
"Sudah puas belum belanjanya?" tanya Rafael. Terlihat di kedua tangannya menenteng masing-masing dua paperbag bermerk, semua milik Reva.
"Sudah kok, sekarang kan mau ke Kafe buat makan," jawab Reva sambil menoleh.
"Beneran ya, nanti kalau sudah makan kita pulang."
"Iya."
Rafael bukan bermaksud pelit, Ia berikan apa saja untuk istrinya itu agar bahagia. Tetapi Rafael akan merasa pusing sendiri jika Reva terlalu berlebihan kalau belanja, apalagi misalnya kalau barangnya yang tidak dibutuhkan. Uangnya banyak, tapi Rafael juga harus hemat untuk menghidupi meraka.
"Kemarin aku gak lihat kamu senyum selebar ini," ucap Rafael sambil menunjuknya dengan garpu. Kebetulan posisi makan mereka berhadapan.
Mendengar itu membuat Reva tersenyum kikuk, "Hehe jadi suka ya lihat aku senyum?"
"Ya iyalah, lebih suka dibanding lihat kamu cemberut."
"Kalau aku ngambek pasti ada penyebabnya, namanya juga cewek," sahut Reva lalu kembali menyuapkan steak nya.
"Jadi kamu ngambek yang mana? Yang aku kuliah di Amerika atau gak izinin kamu jadi pramugari?" tanya Rafael.
Reva terdiam beberapa saat, dari mana Rafael tahu jika Ia sebenarnya kurang setuju Rafael kuliah di Amerika? Selama ini Reva selalu berusaha terlihat baik-baik saja dan memberikan izin tanpa protes, apakah sikapnya ada yang aneh?
"Tahu dari mana aku gak suka kamu kuliah di Amerika?" tanya Reva.
"Jadi bener ya kamu kurang suka kalau kita LDR?" Rafael sudah menebak ini, memilih mengatakannya langsung saja.
"Sebenarnya lebih ke khawatir aja kalau kita berjauhan, apalagi dalam jangka waktu yang panjang." Reva selalu memendamnya, setelah mengungkap ini perasaannya lebih lega begitu saja.
"Khawatir kenapa? Kamu gak mau jauh dari aku ya Reva?"
"Bukan gitu, susah sih di jelasinnya juga. Tapi aku juga akan selalu dukung keputusan kamu, gak papa kok kamu pergi." Reva waktu itu juga sudah menanyakan pada Rafael, sudah pasti jawabannya akan tetap sama.
Rafael lalu membawa sebelah tangan Reva yang berada di atas meja, "Maafin aku ya Reva."
"Gak papa gak usah minta maaf, waktu akan berjalan dengan cepat, kan?"
Tetapi tentu saat melewati waktu itu akan banyak hal yang terjadi, dan sayangnya mereka tidak akan bersama melewatinya, memiliki masalah dan kesibukan masing-masing. Baik Rafael maupun Reva memiliki cita-cita sendiri, jadi berusaha saling mendukung saja.
__ADS_1
"Minggu depan aku berangkat," ucap Rafael pelan namun masih bisa didengar Reva, "Kamu mau ikut anterin aku pindahan, kan?"
"Gak tahu, soalnya pas banget waktunya aku masuk Kampus."
"Nanti kalau hari libur, aku akan usahakan pulang ke Indonesia. Atau mungkin kamu yang liburan ke Amerika."
"Lihat aja nanti deh, soalnya kita bakalan sibuk sama tugas kampus nanti."
"Iya juga sih."
Selesai makan malam keduanya memutuskan langsung pulang, padahal belum terlalu malam, tapi suasana canggung itu lah yang membuat tidak nyaman. Kalaupun dilanjutkan jalan-jalan malah akan semakin canggung, jadi lebih baik pulang saja. Saat masuk ke lobi apartemen, Reva malah tidak sengaja melihat Bu Tamara.
"Loh Reva?" tanya Tamara terkejut bertemu dengannya lagi.
"Iya Bu, Ibu mau kemana malam-malam begini?" tanya Reva balik.
"Ibu mau pulang, Ibu kan gak tinggal di sini." Perhatian Tamara lalu teralih pada seorang pria yang berdiri di sebelah Reva, "Ini siapa neng?" tanyanya.
