
Sekarang pasangan suami istri itu sedang di perjalanan menuju rumah orang tua mereka. Anehnya Reva merasa suaminya jadi pendiam, bahkan dari saat berangkat pun tidak membuka suara sedikit pun.
"Tadi itu siapa?" tanya Rafael. Memendam sendirian terus rasanya tidak enak juga.
"Masa kamu sudah lupa lagi? Anak perempuan itu kan Celine," ujar Reva. Apa mungkin efek terlalu lama di luar negeri?
"Iya aku masih ingat kok kalau sama Celine, apa dia lagi digendong sama Papanya?"
"Iya, kalian baru pertama kali ketemu ya?"
Rafael menganggukan kepalanya sekarang sudah paham, jadi itu Papanya Celine. Terlihat tampan dan gagah, apalagi dengan setelan jas begitu. Entah kenapa Rafael merasa khawatir akan sesuatu, pria itu pun memutuskan menanyakannya saja.
"Apa kamu masih sering main sama Celine?" tanyanya.
"Masih kok, aku bantu jagain kalau misal Kak Evan kerja," jawab Reva.
"Apa kamu juga sering ke apartemen Celine?"
"Iya."
"Berarti di sana berduaan dong sama Papanya Celine," celetuk Rafael.
Reva yang mendengar nada suara pria itu jadi ketus menoleh, "Enggak berduaan juga, kan sama Celine," ucapnya meluruskan.
"Tetep aja, dia kan cuman anak kecil."
"Kamu kenapa sih?"
Rafael menghembuskan nafasnya kasar, "Aku gak tahu apa aja yang kamu lakuin selama aku di sana, tapi aku khawatir hubungan kamu sama Kak Evan itu di luar batas."
"Maksudnya?!" Reva jadi merasa tersinggung dengan tuduhan itu.
"Siapa yang tahu, katanya seringnya seseorang bersama itu bisa buat nyaman," celetuk Rafael.
Reva menatap tidak percaya suaminya itu, "Ck kamu nuduh aku selingkuh gitu?"
__ADS_1
"Kalau kamu ngerasa, tapi kalau enggak ya biasa aja."
"Enak aja, aku gak selingkuh!" bantah Reva. Perempuan itu melipat kedua tangannya sambil menyender dengan kasar.
Untuk beberapa saat di sana pun hening, kedua orang itu sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri. Padahal tadi baik-baik saja, tapi saat Rafael menuduh begitu jadi cekcok dan saling mendiami. Tetapi sikap Rafael itu sebenarnya wajar, Rafael tidak salahkan karena terlalu khawatir?
"Aku dan Kak Evan itu udah kaya adik kakak, kamu jangan terlalu berpikir jauh," ujar Reva menjelaskan lagi.
"Mana ada, kalian gak punya ikatan darah," dengus Rafael yang belum terbujuk.
"Ya bisa aja lah, kita deket itu bukan cuman karena punya perasaan romantis, tapi bisa aja hal lain."
"Mungkin menurut kamu begitu, tapi gimana kalau misal Kak Evan itu ada perasaan sama kamu?" tanya Rafael balik.
Reva mengernyitkan keningnya mendengar itu, "Kak Evan tahu kok aku sudah punya suami."
"Tapi kan suaminya lagi di luar negeri, jadi mungkin aja dia manfaatin buat deketin kamu."
Merasa tuduhan pria itu semakin keterlaluan, membuat Reva semakin kesal, "Kamu jangan ngomong begitu, Kak Evan gak mungkin begitu," bantah nya.
"Haha lihat sekarang kamu lagi belain dia," ucap Rafael sambil terkekeh sinis meledek. Hatinya semakin panas saja dengan pembelaan istrinya itu.
Rafael lalu membalas tatapannya, kebetulan lampu lalu lintas sedang berwarna merah, "Jangan-jangan alasan kamu jagain Celine itu sebenarnya pengen berduaan sama Kak Evan ya?"
"Rafael, kamu makin keterlaluan ya!" bentak Reva.
Merasa semakin kesal dan marah dengan tuduhan suaminya itu, Reva pun membuka seatbelt nya dan turun dari mobil. Perempuan itu tidak mempedulikan suaminya itu yang memanggil-manggil namanya. Reva hanya berjalan dengan cepat pergi dari sana, yang terpenting menjauh dahulu.
