
Beralih pada Rafael, pria itu sedang jalan dengan Dinda di Mall. Ternyata ajakannya langsung perempuan itu terima, baguslah karena Rafael kan memang tidak bisa pulang cepat hari ini.
"Kapan ya terakhir kita jalan begini?" tanya Dinda.
"Gak terlalu lama juga sih, waktu itu pernah pas ngerjain tugas juga."
"Oh iya, tapi kan kali ini gak ngerjain tugas."
"Iya kita jalan-jalan sepenuhnya."
"Tumben, kenapa Rafael?"
"Gak papa kok, cuma lagi pengen jalan aja sama kamu."
Dinda tersenyum tipis, "Kebetulan aku juga mau beli sesuatu, mumpung ada temen."
"Emangnya mau beli apa?"
"Make up aku banyak yang udah habis, gak papa temenin aku belanja?"
"Gak papa kok, yuk."
Biasanya Dinda sering beli make up di sebuah toko terkenal yang ada di Mall itu. Terlihat pun di sana lebih banyak perempuan, ada laki-laki sepertinya yang menemani pasangan. Rafael pun sama, hanya di antara mereka sebatas teman.
"Menurut kamu aku lebih cocok lip tin yang warna apa?" tanya Dinda.
"Aku kurang ngerti yang begituan, tapi kayanya dua-duanya juga cocok kalau kamu yang pakai."
"Sebenarnya aku juga suka dua-duanya, tapi uangnya takut gak cukup."
"Begitu ya, ya sudah yang warna merah itu aja."
Dinda mengangkat lip tin di tangan kanannya, "Yang ini ya? Boleh juga pilihan kamu."
"Soalnya itu yang warna cerah, dan biasanya kamu juga suka pakai yang cerah-cerah begitu."
"Hehe iya, soalnya biar kelihatan seger."
Cukup lama Dinda di sana, memilih ini dan itu. Rafael tidak bosan atau pegal menemani, Ia asik-asik saja jika dengan Dinda. Setelah mendapatkan beberapa yang dibutuhkannya, mereka pun ke kasir untuk membayar. Setelah dihitung, ada hampir tiga ratus ribu.
"Maaf Kak, tapi kartunya kosong," ucap si kasir.
"Maksudnya?"
"Hanya tersisa dua puluh ribu saja di kartunya."
"Sungguh?"
"Iya Kak, sudah saya cek."
Dinda membawa lagi kartunya sambil meringis kecil menahan malu, bahkan Ia pun sempat mendengar tawa kecil dari beberapa perempuan yang mengantri di belakangnya. Benar-benar sangat memalukan.
"Ini mbak pakai yang saya aja."
__ADS_1
Dinda langsung menoleh menatap Rafael, "Rafael, gak usah. Aku--"
"Gak papa, biar aku aja yang belanjain."
"Makasih ya."
"Sama-sama."
Setelah membayar, mereka keluar dari toko itu. Untuk beberapa saat tidak ada obrolan, lebih tepatnya Dinda yang gugup harus mengatakan apa karena kejadian tadi. Ternyata mereka tidak langsung pulang, Rafael malah mengajaknya masuk ke toko pakaian dengan brand ternama.
"Aku butuh kemeja warna hitam," ucap Rafael.
"Aku bantu pilihin ya? Kemejanya apa mau dipakai untuk acara formal begitu? "
"Aku pengennya bisa dipakai formal dan santai sih."
"Oh itu mah gampang."
Kali ini Dinda terlihat aktif sekali memilihkan kemeja yang sesuai keinginan Rafael, bahkan sampai mencocok-cocokan di badannya. Rafael pun dengan mudah mendapatkannya, tapi ternyata Ia malah kalap membeli celananya juga.
"Coba sekarang kamu pakai dua yang itu, pasti cocok banget," suruh Dinda.
"Oke aku coba dulu, bisa pegangin tas aku?"
"Iya."
Dinda tidak merasa keberatan sama sekali saat membantu memilihkan pakaian untuk Rafael tadi, tadi juga kan pria itu menemaninya belanja make up. Di tengah keheningan itu, Dinda terkejut mendengar deringan ponsel di tas Rafael. Awalnya Ia abaikan, tapi saat yang kedua membuatnya memberanikan diri melihat, mungkin saja dari orang yang penting.
