kayanya suka kue yang begitu."


"Oh ya sudah, beli itu aja."


Rafael lalu akan pergi mencari kue lain yang lebih menarik, katanya ingin membeli juga untuk kerabat, memang baik sekali. Walaupun keranjang Reva sudah ada lumayan banyak kue, tapi rasanya belum cukup untuk dibawa ke rumah mertuanya.


Brug!


"Aduh neng, kalau jalan hati-hati dong!" tegur seorang Ibu-Ibu bertubuh gempal. Terlihat banyak emas di kedua tangannya, gayanya sangat rempong sekali.


"Apaan sih? Ibu tuh belok gak lihat-lihat, jadinya nabrak saya," ucap Reva merasa tidak bersalah.


"Loh kok jadi nyalahin saya sih? Kamu lah yang salah, malah nyalahin orang tua lagi."

__ADS_1


"Kalau salah ya salah aja Bu, mau anak kecil sampai orang tua juga bisa salah."


Ibu itu langsung memegang dadanya, "Kamu ya, gak sopan banget sama orang tua. Anak zaman sekarang memang berani banget, durhaka."


"Ibu bukan Mama kandung saya, jadi saya gak akan durhaka."


"Apa?!"


Keributan itu tentu menjadi pusat perhatian banyak pengunjung di sana, mereka sampai menghentikan sejenak acara belanjanya demi menonton. Terdengar banyak para Ibu-Ibu yang berbisik, membicarakan perempuan muda itu yang terlihat berani dan tidak sopan pada yang lebih tua.


"Reva, ada apa ini?" tanya Rafael yang baru kembali. Terkejut karena banyak yang mengelilingi.


Perhatian Ibu itu teralih pada Rafael, "Kamu pacarnya cewek ini ya?"


"Hah? Em itu--"


"Aduh kamu ganteng, kelihatan polos dan baik lagi. Mending putusin aja cewek ini, dia gak sopan sama orang tua."


Kedua mata Reva terbelak, "Apaan sih? Gak usah ngatur-ngarur!"


"Tuh kan denger sendiri? Walaupun cantik, tapi nilainya kurang karena sifatnya sombong. Kalau kamu pacaran sama anak saya, saya gak bakalan restuin sih."


"Idih siapa juga yang mau pacaran sama anak Ibu?" balas Reva tidak kalah sinis.


"Kamu tuh apa-apa an sih Reva? Malu-malu in aja!"


"Bukan gue yang salah, Ibu itu yang nabrak duluan dan malah nyalahin gue. Ya gue gak terima lah, apalagi dia ngehina-hina gue," bela Reva.


"Tapi sikap kamu yang berani begitu malah jadi nilai minus Reva, gak enak dilihat orang lain. Niat kamu yang ingin membeli diri, terkesan kasar dan tidak sopan."


"Tapi--"


"Kamu itu, bisa gak lebih sabar kalau hadapin sesuatu? Jangan mudah emosi, sedikit-sedikit pasti emosi. Kalau sama aku gak papa, tapi kalau sama orang lain jangan. Bikin malu, tahu gak?!"


Tubuh Reva sedikit tersentak mendengar itu, tatapannya pun menjadi getir. Walaupun nada suara Rafael tetap stabil, tapi yang terdengar oleh Reva tetap menyakitkan. Memang hanya ingin menasehati nya, tapi Reva merasa tidak terima karena ini bukanlah salahnya sepenuhnya.


"Em Reva, aku--"


"Buruan berangkat, nanti keburu sore," sanggah Reva cepat. Perempuan itu berbalik dan masuk lebih dulu ke mobil.


Setelah ditinggalkan istrinya itu, Rafael menghembuskan nafasnya berat. Rasa bersalah mulai hinggap di dadanya, apakah tadi dirinya terlalu keras? Tetapi Rafael hanya ingin menasehati saja, semoga Reva tidak memasukan ke dalam hati dan bisa mengerti.

__ADS_1


"Kamu mau ke suatu tempat dulu mungkin?" tanya Rafael yang mulai menjalankan lagi mobilnya.


"Gak."


"Kita cari toko kue lain ya? Nanti kita pilih kue bareng-bareng lagi."


"Gak mau, lo aja sendiri!"


"Ya sudah, gak usah," desah Rafael mengalah.


Sepanjang perjalanan menuju rumah kedua orang tuanya, tidak ada lagi obrolan. Sesekali Rafael menoleh melihat Reva di sebelahnya. Ia tidak bisa melihat jelas wajahnya karena perempuan itu terus menatap keluar kaca, ditambah memakai jaket dengan penutupnya.


"Aku hampir lupa, nanti hari senin aku ada lomba di sekolah lain." Tidak ada tanggapan, tapi Rafael tetap melanjutkan cerita, "Aku berangkat pagi-pagi, jadi nanti kalau semisal gak lihat pas pagi senin berarti aku sudah berangkat ya."


Hanya deheman pelan yang terkesan acuh yang Rafael dapatkan, tapi tidak apa, itu berarti Reva tetap mendengarkan dengan baik. Ia tidak tahu apa perempuan itu masih marah atau tidak, tapi Rafael tetap merasa bersalah.


"Kok berhenti?" tanya Reva pelan.


Saat kepalanya menoleh sudah tidak menemukan Rafael, pria itu turun dan menyebrangi jalan masuk ke salah satu toko yang di depannya banyak hiasan bunga. Sebelah alis Reva terangkat, kemana pria itu?


Tidak lama Rafael kembali, tapi di tangannya membawa buket bunga mawar berukuran sedang. Reva mencoba bersikap biasa dan tidak peduli, padahal di dalam hati detak jantungnya sudah tidak karuan.


Bunga itu untuknya, kan? Batinnya penuh harap.


"Nih untuk kamu, tadi tukang bunganya bilang. Katanya kalau pasangannya lagi marah, mungkin dengan bunga mawar yang berarti permintaan maaf ini bisa membuat luluh," ucap Rafael sambil menyodorkan nya.


"Ck apaan sih lo? Alay banget tahu gak?!" ketus Reva berusaha menahan senyumannya.


"Maafin aku tadi, aku gak maksud marahin atau buat kamu malu. Aku cuma pengen kamu bisa menahan diri dan bersikap lebih dewasa."


"Hm."


"Aku percaya kok bukan Reva yang salah, Ibu-Ibu tadi yang salah."


"Beneran? Bukan lagi ngebujuk nih?"


"Enggak, beneran percaya ke Reva."


Reva pun menerima buket bunga itu dengan bibir menahan senyumannya dari tadi. Pasti wajahnya sekarang sudah merah sempurna, merasa salah tingkat. Tetapi untung saja Reva memakai jaket dengan penutupnya, jadi Rafael tidak akan melihatnya yang sedang bahagia ini.


"Makasih," ucap Reva pelan.

__ADS_1


"Sudah ya, Reva jangan marah lagi."


__ADS_2