Pasutri Gak Jelas

Pasutri Gak Jelas
115 Ada Sebuah Pengorbanan


__ADS_3

"Hah? Gak papa kok," bantah Vanessa sambil mengurai rambutnya ke depan agar wajahnya tidak terlalu terlihat.


Melihat gerak-gerik temannya itu yang mencurigakan, membuat Reva pun beranjak untuk melihat lebih jelas. Reva berusaha meminta Vanessa untuk menatap nya, tapi perempuan itu terus menunduk menghindari kontak mata. Akhirnya Reva pun memegang kepala Vanessa, agar bisa melihat jelas.


"Astaga Vanessa, kamu kenapa?" tanya Reva merasa linu sendiri melihat wajahnya yang babak belur. Sudut bibir yang robek, lalu di dekat mata lebam seperti bekas pukulan, di pipi juga merah dan bengkak.


"Aku gak papa kok Reva," bantah Vanessa lalu melepaskan diri, "Terima kasih sudah jenguk aku, tapi kayanya aku sekarang pengen istirahat."


Reva menduga jika Vanessa sepertinya sedang menghindar, membuat Reva semakin curiga saja dan harus mendapatkan penjelasan. Reva lalu menarik tangan Vanessa untuk duduk di ranjang, menatap nya dalam walau temannya itu dari tadi enggan membalas tatapannya.


"Cerita semuanya, siapa yang tega lakuin ini ke kamu?" desak Reva.


"Bukan siapa-siapa." Vanessa terlihat masih kekeuh menyembunyikan.


"Apa orang di rumah ini? Ayo bilang siapa." Reva tidak menyerah mendesaknya, pokoknya Ia harus tahu siapa yang sudah berbuat kasar pada temannya ini.


"Aku gak bisa bilang sama kamu," ucap Vanessa.


"Kenapa? Bukannya kita teman? Aku khawatir dan pengen bantu kamu."


"Dengan cara apa?"


"Katakan dulu siapa yang berbuat kasar begini sama kamu, nanti aku pasti bantu kamu kok."


Terlihat Vanessa memainkan jari tangannya, mungkin sedang bimbang apakah harus cerita atau tidak. Setelah terdiam beberapa saat dan melawan perasaan kecamuk di hatinya, akhirnya Vanessa pun memutuskan cerita.


"Nona Ivana," ucap Vanessa pelan.


"Ivana? Dia yang lakuin ini sama kamu?"

__ADS_1


Kepala Vanessa mengangguk pelan, "Iya, ini bukan pertama kali, dia sering lampiasin marahnya ke aku."


Perasaan kesal dan marah perlahan naik di dada Reva, sebenarnya dari awal sudah Ia duga jika yang melakukan kekerasan pada temannya ini adalah Ivana. Kecurigaannya ini dimulai saat waktu itu yang tidak sengaja menguping pembicaraan nya di toilet, Reva jadi suka memperhatikan dari jauh.


"Kok dia tega sih lakuin ini ke kamu?" tanya Reva dengan suara ketusnya.


"Aku gak tahu, tapi dia bilang aku sebagai pembantu di sini gak bisa apa-apa dan harus turuti semua mau dia."


"Kamu juga kenapa diam aja saat dia kasar begini?!" Vanessa bilang sudah sering Ivana kasar, kenapa sampai sekarang masih bertahan?


"Mau gimana lagi, dia kan bos aku di sini," cicit Vanessa.


"Kenapa kamu gak laporin dia ke polisi? Aku akan bantu kamu laporin dia, kurang ajar banget si Ivana itu. Sok banget dia, semena-mena pada kamu." Walaupun Reva juga orang kaya dan punya banyak pelayan, tapi Ia tidak pernah berbuat semena-mena kepada mereka.


"Jangan Reva," cegah Vanessa panik sendiri.


"Kenapa? Orang jahat kaya dia itu harus dijera. Dia sudah menganiaya kamu, bukan pertama kali dan sering. Aku yakin si Ivana kalau di laporin, pasti dia akan terjerat hukum dan masuk penjara." Saat mengatakan itu, terlihat sekali kilatan emosi di mata Reva.


"Kamu kenapa sih? Kok gak mau laporin dia?" Reva jadi kesal sendiri pada Vanessa, kenapa temannya ini lugu sekali?


