Pasutri Gak Jelas

Pasutri Gak Jelas
102 Perhatian Pada Orang Lain


__ADS_3

Melihat hari yang sudah semakin sore, es krim keduanya pun sudah habis. Reva memutuskan mengantar dahulu Celine ke unit apartemennya di lantai dua belas. Anehnya Ia tidak melihat babysitter anak itu lagi, apa jangan-jangan sengaja di tinggalkan? Sepertinya nanti harus Reva tegur.


Tok tok!


Cukup lama Reva mengetuk pintu apartemen itu, sampai akhirnya terbuka juga. Tatapan Reva menjadi dingin melinat Nana yang buru-buru mematikan panggilannya, lalu tersenyum kikuk padanya. Emosinya jadi naik begitu saja melihat cara kerja babysitter itu.


"Ya ampun Non Celine dari mana aja? Mbak nyariin loh dari tadi," ucapnya dramatis sambil memegang bahu anak perempuan itu.


"Tapi kan mbak tadi yang ting--"


"Mbak kan sudah bilang jangan keluyuran, jadinya hilang," Nana dengan cepat memotong perkataan anak itu.


"Kamu nyariin Celine emangnya? Kalau nyariin, kenapa diam di apartemen? Sambil teleponan lagi," tanya Reva sinis. Memangnya Reva tidak bisa baca ekspresi wajahnya yang sedang drama itu?


"Sa-saya nyariin Nona Celine kok tadi, cuman balik lagi mau ambil telepon, tapi ternyata ada panggilan ya sudah saya--"


"Saya sudah dengar ceritanya dari Celine langsung, kamu tinggalin dia sendirian di bawah?" Reva tidak mau mendengar alasan bulshit dari Nana, yakin jika perempuan itu hanya mengarang saja.


"Enggak kok," bantah Nana dengan wajah paniknya.


"Kalau misal Nana kenapa-napa gimana? Atau yang parah dia diculik, kamu ini gak becus banget ya jagain dia." Reva tahu perkataannys ini cukup kasar pada orang yang lebih tua darinya. Mau bagaimana lagi, Reva sedang emosi.


Nana terlihat membelakan matanya, "Hei tolong jaga bicara kamu ya, kamu ini memangnya siapa? Bukan siapa-siapa juga, jangan ikut campur!" Ternyata Nana terbawa emosi, merasa tidak terima dibilang seperti itu.


Reva berdecih, "Tapi kayanya kamu emang gak bener jagain Celine, saya sudah perhatikan loh dari awal. Mau saya aduin kamu ke Kak Evan?" ancam nya.


"Jangan dong, oke aku minta maaf karena sempat teledor pada Celine." Nana terlihat tidak ikhlas sekali saat meminta maaf, nada suaranya pun masih ketus.


"Awas aja ya kamu kalau aku lihat Celine gak dijagain lagi, aku akan langsung laporin kamu ke Kak Evan!" Reva tidak main-main, lagi pula Ia khawatir dengan Celine. Anak itu juga masih terlalu kecil untuk mengadu pada Papanya, tidak akan mengerti.


Nana lalu menarik pelan tangan Celine, "Sudahkan? Celine harus mandi, sudah sore," ucapnya.


Reva tidak menanggapi perempuan itu, Ia beralih menatap Celine lalu mencubit pelan pipi kemerahan nya, "Kakak pulang dulu ya, nanti kita main lagi," pamitnya.


"Iya Kak Reva, makasih tadi sudah beliin aku es krim," ucap Celine.

__ADS_1


"Sama-sama."


"Kok kamu beliin Celine es krim sih?" tanya Nana dengan nada ketus.


"Kasihan dia pengen banget es krim, minta sama kamu soalnya pelit gak suka dikasih jajan. Padahal aku yakin Kak Evan pasti titipin uang jajan Celine ke kamu, kan? Habisin kemana uangnya?" tuduh Reva.


"Ada kok, aku bukan pelit, tapi Celine jangan jajan sembarangan." Nana terlihat masih membela diri tidak mau disalahkan.


"Halah bilang aja pelit, atau mungkin uangnya kamu yang habisin. Dasar gak becus!" Setelah mengatakan itu Reva pun melenggang pergi dari sana, tidak mempedulikan Nana yang memanggilnya keras protes dari belakang.


Mungkin memang benar ini bukan urusannya, tapi Reva merasa sudah dekat dengan Celine, sekarang anggap saja mereka berteman walau berbeda usia yang sangat jauh. Apalagi saat tahu ternyata Mama Celine sudah meninggal, lalu Papanya yang sibuk bekerja. Jadi Celine yang menjaga hanya babysitter nya, Reva curiga Nana itu memang tidak bekerja dengan becus.


