Pasutri Gak Jelas

Pasutri Gak Jelas
69 Seperti Pasangan Sungguhan


__ADS_3

Reva menolehkan kepala, otomatis wajahnya dan Rafael menjadi dekat karena pria itu menyender di bahunya. Tetapi karena terlalu gugup, Reva memilih kembali menunduk sambil melirik pelukan tangan pria itu di perutnya. Reva sangat berdebar sekali mendapatkan kontak fisik ini dari Rafael. Suaminya itu tidak pernah seberani ini sebelumnya.


"Jadi lo gak masalah kalau semisal berita kita sudah nikah kesebar?" tanya Reva.


"Gak papa, lagian sebentar lagi juga kita lulus. Malahan aku khawatir sama Reva."


"Kenapa emangnya sama gue?"


"Aku takut kamu diejek temen-temen kamu karena punya suami kaya aku."


Plak!


Reva repleks menampar tangan pria itu di perutnya, "Selalu aja bilang gitu, gue gak malu kok punya suami kaya lo," sahutnya meluruskan. Selama ini Rafael terlalu merendah, tidak tahu saja pria itu cukup sempurna.


"Oh ya?" tantang Rafael, ingin mendengar penjelasan lebih dari Reva.


"Lo cowok baik-baik, pinter juga di sekolah. Kenapa gue harus malu?" Bukannya Reva seharusnya bangga ya?


"Masa cuman itu doang, ganteng juga, kan?"


"Huh dasar ngelunjak!" dengus Reva. Tetapi Rafael itu memang tampan, hanya saja Reva malu kalau terus terang memujinya. Nanti si Rafael itu kepedean lagi.


"Kalian lagi ngapain?"


Suara Oma mengagetkan pasangan yang sedang kasmaran itu, Reva pun tanpa sadar menyikut perut Rafael sampai pria itu melepaskan pelukannya tapi dengan ringisan kesakitan. Saat berbalik terlihat Oma yang baru memasuki dapur, melihat Omanya yang tersenyum menggoda membuat Reva malu.


"Kalian itu ya bener-bener kaya pengantin baru, romantis di mana-mana. Gak papa sih, tapi kasihan kalau orang lain lihat jadi iri," ucap Omanya sambil terkekeh kecil.


"Oma iri juga?" tanya Reva setengah bergurau.


"Haha kamu bisa saja Reva, Oma sudah tua dan gak iri sama sekali. Oma malah senang lihat cucu Oma yang bisa romantis bgitu sama pasangannya, itu berarti kalian memang saling mencintai."

__ADS_1


Saat dikatakan seperti itu, Rafael dan Reva saling bertatapan dan mengulas senyuman tipis. Benarkah mereka saling mencintai? Tetapi kan yang baru mengutarakan perasaannya baru Rafael saja, sedangkan pria itu belum tahu bagaimana isi hati istrinya itu.


"Masakannya sudah jadi belum? Dimana mbok?" tanya Oma mengalihkan obrolan, tidak mau terus meledeki pasangan muda itu.


"Mbok katanya pusing Oma, terus Rafael yang gantiin masak." Reva lah yang menjawab.


"Ya ampun gak usah repot-repot Rafael."


"Gak papa Oma, aku suka masak kok. Supnya juga pas banget udah matang, ayo kita makan sekarang," ajak Rafael sambil tersenyum lebar. Reva pun dengan inisiatif nya sendiri membantu suaminya itu memindahkan ke meja makan. Keduanya pun duduk bersebelahan dengan Oma di depannya.


"Masakan kamu enak, Oma gak nyangka kamu bisa masak," puji nya setelah mencicipi sedikit kuah sup nya.


"Hehe makasih Oma, tapi aku emang suka masak." Dipuji seperti itu membuat Rafael bangga tapi juga malu-malu, Reva yang melihatnya hanya tersenyum geli.


"Apa jangan-jangan di apartemen yang bertugas masak itu kamu?" tanya Oma sambil menunjuknya.


Rafael pun mengangguk, "Iya, aku memang yang suka siapin makanan."


"Kamu memang suami yang baik, tapi memangnya gak masalah? Itu kan seharusnya tugas Reva, tapi istri kamu gak bisa masak." Omanya tentu tahu jika cucu perempuannya sangat tidak berbakat sekali dalam hal memasak, ya seperti almarhum putrinya saja.