Tap!
"Reva, kamu mau kemana sih?" tanya Rafael yang berhasil mengejar dan menahan tangan Reva.
"Ck lepasin!" ketus Reva. Perempuan itu berusaha melepaskan tangannya, tapi Rafael menahannya dengan erat.
"Sudah jangan ngambek, ayo balik ke mobil."
__ADS_1
Reva menahan tubuhnya saat tangannya itu ditarik, "Gak mau, sana pergi aja sendiri. Aku bisa pakai mobil lain!" tolak nya keras.
Mudah sekali pikirnya Rafael itu, ya siapa juga yang tidak ngambek dituduh selingkuh begitu. Sepertinya Rafael itu sedang sensitif dan cemburu, jadi menduga hal buruk begitu. Tetapi Reva tentu saja tidak terima, toh hubungannya dengan Evan tidak sejauh itu.
"Jangan gitu dong Reva, kita kan mau ke rumah Bunda sama Ayah," ujar Rafael gemas.
"Kamu aja sana pergi sendiri, aku gak mau!"
"Loh kenapa?"
"Pake nanya lagi, gara-gara kamu lah." Rasanya Reva gemas sekali pada Rafael yang tidak mengakui kesalahannya itu, keras kepala sekali.
"Reva dengar, sikap aku ini wajar," ucap Rafael sambil memegang kedua bahunya.
"Wajar kamu bilang? Kamu nuduh aku yang enggak-enggak."
"Aku cuman khawatir aja Reva, aku ngerasa sakit hati ngebayangin aku di sana, sedangkan kamu di sini dekat sama laki-laki lain. Aku sampai gak peduli apa yang kamu lakuin, aku terlalu cemburu karena kamu punya hubungan sebaik itu sama dia." Nafas Rafael sampai naik turun setelah menjelaskan itu.
Tatapan Reva menyendu, hatinya pun perlahan luluh dan mulai memahami. Reva mungkin memang tidak terima sudah dituduh seperti itu, tapi benar juga, Rafael hanya khawatir kedekatannya dengan Kak Evan itu terlalu jauh. Mungkin kalau posisi Reva dibalik, Ia pun akan sama marahnya.
"Jadi kamu gak suka aku deket sama Kak Evan?"
Rafael tersenyum geli, "Ya enggak lah, sekali pun alasannya kamu yang jagain Celine."
"Tapi kan--"
"Aku pengen kamu bisa jaga diri dan jaga batasan. Gak papa kalau semisal kamu jagain Celine, tapi aku cemburu kalau kamu juga sedekat itu sama Kak Evan," sela Rafael.
Apalagi kan pria dewasa itu seorang duda, wajahnya pun cukup tampan dan pasti sudah sukses. Rafael merasa punya saingan berat, sedangkan dirinya juga tidak bisa memperhatikan mereka terus. Reva juga cantik, Rafael pikir tidak mungkin ada laki-laki yang tidak tertarik pada istrinya ini.
"Aku minta maaf kalau sempat nuduh kamu begitu, tapi sekarang aku yakin kalau kamu gak mungkin ada main sama dia," ujar Rafael. Saat Ia bawa tangan Reva, untungnya tidak ditolak lagi.
"Gak papa, aku juga minta maaf," balas Reva sambil membalas senyumannya.
Keduanya pun berpelukan dengan erat. Sekarang mereka sudah dewasa, pikiran pun jangan kekanakan dan mengandalkan emosi terus. Saat mendengar tepuk tangan di sekitar, membuat keduanya pun repleks melepaskan pelukan dan memperhatikan sekitar. Mereka tidak sadar sekarang sedang di tempat umum, jadi dari tadi ditonton?
__ADS_1
"Astaga ini benar-benar memalukan," gumam Reva sambil menutup wajahnya menahan malu.
Berbeda dengan Rafael, pria itu malah tersenyum sambil melambaikan tangan pada beberapa orang di sana. Setelahnya Ia menarik bahu istrinya untuk pergi dari sana. Bukankah tadi sangat romantis?