
"Yakin Rev gak bakal pesen makanan?" tanya Tata sekali lagi.
"Gak, kan bawa bekel. Kalian pesenin gue minuman aja ya?"
"Oke, tunggu." Tata dan Ica pun pergi meninggalkannya.
Reva membuka bekalnya, ternyata isinya nasi goreng yang tadi pagi tidak Ia habiskan. Karena merasa lapar, Reva pun mulai makan dengan lahapnya. Bohong sekali Ia bilang tidak akan memakan masakan Rafael, toh setiap hari selalu memakannya.
"Ekhem."
Perhatian Reva teralih mendengar seseorang berdehem di depannya, itu Lucas. Reva hanya tersenyum sekilas lalu melanjutkan makannya. Kenapa duduk di sini? Padahal meja lain masih kosong.
"Tumben bawa bekel, kaya anak kecil aja," gurau Lucas.
"Ya masa gak dimakan, sayang."
"Iya sih gak papa, lebih sehat juga bawa makanan dari rumah. Itu buatan nyokap lo?"
"Nyokap gue udah gak ada."
Celetukan itu membuat Lucas jadi canggung sendiri, "Sorry, gue gak tau."
"Gak papa, santai aja." Terlebih dahulu Reva menelan makannya, "Lo gak makan?"
"Lihatin Reva makan aja udah kenyang."
"Ngawur aja, gak mungkin lah. Udah sana mending pesen makanan dulu."
"Bentar lagi di bawain kok sama mbak penjualnya, tadi udah pesen."
"Oh."
Tidak lama Tata dan Ica pun sudah kembali, mereka sama-sama bingung melihat kehadiran Lucas di sana. Tetapi Ica tanpa banyak tanya langsung duduk di sebelah Lucas, tentu Ia yang jatuh hati pada pria itu harus memanfaatkan kesempatan dengan baik.
"Lucas gak makan?" tanya Ica.
"Mau kok, tuh makanannya udah datang."
"Ya sudah, kita makan bareng ya."
"Iya."
Merasakan senggolan di sebelahnya, membuat Reva menoleh menatap Tata. Ia pun menaikan sebelah alisnya seolah bertanya lewat isyarat. Melihat Tata yang melirik Lucas, membuatnya paham. Reva pun hanya mengedikan bahu saja lalu melanjutkan makannya.
__ADS_1
"Apa Bokap lo yang buatin bekal?" tanya Tata.
"Enggak lah, dia gak bisa masak."
"Terus kalau bukan, siapa dong?"
"Em pembantu di rumah lah, dia tahu tadi gue cuma sarapan sedikit."
"Perhatian juga."
Karena Reva makan lebih awal, membuatnya jadi lebih dulu juga menghabiskan makanan. Reva lalu izin akan ke toilet dulu, meninggalkan teman-temannya di sana. Tetapi Ia malah bertemu dengan Dinda di toilet, sialnya lagi hanya mereka berdua saja di sana.
"Dengernya tadi pagi ada yang dibawain bekal sama Rafael," ucap Dinda menyindir.
Reva mencoba mengacuhkan dan bersikap bodo amat, ternyata dari gosip yang beredarnya begitu. Cukup mengganjal ingin Ia berdalih agar tidak salah paham, tapi Reva malas juga. setelah membuang hajatnya, Reva pun keluar dari bilik itu. Ternyata Dinda masih di sana.
"Ada apa nih sama kalian? Jangan-jangan ada hubungan ya?"
"Bukan urusan lo!"
"Gak mau jelasin sesuatu gitu soal kabar tadi pagi?"
Reva terlebih dahulu mengelap tangannya yang basah dengan tisu, "Kenapa lo kepo banget?"
"Terus kalau emang gue sama si Rafael ada apa-apa, emangnya kenapa?" tantang Reva. Apakah Dinda akan cemburu?
Dinda malah tertawa, "Kayanya gak mungkin sih, secara kalian itu saling berlawanan."
"Iya lah, gue cewek dia cowok," jawabnya menohok.
"Maksudnya sifatnya, kalau disatuin kan gak bakalan cocok."
Itu menurut Dinda, tapi Reva merasa hubungannya dengan Rafael selama ini baik-baik saja. Awalnya mereka memang seperti kutub utara dan selatan, tapi tidak pernah sampai ada masalah rumit juga yang dapat memisahkan. Apalagi sudah hidup bersama lumayan lama.
