Pasutri Gak Jelas

Pasutri Gak Jelas
98 Harus Pergi


__ADS_3

Hari keberangkatan Rafael ke Amerika pun akhirnya tiba juga, pria itu akan memulai hidup barunya sendirian di Negara Paman Sam itu. Keluarganya mengantarkan Rafael sampai ke bandara. Sengaja mengambil penerbangan pada malam hari karena perjalanan akan sangat panjang dan melelahkan.


"Hati-hati ya Rafael, jangan lupa kabari kami kalau sudah sampai di sana," ucap Papanya sambil menepuk pundaknya.


"Iya Pah, Papa juga sehat-sehat ya di sini."


"Pasti, kamu juga ya, jaga diri kamu baik-baik di sana."


Rafael menghela nafasnya, "Pah, aku titip Reva ya?" Untuk melirik istrinya itu, rasanya berat sekali bagi Rafael karena hatinya selalu tidak tega.


"Tentu saja, kami akan menjaga dia dengan baik di sini. Jangan terlalu dipikirkan ya, Reva pasti akan baik-baik saja." Papa mertuanya itu tidak mau Rafael sampai terbagi pikiran antara istrinya dan pendidikannya.


"Maaf ya Pah aku harus tinggalin dia sementara waktu," ucap Rafael merasa tidak enak. Ia kan suaminya, tapi malah pergi jauh.


"Tidak apa, kan kamu pergi juga karena akan melanjutkan pendidikan. Sukses ya di sana Rafael, belajar dengan baik," nasihat Papanya.


"Iya, makasih Pah."


Rafael lalu menghampiri kedua orang tuanya, mereka bertiga pun berpelukan dengan perasaan sedih karena akan berpisah. Bunda bahkan tidak bisa menahan tangisannya, air matanya itu terus mengalir begitu saja karena merasa enggan berjauhan dengan putranya itu. Berbeda dengan Ayah yang terlihat tegar, walau begitu pasti Ayah juga merasa sedih.


"Sudah Bunda jangan nangis terus, mata Bunda udah bengkak gitu," ucap Rafael sambil membantu menghapuskan lelehan air mata di pipi Bunda nya.


"Hiks Bunda cuman sedih karena kamu akan pergi jauh." Alisa mengatakan itu dengan suara seraknya.


"Kan aku pergi juga untuk belajar, gak selama-lamanya juga kok. Nanti setiap liburan semester, aku janji akan pulang," ucap Rafael memberikan ketenangan.


"Tapi kan kita selalu ketemu, kalau nanti ketemu masa enam bulan sekali?"


"Tapi kan aku bukan anak kecil lagi Bunda, banyak impian yang ingin aku capai. Aku akan baik-baik aja kok di sana, Bunda sama Ayah jangan khawatir ya?"


Alisa lalu kembali memeluknya, "Pokoknya ingat kamu jangan sampai melupakan makan, jangan keluyuran kalau sudah malam dan istirahat yang cukup. Mengerti?" nasihatnya.


"Iya, aku tahu."

__ADS_1


Setelah cukup lama berpamitan pada orang tuanya, kini tujuan Rafael adalah istrinya. Dari tadi Reva hanya diam di tempatnya memperhatikan dengan ekspresi wajah yang muram. Walaupun  terus tersenyum, tapi sorot matanya tidak bisa berbohong jika perempuan itu sedang menahan sedih.


"Aku bakalan kangen banget sama kamu," ucap Rafael.


Reva tersenyum kecil, "Iya lah harus, pokoknya kamu setiap hari harus selalu inget aku," sahutnya.


"Haha itu mah pasti sih, aku gak mungkin lupain kamu."


Untuk beberapa saat mereka saling terdiam dengan pikiran masing-masing, entah kenapa suasana pun menjadi canggung. Padahal semalam mereka sudah melakukan hubungan badan sebagai tanda perpisahan, tapi saat benar-benar akan pergi rasanya emosi campur aduk sekali.


"Maaf ya gak bisa anterin kamu sampai ke Amerika," ucap Reva kembali membuka suara.


"Gak papa, besok kan kamu sudah masuk Kampus. Semoga lancar ya."


"Kamu juga."


Saat mendengar pengumuman yang memberitahukan jika penerbangan ke Amerika akan segera berangkat, detik itu juga mereka sadar akan benar-benar berpisah dengan Rafael. Tanpa bisa ditahan kedua mata Reva pun berkaca-kaca, tapi dengan sekuat tenaga berusaha menahannya.


