Pasutri Gak Jelas

Pasutri Gak Jelas
12 Tidak Ingin Diganggu


__ADS_3

"Pssst Reva sini!" panggil Rafael sambil melambaikan tangannya.


Reva hanya memutar bola mata malas lalu masuk ke mobil Rafael, duduk di sebelahnya. Mereka masih ada di parkiran sekolah, jadi harus berhati-hati jangan sampai ada yang curiga.


"Apaan?" tanya Reva dengan tangan terlipat di dada.


"Sore ini Dinda mau ke apartemen, kamu jangan pulang dulu ya."


Kedua mata Reva langsung terbelak, "Enak aja nyuruh-nyuruh gue, itu kan tempat tinggal gue!" ketusnya.


"Ayo dong Reva, tolong kerja samanya. Aku dan Dinda cuma mau ngerjain tugas kok, soalnya besok sudah dikumpulin. Sebentar doang."


"Gak mau, kalian aja yang di luar."


"Ck gak bisa, masalahnya aku sudah terima tawaran Dinda. Boleh ya?"


"Enggak!"


Rafael menghela nafasnya merasa kesulitan membujuk Reva, memang perempuan itu sangat keras kepala. Masalahnya kalau Reva juga ada di apartemen, biasa-bisa Dinda tahu lagi mereka tinggal bersama. Kan bahaya.


"Reva harus nurut sama perintah suami, nanti kalau enggak dosa."


"Heh masalahnya perintah dari lo itu aneh, lo malah yang bakal dosa berduaan sama cewek di apartemen," balas Reva.


"Tapi kan nanti juga di sana cuma ngerjain tugas, bukan mesra-mesraan."


"Yak siapa yang tahu, katanya orang ketiga itu setan. Makanya dari pada yang jadi orang ketiganya setan, mending gue aja."


Selain itu, Reva juga harus memperhatikan dua orang itu khawatir berinteraksi berlebihan dan di luar batas. Tentu Reva sangat tahu jika Rafael ini menyukai Dinda, tapi sayangnya Reva belum bisa memastikan apakah Dinda pun ada perasaan pada Rafael atau belum.


"Reva kan bisa main dulu sama temen-temen, ke Kafe atau shopping di Mall," bujuk Rafael belum menyerah.


Reva mengusap dagunya mulai tergoda mendengar itu.


"Nanti aku kirimin deh uangnya ke rekening kamu, ya?"


"Ck lo kayanya pengen banget berduaan sama si Dinda di apartemen. Emangnya kalian mau apa sih?!" ketus Reva.


"Kan tadi sudah bilang, kita mau ngerjain tugas."


"Awas aja ya kalau lebih dari itu!"

__ADS_1


"Lebih gimana sih Reva?"


"Ya misal aja lo sama dia malah skinship terus mesra-mesraan sampai.. Sampai pindah ke kamar."


"Astaga ya gak akan dong Reva, pikiran kamu itu terlalu jauh," dengus Rafael, "Janji, kalau tugasnya sudah selesai Dinda juga bakalan langsung pulang."


Setelah memikirkannya lumayan lama, dengan terpaksa Reva pun mengangguk. Melihat Rafael yang bersorak pelan senang, membuatnya kesal. Sebegitu inginnya ya berduaan dengan Dinda? Entah kenapa, Reva malah dibuat overthinking.


"Tapi jangan lama, gue juga pengen cepet pulang ke apartemen."


"Iya, paling jam enam juga Dinda udah pulang. Kalau semisal kamu mainnya ke Mall, kan bisa sekalian makan malam di luar."


"Terus lo gimana?"


"Nanti aja bisa pesen sendiri."


"Hah ya udah deh," desah Reva pasrah.


Untuk beberapa saat di sana terasa hening, keduanya hanyut dalam pikiran masing-masing. Bel pulang sekolah sudah dari sepuluh menit yang lalu, perlahan kendaraan roda empat di parkiran pun semakin berkurang karena para murid yang pulang.


"Sana keluar, aku mau pulang takut Dinda sudah nungguin," usir Rafael.


"Nyebelin lo!"


"Biarin aja boros, kita kan orang kaya."


Rafael hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar itu, memang cara berpikirnya dengan Reva berkebalikan. Setelah perempuan itu turun dari mobilnya, Rafael pun menyalakan mesin mobilnya bersiap untuk pergi. Tetapi baru saja akan memundurkan, ketukan di kaca mobil membuatnya menghentikan.