***


Reva mulai aktif sekolah lagi dan mengikuti pelajaran di Kampusnya dengan baik. Walaupun sudah kenal dengan teman-teman di kelasnya yang lain, tapi Reva paling dekat dengan Vanessa. Kemana-mana mereka pun selalu bersama.


"Nanti pulang mau ke apartemen aku gak?" tawar Reva. Sekarang mereka sedang makan siang di kantin kampus, duduk saling berhadapan.


"Eh serius Reva?" tanya Vanessa sambil tersenyum.


"Aku mau banget, tapi sedikit khawatir gak diizinin bibi aku." Raut wajah Vanessa terlihat muram.


"Maaf emangnya kerjaan kamu di sana apaan?"


"Kaya pelayan lain aja, bersih-bersih dan masak untuk Tuan rumah," jawab Vanessa.


"Emangnya kamu gak capek pulang Kampus langsung kerja begitu?"


"Capek sih, tapi aku udah biasa. Aku selalu ikut kemana pun bibi pergi, soalnya cuman dia keluarga satu-satunya yang aku punya. Orang tua aku kan sudah meninggal, jadi aku mengabdi ke dia," cerita Vanessa sambil berusaha tersenyum, walau tatapannya terlihat sendu menahan sedih.


"Keren sih." Hanya pujian itu yang bisa Reva katakan, karena Ia sendiri tidak akan bisa begitu.


"Tapi mungkin bisa, ya walaupun gak bisa lama," ucap Vanessa.


"Tenang aja, nanti aku anterin kamu pulang."

__ADS_1


"Gak usah deh Reva, aku gak mau repotin kamu terus."


Reva menggeleng cepat, "Enggak kok, siapa bilang kamu ngerepotin?"


"Tapi kayanya aku emang ngerepotin, aku tahu kamu selalu berusaha jagain aku yang pincang ini." Vanessa belum sembuh, jadi jalannya harus tetap memakai tongkat agar tidak jatuh.


"Ya itulah namanya teman," ucap Reva sambil berusaha tersenyum. Mengingat dirinya yang terlihat tulus berteman kali ini, jadi mengingatkannya pada dua sahabatnya dulu di SMA. Sekarang mereka terpisahkan karena sibuk dengan urusan masing-masing.


"Aku gak nyangka sih bisa temenan sama Reva, masih kaya mimpi," ucap Vanessa sambil terkekeh kecil. Reva itu sangat cantik dan kaya, seharusnya kan teman nya bukan orang biasa sepertinya.


"Bisa aja kamu."


Jam belajar terakhir pun berakhir, seperti janji tadi Vanessa pun akan ikut pulang bersama Reva. Rasanya tidak sabar sekali berkunjung ke tempat tinggal Reva, sudah bisa membayangkan semewah apa tempat tinggalnya itu. Sesampainya di unit apartemennya, ternyata dugaan Vanessa benar.


"Wah apartemen kamu bagus Reva," puji Vanessa sambil memperhatikan sekitar. Seperti yang sering Ia lihat di drama Korea.


"Maaf ya agak kotor, soalnya tadi pagi gak sempet bersih-bersih soalnya ada kelas pagi."


"Gak papa, masih bersih kok."


"Aku mau ganti baju dulu ya, gak enak pakai ini," ucap Reva panit lalu pergi ke kamarnya.


Vanessa beranjak dari duduknya, ada sesuatu di dekat televisi yang menarik perhatiannya. Sebuah figura yang tidak terlalu besar, tatapannya memicing melihat di foto itu ada Reva dengan seorang pria. Mereka terlihat tersenyum lebar dengan pemandangan indah di belakangnya.


"Lagi lihat apa?" tanya Reva yang sudah kembali.


Vanessa berbalik, "Maaf ya gak sopan lihat-lihat."


"Gak papa santai aja." Reva pun langsung bisa tahu apa yang sedang dilihat temannya itu, "Menurut kamu di foto itu aku sama siapa?" tanyanya menantang.


"Kayanya pacar kamu ya? Jadi Reva sudah punya pacar?" tanya Vanessa sambil tersenyum dengan penuh penasarannya.


"Pasti dugaan awal kamu begitu, tapi hubungan kita lebih dari itu."


"Oh ya? Jadi kalian apa dong?"

__ADS_1


"Dia suami aku."


__ADS_2