"Kenapa, lo cemburu si Rafael bawain gue bekel?"
"Cemburu apaan? Ngapain juga cemburu?"
Iya juga sih, kan si Dinda itu tidak ada perasaan apapun pada Rafael. Waktu itu juga kan Reva tahu alasan Dinda mendekati Rafael karena hanya ingin jadi parasit yang numpang menang saja.
"Terserah kalian jadi pasangan atau enggak, tapi kalau dilihat-lihat kayanya kalian cocok juga sih."
"Lo itu emang aneh, tadi bilangnya gak cocok, sekarang cocok. Bener-bener gak punya pendirian banget ya," dengus Reva.
__ADS_1
"Soalnya kalian sama-sama pecundang."
Reva langsung menatap tajam Dinda saat mendengar itu, tadi Ia tidak salah dengarkan? Berani sekali mengatakan Ia dan Rafael pecundang, apalagi dengan ekspresi wajah sombongnya. Baru saja Reva mendekat dan akan menampar, kedatangan beberapa siswi membuatnya tidak melanjutkan.
"Kamu mau apa Reva? Mau nampar aku?" tanya Dinda sambil tersenyum sinis, "Hati-hati loh, kalau kamu buat masalah lagi bisa-bisa kali ini beneran di hukum."
Sialan, batin Reva.
"Untung aja wajah aku masih mulus, kalau ada luka dikit aja bakalan aku laporin langsung ke Kakek kamu itu. Kasihan beliau, pasti malu banget punya cucu suka buat masalah kaya kamu." Setelah mengatakan itu, Dinda pun melenggang pergi dari sana.
Helaan nafas berat keluar lewat celah bibir Reva, perempuan itu mengusap wajahnya kasar mencoba menahan diri untuk tidak terlalu emosional. Memang hinaan Dinda tadi sangat menyebalkan, inginnya Reva memberikan perempuan itu pelajaran. Tetapi Reva juga merasa bersyukur karena tidak terlalu lupa diri.
"Kalau si Rafael tahu cewek yang dia suka ngata-ngatain dia, gue yakin si Rafael bakalan ilfeel," gumam Reva.
Ingin Reva adukan saja, tapi pasti si Rafael itu tidak akan percaya karena terlalu cinta. Reva jadi ingin Rafael tahu bagaimana sifat asli Dinda ini, agar tidak terus membelanya. Mungkin Reva harus menyusun rencana dulu, Ia benar-benar sudah muak dengan Dinda.
"Astaga!" pekik Reva terkejut.
Bagaimana tidak terkejut saat keluar toilet, Ia melihat Rafael bersandar di dinding dekat pintu. Pria itu lalu melirik nya dan berdiri dengan tegak, ekspresi wajahnya tidak mudah dibaca sama sekali.
"Ngapain lo di sini? Mau ngintip ya?" tuduh Reva.
"Pikiran kamu itu terlalu jauh, gak mungkin lah," bantah Rafael.
"Terus kenapa diam di sini? Kalau murid lain lihat bisa salah paham."
"Gak papa sih."
Aneh sekali memang.
"Sejak kapan lo di sini?" tanya Reva penasaran.
"Gak tahu."
"Hah?"
"Udah bel masuk, mending sekarang masuk kelas." Rafael malah mengalihkan pembicaraan.
Tetapi baru saja beberapa langkah pergi, Rafael kembali menoleh, "Tadi nasi gorengnya dihabisin, kan?"
"Iya abis, lo nyebelin banget malah ngasih di sekolah ih. Sekarang kita jadi bahan gosipan, buat salah paham aja!"
"Hehe sorry deh Reva, makanya jangan nakal. Kalau Reva nakal, aku bisa lebih nekad." Rafael pun pergi setelah tersenyum lebar.
__ADS_1
Reva hanya berdecak melihat sikap tidak jelas Rafael, tapi tidak lama Ia terdiam memikirkan sesuatu. Apa tadi Rafael mendengar obrolannya dengan Dinda di dalam? Tetapi kan Dinda keluar lebih dulu, memangnya tidak melihat keberadaan Rafael? Atau memang pria itu baru datang? Membuat kepalanya pusing saja karena jadi memikirkan.