"Kalau misal Ivana di laporin, terus nasib bibi aku yang kerja di sini gimana? Aku gak mau, karena ini buat dia dipecat."


Rahang Reva langsung jatuh mendengar alasan seperti itu, membuatnya tersenyum sinis, "Kamu ini bodoh banget ya Vanessa, kenapa mikirin perasaan orang lain? Sekarang aku tanya, apa bibi kamu itu tahu kalau kamu sering dikasarin sama Ivana?"


"Em itu--"


"Jangan bilang dia tahu dan dia hanya diam saja? Benar-benar tidak punya hati sekali," dengus Reva. Sepertinya nanti Reva harus bertemu dengan bibi Vanessa untuk membicarakan ini.


"Bibi gak diam aja kok, dia juga selalu berusaha lindungi dan jagain aku. Tapi mau gimana lagi, kami di sini cuman jadi pelayan dan gak ada hak untuk melawan."

__ADS_1


"Tapi bibi kamu kalau sayang sama kamu dan benar mau lindungi kamu, dia lebih baik mundur dari pekerjaannya karena gak tega lihat ponakannya ini di siksa."


Perkataan Reva itu membuat Vanessa terdiam merasa tertohok. Tetapi perempuan itu yakin jika bibinya menyayanginya, toh sudah mengurus dan menjaganya dari remaja. Ingin sekali Vanessa memberikan penjelasan lain, tapi Reva sudah terlanjur emosi dan akan sulit dibujuk.


"Lebih baik kalian berhenti saja kerja di sini, aku yakin masih banyak tempat yang lebih baik. Aku kasihan pada kamu Vanessa, kamu pasti sering dapat siksaan dari Ivana, kan?"


"Hm," angguk Vanessa, tangannya lalu menyentuh kakinya, "Sebenarnya pas kaki aku patah, itu bukan jatuh dari motor, tapi Ivana yang dorong aku dari tangga."


"Apa?!" Reva kembali terkejut mendengar ternyata masih banyak kejahatan yang dilakukan Ivana pada Vanessa.


"Selama ini aku selalu sembunyiin sikap kasar dia, karena dia selalu ancam aku akan pecat bibi dan usir kita dari sini."


Reva menghembuskan nafasnya kasar, benar-benar tidak habis pikir ada orang sekejam Ivana. Bodohnya lagi Vanessa dan bibinya ini masih bertahan saja di rumah yang memberikan banyak luka ini. Tetapi Reva juga mengerti, mungkin karena sanking membutuhkan uang untuk menyambung hidup.


"Selain itu, orang tua Ivana juga berbaik hati nge biayain aku kuliah. Aku merasa segan dan semakin gak berani melawan," lanjut Vanessa memberitahu.


Mendengar itu, membuat Reva terpikirkan sesuatu, "Kalau orang tua Ivana biayain kamu kuliah, apa mereka baik atau jahat pada kamu?"


"Mereka baik kok, tapi jarang di rumah karena sangat sibuk kerja dan bolak-balik luar negeri."


"Jadi mereka juga gak tahu kalau anaknya itu sering kasarin kamu?"


"Iya, Ivana kalau ada orang tuanya selalu bersikap baik. Dia juga ngancam aku untuk jangan aduin, kalau enggak ya ancamamnya itu. Selain dia akan usir aku dan bibir, juga cabut biaya kuliah aku. Aku takut, aku juga gak mau berhenti kuliah."


Ternyata masalah ini sangat rumit, membuat Reva yang tadinya mengebu-ngebu emosi menjadi berpikir banyak. Kalau ada di posisi Vanessa juga sebenarnya bingung. Remaja itu hanya orang biasa, saat ada seseorang yang mau membantunya mewujudkan mimpinya tentu saja senang sampai rela melakukan apapun. Hanya saja menurut Reva, ini tetap saja tidak benar.


"Tidak papa Reva, aku baik-baik saja kok," ucap Vanessa sambil berusaha tersenyum. Rasanya senang sekali ada orang yang se khawatir itu kepadanya, Vanessa dibuat berkaca-kaca dan hampir menangis.


"Aku akan cari jalan keluarnya supaya kamu bisa lepas dari Ivana, aku janji akan bantu kamu," ucap Reva bersungguh-sungguh.

__ADS_1


"Terima kasih Reva." Vanessa pun memeluk temannya itu.


__ADS_2