
Kelas dua belas sekarang sedang sibuk-sibuknya belajar mempersiapkan diri untuk ujian kelulusan bulan depan. Kebanyakan dari mereka yang sedang memperbaiki nilai untuk bisa masuk standar ke Universitas yang diinginkan.
Berbeda dengan Reva yang terlihat malas-malasan, tidak ada sedikit pun rasa semangat pada perempuan itu untuk belajar. Bukan apa-apa, tapi Reva merasa pusing saja jika belajar. Kenapa? Karena kapasitas otaknya yang tidak besar, alias Ia bodoh.
"Hei."
"Ngagetin aja," dengus Reva.
Lucas hanya tertawa kecil lalu duduk begitu saja di sebelahnya, pria itu pun memberikan minuman kaleng padanya, "Lagi ngapain nih sendirian aja di sini?" tanyanya.
"Lagi belajar lah."
"Masa? Orang dari tadi gue perhatiin dari jauh ngelamun aja."
"Kelihatan ya?"
"Iya lah, kaya yang gak serius belajar gitu."
Reva pun menutup buku pelajarannya, "Gue males belajar, gak pinter-pinter," celetuknya.
"Hahaha jujur banget lo."
"Kalau lo gimana? Apa bodoh juga kaya gue?"
"Lumayan sih, tapi dulu pas SD pernah juara tiga."
"Ya elah itu mah pas SD, pas kecil juga gue lumayan pinter. Sekarang kan udah besar, biasanya yang kecilnya pinter pas besar jadi oon."
Lucas tertawa terbahak merasa terhibur saja dengan perkataan Reva yang jujur dan tidak malu sama sekali. Memang Reva ini sangat menarik, berbeda dari kebanyakan perempuan lain yang selalu menjaga image.
"Bener juga sih, sekarang gue juga lemot banget. Apalagi kalau belajar matematika sama fisika, kayanya kepala gue berasap," ucap Lucas.
"Nah sama, aneh ya orang bodoh itu pasti gak bisa pelajaran itu. Padahalkan kita bisa ngerjain pelajaran lain, tapi tetep aja dianggap bodoh."
"Reva-Reva, lo gak malu jujur gini sama gue?"
"Ngapain malu? Lo kan temen gue."
"Ah iya bener juga, beda lagi kalau di depan orang yang lo suka ya? Pasti tetep aja jaga image."
"Lumayan, tapi gue orangnya gengsian kalau di depan cowok yang gue suka."
"Malu-malu gitu juga gak?"
"Enggak deh kayanya, apa adanya."
"Terus siapa cowok yang lo suka itu?"
Entah kebetulan atau bagaimana, dari sebrang lapangan terlihat Rafael yang sedang berjalan berduaan dengan Dinda. Mereka ke mana-mana selalu bersama, lebih tepatnya si Dinda itu yang selalu menempel. Reva tanpa sadar mendengus pelan.
"Ada deh," jawabnya.
"Apa se sekolah sama kita?"
__ADS_1
"Iya."
"Berarti kayanya seangkatan ya?"
"Hm."
"Banyak sih yang ganteng dan aktif, jadi bingung."
"Tapi dia bukan termasuk orang yang terkenal sih, biasa-biasa aja."
"Hah gue jadi penasaran sama orang yang lo suka."
"Emangnya kenapa?"
"Bisa belajar dari dia, mungkin gue bisa tiruin beberapa dari dia supaya bisa menarik perhatian lo juga," jawab Lucas jujur.
Reva terdiam beberapa saat, "Lo masih suka sama gue?" tanyanya blak-blakkan.
"Iya lah, buktinya gue masih suka deketin lo."
"Kan udah gue tolak."
"Gak papa, baru satu kali."
"Astaga," ucap Reva sambil tersenyum kecil, merasa konyol saja, "Padahal banyak cewek cantik lain yang suka sama lo."
"Emang sih banyak, tapi gue tertariknya sama lo doang."
"Soalnya lo beda aja dari cewek lain, gue suka lo yang apa adanya dan gak jaiman. Ternyata tipe gue sekarang kaya lo, gue ngebayangin pasti seru banget kalau pacaran sama lo."
"Gimana kalau misal gue udah jadi milik orang lain?"
