Pasutri Gak Jelas

Pasutri Gak Jelas
41 Pura-pura Acuh


__ADS_3

Reva berjalan pelan mendekati sekumpulan siswi yang sedang mengobrol di bangku panjang. Ia lalu berhenti tepat di pohon yang berada di belakang mereka. Entah kenapa merasa penasaran saja, karena di sana ada Dinda dan menyebutkan nama Rafael.


"Jadi kemarin Dinda di belanjain Rafael?"


"Iya dong, dia juga temenin aku shopping. Padahal tadinya mau aku bayar sendiri, tapi dia gentle banget mau bayarin buat aku," jawab Dinda dengan penuh bangga.


"Ih iri banget deh, emangnya belanja apa?"


"Make up dong, harganya juga lumayan. Terus udah gitu, aku juga bantuin dia pilih kemeja sama celananya. Kemarin kita kaya lagi nge-date aja hehe."


Kedua mata Reva terbelak mendengar ceritanya, jadi itu yang kemarin Rafael lakukan bersama Dinda? Benar-benar seperti sedang nge-date, hanya saja Reva enggan mengakuinya. Entah kenapa, dadanya tiba-tiba panas.


"Kalian harus tahu, kalau sebenarnya Rafael ke sekolah itu pura-pura culun," ungkap Dinda.


"Maksudnya?"


"Pas kemarin aku nyuruh dia coba pakaiannya, ya ampun keren banget, padahal cuma pakai serba hitam. Katanya Rafael emang sengaja dandan biasa ke sekolah, soalnya dia gak mau jadi pusat perhatian."


"Aduh sayang banget, kalau aja Rafael nunjukin diri sendiri pasti bakalan jadi salah satu most wanted juga di sekolah."


"Aku juga bilang gitu, tapi Rafael bilang gini. Dari pada disukain banyak cewek, dia mending cewek yang dia suka itu balik suka sama dia." Dinda lalu berdehem pelan, "Dan kalian tahu? Pas Rafael bilang gitu, dia sambil natap mata aku dong."


Kedua temannya langsung heboh dan bersorak menggoda Dinda, membuat obrolan terdengar semakin asik. Berbeda dengan Reva yang sudah muak, tidak mau mendengar kelanjutan cerita itu, Ia memutuskan pergi dari sana.


Tidak sengaja Reva menemukan Rafael sedang sendirian di sebuah ruang kelas kosong, Reva pun memutuskan menghampiri. Tetapi tidak lupa Ia menutup pintu, khawatir ada yang melihat. Rafael pun dengan cepat menyadari kehadirannya.


"Reva?" tanya Rafael.


"Tumben sendirian, biasanya sama si centil," ucap Reva menyindir.


"Dinda katanya mau belajar sama temen-temen nya."


Reva membatin, belajar dari mananya? Si Dinda itu tadi sedang bergosip, bukan belajar. Parahnya lagi membicarakan Rafael, tapi untungnya kali ini bukan hal yang buruk. Reva lalu duduk di bangku depan Rafael, sambil menghadap pria itu.


"Reva ngapain sih? Bukannya belajar, malah jalan-jalan," tanya Rafael tanpa mengalihkan pandangan dari bukunya.


"Pusing belajar mulu."


"Biasanya yang jawab gitu orangnya pemalas."


"Ck iya gue emang pemalas."


Rafael terkekeh kecil, "Jangan malas-malasan, bentar lagi kan mau ujian kelulusan."


"Lo khawatir gue gak lulus ya?"

__ADS_1


"Gak mungkin sih, kalaupun nilai Reva kurang juga pasti tetep lulus karena Kakek."


"Ya itu lah gunanya punya orang dalem," ucap Reva sombong.


Reva menatap Rafael yang dari tadi fokus mengerjakan soal-soal, kalau sudah fokus begitu terlihat lebih tampan. Reva pun tanpa sadar terus memperhatikan, sampai Rafael pun terganggu.


"Reva jangan lihatin terus dong, aku jadi gak fokus nih," gerutu Rafael.


"Kenapa? Lo salah tingkah ya?"


"Iya."


"Dasar," dengus Reva, "Gue mau tanya sesuatu."


"Apaan? Kalau gak penting nanti aja deh, aku lagi pengen nyelesain dulu tugas ini."


"Ini penting, gue mau minta penjelasan lo tentang kemarin?"