Reva tersenyum di sela kesedihannya, Ia lalu memukul pelan dada Rafael, "Masa saja aku gak kasih izin," dengusnya.


"Aku ngerasa berat banget mau pergi, kaya ada sesuatu yang ketinggalan."


"Apa? Bukannya tadi sudah kamu cek lagi?"


"Bukan barang, tapi kamu. Aku ngerasa sedih harus ninggalin kamu, aku pengen bawa kamu ke sana," gombal Rafael.


"Huh dasar!" Tetapi Reva dibuat terhibur mendengar itu.


Kedua orang tuanya pun memberitahu Rafael untuk segera naik pesawat sebelum pintunya ditutup, dan Rafael pun terpaksa harus benar-benar pergi. Tetapi sebelum itu Ia sempat memeluk lagi Reva dengan erat, menghirup wangi tubuhnya dalam karena Ia pasti akan sangat merindukannya.


"Sampai bertemu lagi semuanya," ucap Rafael sambil melambaikan tangan pada keluarganya.


"Iya Rafael, sampai bertemu lagi," balas mereka dengan senyuman di bibir

__ADS_1


Setelah pria itu menghilang masuk ke salah satu pintu, setetes air mata pun akhirnya jatuh juga di pipi Reva. Tetapi Ia dengan segera menghapusnya, lalu menghampiri orang tuanya. Mungkin dirinya bersikap paling tegar di sini, karena Reva bahkan tidak melihatkan tangisannya sedikit pun.


"Kamu mau pindah lagi ke rumah Papa?" tawar Papanya sambil tersenyum. Ia merasa khawatir jika putrinya ini tinggal sendirian di apartemen, kalau dulu kan ada Rafael.


"Enggak Pah, aku gak akan tinggalin apartemen itu," Jawab Reva, lagi pula kan Ia sudah besar.


"Padahal kalau kamu tinggal di rumah Papa lagi, Papa bakalan seneng," sindir nya.


"Hehe iya, nanti aku akan sering-sering main kok, tenang saja."


"Bohong, kamu aja sekarang jarang ke rumah Papa lagi."


"Kalau dulu kan sibuk akhir kelas, terus ada Rafael juga jadi gak kebosenan. Kalau sekarang kan aku sendirian, jadi pasti bakalan ke rumah Papa main."


"Oke Papa tunggu ya, awas aja kalau bohong."


Mertuanya lalu menghampiri Reva, memeluk menantunya itu karena merasa sedih saja bisa merasakan pasti Regv akan kesepian setelah Rafael pergi. Tetapi lagi-lagi Reva berusaha tegar dan tidak menangis, Ia tidak mau menunjukan kelamahannya.


"Nanti Bunda akan sering main ke apartemen, atau kamu juga ke rumah kami ya," ucap Alisa.


"Iya Bunda, aku akan sering main kok."


"Reva, mulai hari ini pasti akan banyak yang berubah. Awalnya mungkin tidak akan biasa, tapi lama-lama kamu bisa menjalaninya. Yang sabar ya," ucap Ayah mertuanya.


"Iya Ayah, makasih."


Setelahnya mereka pun pulang dengan kendaraan masing-masing, waktu juga sudah larut, apalagi Reva besok hari pertamanya ke Kampus jadi tidak mau mengganggu waktu istirahat nya. Sesampainya di apartemennya, Reva bisa merasakan aura dingin. Padahal sebelumnya tidak seperti ini, mungkin karena salah seorang penghuninya sudah pergi.


"Aku benar-benar akan sendiri sekarang disini," gumam Reva sambil tersenyum kecut menatap apartemennya.


Langkah Reva lalu malah menuju kamar Rafael, kini kamar itu terlihat lebih lenggang karena kebanyakan barang-barangnya sudah kosong. Reva lalu merebahkan tubuhnya di ranjang, masih bisa mencium wangi parfume Rafael membuatnya merindukan pria itu. Lucu sekali, padahal Rafael pun baru berangkat.


"Aku juga sama, bakalan kangen banget sama kamu." Kenapa Reva baru membalasnya sekarang? Karena Ia terlalu malu mengatakannya di depan Rafael.

__ADS_1


__ADS_2