
Reva memutuskan pulang lebih dahulu, Rafael itu cukup lama ternyata nge gym nya, Reva bosan kalau menunggu terus. Di lobi apartemen, Reva malah tidak sengaja melihat Caline sedang duduk sendirian sambil melihat-lihat sekitar. Reva pun berinisiatif menghampirinya.
"Hallo anak cantik, lagi apa nih sendirian aja?" tanya Reva sambil duduk di sebelahnya.
Celine mengembangkan senyuman, "Hai Tante Reva, aku lagi nungguin Papa," jawabnya riang.
"Celine mau sekolah ya?" Dilihat dari penampilannya yang sudah rapih dengan seragam khas playgroup. Rambut panjangnya digerai dan dihiasi bando putih, sangat menggemaskan sekali.
"Iya Tante, emangnya Tante gak sekolah?" tanya Celine balik.
"Tante sudah keluar, tapi sebentar lagi juga masuk universitas kok, sekolah lagi. Cuman sekarang lagi libur."
"Aku lebih suka sekolah, soalnya di sana bisa main dan ketemu temen-temen."
Reva hanya tersenyum melihat anak kecil itu yang masih bersemangat sekolah, tentu saja karena Celine belum merasakan bagaimana belajar yang serius itu. Sepertinya saat Reva kecil pun sangat bersemangat seperti Celine.
"Gimana kalau hari ini panggilnya jangan Tante? Kakak aja, Kak Reva," usul Reva membujuk. Ia kan masih delapan belas tahun, tapi kalau dipanggil Tante serasa sudah tua.
"Oh iya boleh, Kak Reva." Celine tersenyum sangat lebar, membuat Reva pun tidak tahan mencubit pipinya.
Di tengah asiknya keduanya mengobrol, kedatangan Evan mengalihkan perhatian. Penampilan pria itu terlihat seperti kemarin, tapi mungkin karena masih pagi jadi terlihat masih segar dan rapih dengan setelan jasnya itu. Reva sudah bisa menebak, sepertinya Evan itu bekerja di kantoran.
"Loh Celine ditemenin siapa itu?" tanya Evan menggoda putrinya.
"Hehehe aku ditemenin Kak Reva, jadi gak kesepian," jawab Celine.
"Maafin Papa ya agak lama di toilet." Evan mengusap kepala putrinya itu lembut.
"Gak papa, jadi sekarang berangkatnya? Aku sudah gak sabar ke sekolah, ketemu temen-temen." Celine sampai menggoyang kan badannya merayu Papanya itu, nada suaranya pun jadi merengek.
"Haha iya yuk kita berangkat sekarang." Evan lalu beralih melirik perempuan muda yang dikenalinya kemarin, "Makasih ya Reva sudah temenin anak saya tadi."
__ADS_1
"Gak papa Kak, aku juga seneng bisa akrab sama Celine." Apalagi anak itu sangat menggemaskan dan tidak nakal, jadi Reva pun betah bersamanya.
"Nanti kita main lagi ya Kak Reva, tapi aku mau sekolah dulu," ucap Celine.
"Iya boleh, nanti kita renang bareng deh," sahut Reva.
"Asik berenang, gimana kalau nanti sore?"
"Okey, nanti Kakak tunggu di kolam ya?"
"Iya."
Evan mengangguk memberikan izin, "Nanti biar mbak yang anterin kamu ke bawah ya?" Mbak di sini adalah babysitter yang dipekerjakan untuk menjaga Celine selama Evan bekerja.
"Iya Papa."
Evan dan Celine pun pamit pergi kepada Reva, Reva pun membalas melambaikan tangan dengan senyumannya mengiri kepergian dua orang itu. Mereka walaupun baru kenal, tapi seperti sudah kenal lama dan saling akrab. Reva juga merasa aneh dengan dirinya sendiri yang se terbuka ini para orang asing, sebelumnya tidak pernah seperti ini.
"Ekhem siapa itu?"
"Aku buru-buru pulang karena perasaan aku gak enak, ternyata bener kamu malah asik ngobrol sama cowok lain, kalian juga kelihatan akrab gitu." Nada suara Rafael terdengar ketus. Hanya merasa cemburu, apalagi laki-laki yang sepertinya lebih dewasa darinya itu cukup tampan.