Dinda juga sedikit bingung, jadi mereka saling bertukar nomor ponsel? Bukankah Rafael dan Reva tidak akur ya? Tetapi sebelum Ia mengangkat, panggilan itu pun mati. Dinda lalu mengangkat kepala mendengar pintu ruang ganti di depannya terbuka.
"Gimana, cocok gak?" tanya Rafael.
Kedua mata Dinda sampai berkedip pelan saat melihat penampilan Rafael yang terlihat berbeda dengan warna serba hitam. Saat itu pun Dinda merasa, pesona Rafael terlihat berbeda.
"Kamu keren banget," puji Dinda tanpa sadar.
"Benarkah? Makasih."
"Rafael, kalau kamu berpenampilan begini kayanya bakalan banyak yang suka."
"Oh ya?"
"Iya, jadi murid terkenal di sekolah yang jadi rebutan banyak murid cewek."
Rafael terkekeh kecil merasa terhibur mendengar itu, "Tapi aku sengaja."
"Maksudnya?"
"Sebenarnya aku memang suka dengan gaya begini, sesuai seperti umurku. Tapi aku tidak terlalu menunjukan, karena memang tidak mau menjadi pusat perhatian."
"Sungguh?"
"Iya," angguk Rafael, "Di banding menjadi rebutan banyak wanita, aku lebih suka saat wanita yang aku sukai itu juga menyukaiku."
__ADS_1
Saat mengucapkan itu, Rafael tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari Dinda, membuat perempuan itu menelan ludahnya susah payah. Rafael lalu mendekat untuk meminta tasnya, tapi pria itu bingung melihat ponselnya di luar dan dipegang Dinda.
"Kenapa ponselku.. "
"Oh iya maaf, tadi ada dua panggilan tidak terangkat."
"Dari siapa memangnya?"
"Reva, kenapa dia menghubungi kamu?"
Kedua mata Rafael langsung terbelak, Ia pun merebut ponsel itu sedikit kasar, "Sungguh? Lalu apa kamu angkat?" tanyanya panik.
"Tidak sempat sih, tapi aku bingung kenapa dia tahu nomor ponselmu. Apa dia sering mengganggu kamu?"
"Tidak juga sih."
"Terus kenapa kamu juga simpan nomor dia?"
"Em karena dia memaksa untuk aku menyimpan nomornya," bohong Rafael sambil tersenyum canggung.
"Memang dasar dia itu, kalau misal dia nelpon kamu lebih baik abaikan saja."
"I-iya." Sekarang Rafael jadi kepikiran, kenapa Reva menghubunginya ya?
"Aku bayar dulu ya, setelah ini kita pulang," ucap Rafael.
"Iya."
Sebenarnya Dinda ingin makan dulu, tapi sayangnya Ia kan tidak punya uang. Bisa saja minta Rafael itu mentraktir, tapi nanti dianggap tidak tahu diri dan matre. Inginnya Rafael saja yang menawarkan lebih dulu, tidak peka sama sekali. Rafael terlebih dahulu mengantar Dinda ke rumahnya, kebetulan memang Dinda sudah jarang membawa kendaraan pribadi.
"Rafael, makasih ya sudah di belanjain tadi. Tapi aku benar-benar gak tahu kalau saldo di atmnya habis, aku juga gak ngecek," ucap Dinda.
"Iya gak papa kok."
"Nanti aku ganti ya uangnya."
"Gak papa, gak usah."
"Beneran nih? Tapi kan lumayan."
"Santai aja Dinda, lihat kamu seneng aja sudah cukup."
Dinda tidak bisa menyembunyikan senyumannya mendengar itu, "Makasih banyak ya Rafael, nanti kapan-kapan aku traktir kamu deh."
"Oke aku tunggu ya."
Sampai di depan rumahnya, Dinda berpamitan dahulu lalu turun. Rafael pun kembali melanjutkan perjalanannya untuk pulang ke apartemennya. Tetapi di perjalanan, Ia akan menghubungi Reva untuk menanyakan tujuannya menelpon tadi.
"Hallo Reva, maaf baru telpon. Ada apa? Tadi kamu dua kali nelpon, kan?"
["Ck telat lo, kemana aja sih baru di angkat? Sanking terlalu menikmati kencan sama si centil Dinda."] Suara Reva terdengar ketus.
"Bukan gitu, tapi tadi emang lagi gak pegang ponsel. Kamu nelpon juga gak tepat waktu, tadi Dinda sempat lihat dan hampir aja dia angkat. Semoga aja dia gak curiga."
__ADS_1