"Masak apa emangnya? Masak telur ceplok aja kamu sampai jerit-jerit takut kena cipratan minyak," ledek Omanya mengingat saat Reva beberapa tahun lalu mencoba masak.


Rafael tertawa kecil mendengar cerita itu, tapi Ia tidak terlalu mengejek Reva karena tidak mau membuatnya tersinggung, "Gak papa kok Oma, aku masak juga keinginan sendiri dan ikhlas."


"Sepertinya keputusan kalian dijodohkan itu tepat, semoga kalian bisa menjadi pasangan yang harmonis dan saling melengkapi."


"Iya Oma, aamiin."


Reva lalu melirik Rafael yang sedang makan, Ia merasa mengganjal dengan kata-kata Omanya dimana mereka yang dianggap bisa melengkapi. Tetapi Reva merasa dirinya tidak punya kelebihan apapun, Rafael terlalu sempurna untuknya yang tidak jelas ini. Tiba-tiba nafsu makannya pun jadi menghilang.


"Jadi kapan kalian akan pulang? Jangan buru-buru ya, lagian kan sudah bebas juga sekolahnya. Oma seneng kalau kalian lama di sini." Selama ini Ia memang hidup kesepian di rumah peninggalan suaminya ini, jadi saat ada keluarganya berkunjung itu sangat menyenangkan.

__ADS_1


"Kayanya besok kami akan pulang Oma," ucap Rafael tidak enak. Pria itu menjelaskan jika masih banyak tugas dan perbaikan nilai untuk persiapan masuk ke Universitas.


"Begitu ya, ya sudah deh tidak papa. Tapi nanti kalau sudah libur, kesini lagi ya?" pinta Omanya berharap.


"Akan kami usahakan."


"Harus bisa, soalnya nanti kalau sudah masuk universitas kalian bakalan lebih sibuk dan gak ada waktu."


"Iya Oma."


Selesai makan Reva dan Rafael ke kamar untuk beristirahat. Cuaca siang itu cukup panas, jadi keduanya duduk bersantai di balkon sambil melihat pemandangan. Mereka berbaring di sebuah sofa panjang bersebelahan. Reva menoleh melirik Rafael yang memejamkan mata, tapi Ia yakin tidak tidur.


"Rafael gue mau tanya sesuatu," ucap Reva, perasaannya ini terus mengganjal dari tadi.


"Hm tanya apa?" Rafael tetap memejamkan matanya.


"Apa alasan lo dulu yang setuju mau nikah sama gue, sedangkan waktu itu kita deket aja enggak."


Rafael baru membuka matanya karena pertanyaan itu cukup serius, Ia pun menoleh membalas tatapan Reva, "Kenapa baru tanya ini sekarang? Kenapa gak dari dulu?" tanyanya.


Reva menghela nafasnya dan kembali menatap kedepan, "Mungkin baru berani sekarang, dulu selalu berusaha gak peduli sama itu dan nganggap baik-baik aja," sahutnya.


"Hm apa ya? Mungkin sebagai bukti bakti ke orang tua?"


"Oh jadi lo terpaksa gitu dan nurut aja pas Ayah sama Bunda nikah sama gue?"


"Ya awalnya," jujur Rafael.


Ada perasaan sedih yang Reva rasakan, tapi toh jawaban pria itu juga memang wajar dan Ia pun awalnya begitu. Saat almarhum Mamanya memintanya menikah dengan Rafael, Reva sampai tidak bisa berkata-kata. Tetapi karena itu permintaan terakhir, membuatnya pun harus menuruti wasiatnya.


"Almarhum Mama kamu percayain kamu ke aku. Saat beliau bilang aku lelaki yang baik dan bertanggung jawab, di situ aku ngerasa terharu dan bangga sendiri karena Mama kamu sangat mempercayai aku. Walaupun kita masih muda, tapi aku ngerasa yakin aja bisa jalanin ini," ucap Rafael sambil tersenyum kecil menatap langit, walau begitu ingatannya sedang kembali saat moment mengharukan beberapa waktu lalu.

__ADS_1


"Apa lo pernah nyesel udah milih jalan ini di umur lo yang masih muda?" Reva yakin banyak sekali harapan dan cita-cita Rafael di masa depan, tapi dengan menikahinya pasti akan menjadi hambatan tersendiri.


"Gak tahu, tapi kayanya enggak." Jawaban itu membuat Reva tersenyum kecil.


__ADS_2