Mendengar itu membuat Lucas tersentak sampai terdiam beberapa saat, "Serius? Reva emang udah punya pacar? Kapan?"
"Enggak, gue bercanda."
"Bohong, pasti bener, kan?"
"Ck enggak, gue masih jomblo berkelas. Lagian males gue pacaran, diri sendiri aja belum bisa urus dengan baik."
Tetapi entah kenapa Lucas tidak terlalu percaya, Ia jadi cemas sendiri menduga jika sepertinya Reva memang dekat dengan laki-laki lain. Apakah orang yang disukainya itu? Lucas jadi semakin penasaran, Ia benar-benar harus mencari tahu.
"Ekhem hampir lupa, jadi kapan gue bisa main ke tempat tinggal lo?" tanya Lucas, "Sampai sekarang belum juga."
"Lo mau? Emangnya nanti di sana mau ngapain?"
"Ya nonton ke atau apa gitu."
"Ya udah, nanti pulang sekolah."
Senyuman langsung terbit di bibir Lucas, "Hehe beneran ya? Gak bisa ditarik lagi loh."
"Iya bawel, dasar."
__ADS_1
Habisnya Lucas terlalu senang, Ia juga jika pada Reva jadi banyak bicara dan bawel. Bukankah seseorang pada orang yang disukainya memang begitu ya? Lucas sih berharap dirinya masih ada kesempatan untuk bisa masuk ke hati perempuan itu.
"Pulang bareng?" tanya Lucas.
"Tapi gue bawa mobil."
"Oh ya udah, berarti gue ngikut di belakang aja ya."
"Iya."
Reva lalu beranjak dari duduknya dan akan pergi lebih dahulu, sebelum ke kelas Ia ingin ke toilet dulu. Di Koridor Ia malah tidak sengaja berpapasan dengan Rafael, kini pria itu sendirian, entah kemana si parasit itu.
"Hei Rafael, sepulang sekolah lo jangan ke apartemen dulu ya," ucap Reva sedikit berbisik khawatir di dengar orang lain.
"Loh kenapa?"
"Si Lucas katanya pengen main, jadi lo jangan pulang dulu."
Tatapan Rafael memicing, "Jadi beneran kamu ajak dia main di apartemen?"
"Iya lah, orang udah janji juga. Emangnya kenapa? Lo juga pernah ajak si Dinda," balasnya tidak mau kalah.
Terlihat Rafael menghela nafasnya berat, "Mau ngapain aja kalian di sana?" ketusnya.
"Gak tahu, paling cuma nonton film."
"Kalau cuma mau nonton mending ke bioskop aja, kan bisa."
Seringai terukir di bibir Reva, "Kok lo sensi banget sih? Jangan bilang cemburu ya?"
"Apaan sih Reva? Enggak lah," bantah Rafael.
"Ya udah, makanya gak usah ngatur-ngatur. Lo juga mending kencan aja sana sama si Dinda."
"Boleh juga, mungkin nanti pulang sekolah aku bisa ajak dia jalan-jalan ke Mall."
Kedua mata Reva terbelak karena Rafael malah setuju mendapatkan usulan darinya, padahal tadi Reva sedang bercanda. Reva berdecak pelan merasa kesal sendiri, seharusnya tadi Ia tidak mengatakan itu.
"Oke deh Reva bisa ajak si Lucas itu ke apartemen, tapi dia jangan aneh-aneh di sana. Jangan lupa kunci pintu kamar aku, supaya dia gak masuk."
"Iya tahu, lagian dia juga gak akan macam-macam."
"Kata siapa? Inget ya Reva, pikiran cowok itu liar."
"Maksudnya?"
"Ya bisa aja kalau sudah kebawa suasana, apalagi cuma berduaan, si Lucas manfaatin kesempatan dan apa-apain kamu."
Tuk!
Reva menyentil kening Rafael karena merasa gemas dengan prasangka buruk pria itu. Pikirannya terlalu jauh sekali, padahal Reva juga bukan perempuan lemah. Tetapi Reva merasa Lucas tidak bajingan seperti itu, sikapnya pun selalu baik.
"Ngawur aja lo," dengus Reva lalu melenggang pergi.
__ADS_1