"Inget gak Ibu Tamara yang kemarin malam kita temuin? Tadi itu anak sama cucunya. Namanya Kak Evan, kalau yang anak kecil itu anaknya," jelas Reva.
Rafael terlihat menghela nafas, "Oh jadi Kak Evan itu sudah nikah dan punya anak ya?" Rafael sempat menduga jika anak itu adalah adiknya, tapi ternyata anaknya.
"Ya iyalah makanya punya Celine." Reva menggelengkan kepala melihat Rafael yang cukup lemot berpikir.
"Tapi kok bisa akrab gitu?" Rafael terlihat belum puas mendengar jawaban darinya tadi.
"Ya kan kemarin ketemu juga di kolam renang, bareng-bareng lah gitu."
__ADS_1
"Oh gitu, kirain ketemu dimana. Tapi kok kamu bisa gampang banget akrab gitu sama orang asing? Katanya baru pertama kali ketemu." Tatapan Rafael menjadi memicing seperti merasa curiga.
Reva mengusap dagunya seperti berpikir dengan keras, "Kayanya bukan deket sama Kak Evan, tapi aku lebih deket ke Celine. Anak itu lucu banget, cantik lagi mirip aku pas kecil hehe."
"Haha sejak kapan kamu suka anak kecil? Katanya mereka ngerepotin." Apalagi Rafael tahu emosi Reva itu naik turun, alias tidak sabaran jika menghadapi anak kecil.
"Ck kalau Celine kan beda, dia anaknya tenang dan gak nakal. Kalau diajak ngobrol juga cukup nyambung, padahal dia masih lima tahunan." Reva tidak merasa tersinggung saat tadi mendapat ledekan dri Rafael, ternyata pria itu pun tahu.
"Terus kamu udah ketemu juga sama istri Kak Evan itu?"
Reva terdiam karena baru terpikirkan ini, "Belum, dari kemarin juga aku belum ketemu istrinya," jawabnya. Kenapa pikiran Rafael itu terlalu jauh? Reva saja sempat tidak ingat akan hal itu.
"Nanti kapan-kapan kenalin aku juga ya sama mereka, aku juga pengen akrab sama Celine itu." Berbeda dengan Reva yang tidak terlalu suka anak kecil, Rafael malah sebaliknya. Sifatnya yang ramah ini membuat setiap anak kecil yang dekat dengannya langsung menyukainya. Rafael cukup percaya diri akan hal ini.
"Nanti kalau Celine ketemu kamu terus nangis gimana?" celetuk Reva.
Rafael merasa tidak terima mendengar itu, Ia pun menyentil kening Reva membuat perempuan itu pun meringis, "Hei emangnya aku monster apa?!" protesnya.
"Haha aku cuman bercanda."
"Sudah yuk pulang, aku udah laper nih. Kamu ya yang masak," ajak Rafael sambil menggenggam tangan kanan Reva dan mereka pun berjalan pergi untuk naik lift.
"Kan aku gak bisa masak," keluh Reva, Lagi-lagi suaminya itu meledek nya.
"Makanya belajar dong, hari libur itu bukannya dihabisin hal bermanfaat malah males-malesan," sindir Rafael.
"Ajarin makanya, kalau belajar masak sendiri gak akan bisa."
"Oke hari ini kita belajar masak, pokoknya aku pengen sebelum berangkat ke Amerika kamu sudah bisa masak," ucap Rafael.
Reva melirik nya merasa keberatan, memangnya belajar masak semudah itu ya? Tentu saja tidak. Apalagi Reva selalu ketakutan melihat minyak panas di wajan, apalagi kalau sampai memasak yang lain. Mungkin Rafael hanya khawatir saat dirinya ditinggalkan, bagaimana makan sehari-harinya.
__ADS_1
"Oh iya nanti sore aku bakal renang sama Celine di bawah, mau ikut gak?" tawar Reva, pria itu kan katanya ingin dikenalkan.
"Boleh deh, semoga aja gak ada meeting dari Ayah." Walaupun Rafael ini pengangguran baru lulus, tapi Ia tetap sibuk mengurus tugas kantor yang diberikan Ayahnya.