"Ada apa lagi?" tanya Rafael yang menurunkan sedikit kaca mobilnya.


"Inget ya kata-kata gue tadi, jangan mesra-mesraan sama si Dinda. Awas aja kalau sampai kalian begitu, gue laporin ke Bunda sama Ayah," ancam Reva dengan ekspresi galaknya.


"Iya Reva iya, tenang aja. Aku kan anak baik."


"Huh baik atau terlalu polos sih!"


Tanpa mempedulikan lagi, Rafael melanjutkan perjalanannya. Rencananya nanti Dinda sendiri yang akan ke apartemennya, sekarang sedang ada kumpulan dulu, jadi Rafael pergi lebih dahulu.


Sesampainya di apartemen, pria itu langsung ke kamarnya untuk mandi lebih dahulu dan memakai baju nyaman namun tetap rapih. Rafael juga membersihkan sedikit apartemennya yang dikira kurang rapih, ingin memberikan kesan yang baik untuk tamunya.


Tok tok!

__ADS_1


"Apa itu Dinda?" tanyanya seorang diri.


Sebelum membuka pintu, Rafael sempat merapihkan lagi rambutnya. Ternyata benar itu Dinda, Rafael pun mempersilahkan nya masuk. Dinda masuk sambil memperhatikan apartemennya dengan mata berbinar.


"Jadi kamu sudah tinggal terpisah sama orang tua kamu ya Rafael?" tanya Dinda baru duduk.


"Iya, pengen hidup mandiri aja, kan sudah besar juga."


"Keren. Apartemennya nyaman banget sih, pasti betah ya?"


"Haha iya," jawab Rafael sambil tertawa canggung.


Sebenarnya apartemen ini memang nyaman, tapi salah satu penghuninya membuat Rafael tidak terlalu nyaman. Ya siapa lagi kalau bukan Reva, istrinya yang suka jahil dan urakan itu. Tetapi Rafael tidak suka mengeluh sih, menerima apa adanya saja.


"Tadi aku beli minuman sama cemilan gitu, buat temenin kita ngerjain tugas aja," ucap Dinda sambil membuka kresek putihnya.


"Wah beneran? Apa aku harus patungan?"


"Gak usah, dari aku aja."


"Makasih."


Keduanya duduk di atas karpet bulu dengan di tengahnya ada meja rendah. Mengeluarkan buku pelajarannya masing-masing dan akan mulai mengerjakan. Posisi duduk keduanya pun bersebelahan, lumayan dekat.


"Aku bingung banget sama tugasnya, gak ngerti," keluh Dinda, "Makanya aku pengen ngerjain bareng kamu, soalnya kan kamu pinter Rafael."


"Ah makasih, gak papa nanti kita kerjain bareng-bareng aja ya."


"Hm."


Rafael mencoba menghitung soal-soal di tugasnya itu, mencari jawaban yang menurutnya paling tepat. Saat mendapatkannya, Ia langsung memberitahu Dinda yang dari tadi memainkan ponselnya. Barulah perempuan itu mencatatnya.


"Biaya tinggal di sini pasti mahal, iyakan?" tanya Dinda ke arah lain.


"Lumayan, tapi yang bayarin sih orang tua aku," jawab Rafael tanpa menatap. Kalau sudah fokus, sulit teralih.


"Kamu mah emang orang kaya Rafael, jadi bukan apa-apa tinggal di sini." Dinda menghela nafasnya, "Seru banget ya jadi orang kaya itu, kalau mau apa-apa pasti terkabul, iri deh."


Pergerakan Rafael yang sedang mengerjakan tugasnya di buku terhenti mendengar itu. Entah kenapa merasa keberatan dengan kata-kata Dinda tadi. Menurutnya menjadi orang kaya memang menyenangkan, tapi bukan berarti tidak suka mendapat masalah dan cobaan. Malahan menurut Rafael, cobaan pada orang berada itu lebih besar.


"Sudah nemu belum jawaban nomor tiganya?" tanya Dinda melihat bukunya.

__ADS_1


"Belum, sedikit lagi."


"Ya sudah, aku tunggu." Dan Dinda pun melanjutkan lagi melihat sosial medianya.


__ADS_2