Akhirnya Rafael memfokuskan pandangannya pada Reva, sebelah alisnya lalu terangkat, "Yang mana? Yang aku bilang suka lihat kamu pakai baju seksi?"


"Ih bukan itu, tapi yang lain."


"Terus yang mana?"


"Kemarin lo beneran jalan sama si Dinda?" tanya Reva akhirnya memberanikan diri.


Padahal waktu itu Reva hanya bercanda.


"Cie nge-date sama cewek yang disuka," ledek Reva dengan senyuman sinis nya.


"Emang kenapa? Kan Reva juga di apartemen berduaan sama Lucas."


"Katanya lo sampai belanjain dia ya."


"Maksudnya?"


"Iya, lo bayar belanjaan dia."


"Dari mana Reva tahu?" tanya Rafael, "Apa Dinda yang bilang?"


"Bukan, gue denger sih." Lebih tepatnya Ia yang menguping, "Sok romantis banget lo, sampai mau belanjain dia."


"Bukan gitu, tapi Dinda emang gak bawa uang."


"Hah? Gimana-gimana?"

__ADS_1


"Waktu itu dia mau bayar pakai ATM, tapi ternyata saldonya gak cukup. Dia juga bilang gak ada uang sisa, jadinya aku aja yang bayarin karena kasihan."


Mendengar penjelasan dari Rafael, membuat Reva rasanya ingin tertawa terbahak di depan Dinda. Kenapa ceritanya berbeda sekali? Memang bisa-bisanya si Dinda itu mengarang cerita. Memangnya se spesial itu dia?


"Tapi dia bilangnya lo yang belanjain, pakai cerita sombong lagi ke temen-temennya."


"Ya sudah gak papa, emang aku juga gak minta dia bayar sih."


"Ck kok gitu?" tanya Reva tersinggung, "Emangnya belanjaan dia berapa?"


"Cuma tiga ratus ribuan, lebih murah dari Reva."


Kenapa jadi membanding-bandingkan dengannya? Batin Reva.


"Tapi kan dia bukan siapa-siapa, terus kenapa lo sampai mau belanjain dia?"


"Reva kan tahu aku suka Dinda, anggap aja itu sebagai cara supaya bisa lebih deket lagi sama dia."


Astaga pria itu benar-benar polos, Rafael ini pasti akan menjadi budak cinta jika sudah menyukai seseorang. Padahal waktu itu Reva sudah menceritakan jika Dinda itu manipulatif, tapi Rafael tidak mau percaya.


"Nanti dia nge bangkang minta di belanjain lagi gimana?" tanya Reva menantang.


"Gak mungkin sering juga, Dinda kayanya bukan cewek boros kaya gitu."


"Ya bisa aja, soalnya lo gampang di bodoh-bodohin."


Rafael menghela nafasnya, "Sudah ah, tidak usah di ributkan lagi. Mending Reva pergi, aku mau lanjut belajar."


"Ck nyebelin lo!"


Reva inginnya Rafael itu meminta maaf kepadanya karena kemarin sudah menikmati waktu jalan-jalannya dengan wanita lain, bahkan sampai mengeluarkan uang lumayan hanya untuk menyenangkan perempuan lain. Tetapi Rafael selalu bersikap acuh, tidak peka dengan perasaannya.


Brak!


Baru saja membuka pintu untuk keluar, Reva terkejut dan hampir bertabrakan dengan Lucas yang kebetulan lewat. Pria itu langsung tersenyum lebar padanya, sambil mencopot earphones yang dari tadi dipakainya.


"Padahal tadi tabrakan aja," ucap Lucas modus.


"Huh maunya lo."


"Reva abis apa dari dalam?"


"Gak apa-apa, sekarang mau balik ke kelas. Udah ya, gue duluan." Sebelum Reva pergi, Ia sempat menepuk pelan bahu pria itu.


Lucas menatapnya bingung sambil mengedikan bahu, lalu kembali memakai earphones nya. Tetapi sebelum pergi Ia iseng melihat ke dalam kelas itu dari celah pintu yang sedikit terbuka. Lucas langsung terdiam karena ternyata di dalam sana ada seseorang, setelah mencoba melihat jelas Ia baru sadar.

__ADS_1


"Loh itu kan si Rafael, cuma sendirian lagi," ucapnya pelan, "Berarti tadi Reva sama Rafael sempat di dalam berduaan, ngapain mereka?"


__ADS_2