Reva sempat melirik Rafael, "Dia suami saya," jawabnya tanpa ragu.
Kedua mata Tamara terbelak, "Loh Reva sudah nikah? Serius?" pekiknya tidak percaya.
"Tapi saya kira Reva masih muda."
"Iya kami memang menikah muda, di jodohkan."
Tamara terlihat menghela nafasnya, "Tapi kelihatan cocok sih, cantik dan ganteng. Apa kalian juga sudah diberikan momongan?"
"Belum Bu," geleng Rafael dan Reva bersamaan.
"Iya gak papa, lagian kalian juga kelihatan masih muda banget. Nikmati waktu muda kalian, karena nanti kalau sudah punya anak akan berbeda rasanya."
"Iya Bu, kami juga lagi persiapan masuk Universitas," sahut Reva.
"Iya bagus, semangat ya belajarnya." Tamara terlihat masih enggan percaya, ternyata perempuan muda yang tadi mengobrol dengannya itu sudah menikah. Padahal Ia sempat terpikirkan sesuatu, tapi harapannya terpaksa harus Ia enyahkan, "Kalau begitu Ibu permisi dulu ya, kasihan taxi nya sudah nungguin dari tadi."
"Oh iya Bu, hati-hati."
__ADS_1
"Iya sampai jumpa lagi, kayanya Ibu akan sering main kesini."
"Jangan lupa mampir ke apartemen aku ya Bu," ucap Reva ramah sambil melambaikan tangan mengiringi kepergiannya.
Reva lalu kembali menatap Rafael, "Apa?"
"Itu siapa? Kok kaya udah kenal gitu?" Rafael tadi hanya ikut-ikutan saja, padahal baru awal bertemu. Ia hanya bingung karena istrinya itu sudah akrab.
"Tadi sore aku ke kolam renang, eh gak sengaja ketemu Bu Tamara dan kita ngobrol-ngobrol aja sampai akrab," ucap Reva menjelaskan.
"Tapi tadi Ibunya bilang gak tinggal di sini." Rafael menggaruk kepalanya sanking bingung.
"Yang tinggal di sini anaknya, namanya Kak Evan. Dia juga udah punya anak perempuan, jadi kesini kayanya cuman main. Kak Evan juga baru pindah hari ini katanya, tadi juga sempet kenalan."
"Oh gitu, sekarang ngerti."
"Udah yuk ke atas, capek nih pengen langsung tidur. "
"Kamu capek apa? Aku dari tadi pegangin semua belanjaan kamu," dengus Rafael dan Reva hanya tertawa geli tanpa mau membantunya sedikit pun, itu kan memang sudah menjadi tugas Rafael.
Sesampainya di apartemen Rafael menyimpan dahulu belanjaan Reva ke kamarnya, setelahnya Ia ke kamarnya sendiri. Walaupun hubungan mereka sudah akrab, tapi barang-barang pribadi masih di kamar masing-masing karena tidak akan cukup jika di satu kamar kan. Saat Reva sedang memakai piyama nya, Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka.
"Ih kebiasaan deh kalau masuk gak suka ketuk pintu dulu," kesal Reva lalu segera berbalik menyelesaikan mengancingi baju piyama nya.
Rafael berkacak pinggang di ambang pintu, "Kenapa masih malu-malu gitu sih? Kan aku udah lihat," celetuk nya menggoda.
"Tetep aja malu," dengus Reva. Setelah semua kancingnya terpasang dengan baik, Reva pun baru berbalik menghadap Rafael, "Mau apa?"
"Tidur bareng lah, lupa ya bayaran yang aku minta tadi?"
Reva berdehem pelan menghilangkan rasa canggung nya, "Kayanya gak bisa," tolak nya pelan.
"Loh kenapa? Kan itu perjanjiannya," rengek Rafael sudah mupeng. Wajahnya terlihat memelas karena sedang menginginkannya.
"Aku lagi datang bulan."
Mendengar itu membuat bahu Rafael melemas, "Yah kenapa gak bilang dari tadi?" protesnya.
__ADS_1
"Kalau bilang dari tadi kayanya kamu juga gak bakal biarin aku belanja, kan?" tanya Reva. Saat melihat pria itu terseyum kikuk, membuatnya menggelengkan kepala karena sudah pasti dugaannya benar.