
"Apa kalian baru pertama kali melakukannya?" tanya Bunda langsung ke inti.
Rafael mengusap tengkuknya merasa gugup, kenapa Bundanya itu bisa langsung sadar sih? "Em i-iya, kami memang baru melakukannya. "
"Serius? Bunda gak nyangka sih, kirain kalian sudah sering. Jadi tadi malam itu malam pertama kalian begituan?" Bundanya terlihat banyak ingin tahu, tidak malu juga menanyakan hal yang berbau dewasa itu. Ia lebih banyak pengalaman, jadi mungkin akan berbagi sedikit dengan anak-anak nya yang sudah menikah.
"Kita kan baru lulus, kalau pas masih sekolah takut kebablasan," ungkap Rafael memilih jujur.
"Tapi kamu hebat juga ya bisa tahan diri berbulan-bulan buat gak nyentuh Reva. Apa Reva menolak kamu?"
Rafael langsung menggeleng, "Enggak kok, malahan lucunya dia yang selalu godain aku dulu."
Alisa tertawa kecil, "Kamu sih malu-malu gitu, padahal mungkin Reva juga gak masalah."
"Bukan gitu Bunda, Reva itu cuman ngegoda aku doang. Dia kalau aku sudah on baru ninggalin, kita cuman main-main."
"Dasar kalian itu, tapi gak papa sih terserah kalian juga." Alisa lalu menunjukan jempol tangannya, "Sekarang berarti anak Bunda ini udah jadi laki-laki sungguhan dong."
"Hah maksudnya? Aku kan emang laki-laki Bunda."
"Hihi bukan gitu, kamu kan polos banget nih. Tapi ternyata kamu juga tahu ya ilmu tentang begituan." Nanti Alisa akan bertanya pada menantunya bagaimana saat mereka malam pertama, pasti akan seru.
"Apaan sih Bunda ah," dengus Rafael. Sepolos-polosnya Rafael, tentu saja masih tahu tentang hal dewasa begitu.
Rafael lalu melihat ke arah pintu kamar mandi yang terbuka, terlihat Reva yang sepertinya sudah selesai mandi dan segera masuk ke kamarnya. Melihat perempuan itu yang hanya memakai handuk, membuatnya jadi ingin melakukan sesuatu. Rafael lalu melirik Bundanya yang sedang minum jus.
"Ekhem Bun aku mau mandi dulu ya," ucap Rafael sambil beranjak dari kursinya.
"Oh iya." Alisa terlihat tidak curiga sedikit pun, wanita itu sedang chattan dengan teman-teman arisan nya di grup whatsapp.
Bukannya ke kamarnya sendiri, Rafael malah berbelok dan masuk begitu saja ke kamar Reva. Perempuan itu yang menyadari dirinya menjerit pelan, mungkin terkejut karena masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu. Rafael hanya tertawa kecil tidak merasa bersalah, matanya lalu memperhatikan Reva yang hanya memakai dalaman, membuat nafasnya mulai tidak teratur.
"Heh lihatin apa? Sana keluar!" usir Reva dengan nada suara ketusnya. Perempuan itu langsung menutupi bagian dada dan bawahnya, walau tidak tertutup sempurna karena masih terlihat.
__ADS_1
"Ngapain di tutupin, aku malahan udah lihat bagian dalamnya semalam hehe," celetuk Rafael sambil menjilat bibir bawahnya, tatapannya kali itu terlihat cukup berbahaya.
"Ck tapi gue malu, lagian ngapain sih ke sini? Sana mandi." Wajah Reva terlihat sudah merah menahan malu. Walaupun semalam mereka sudah saling melihat tubuh polos masing-masing, tetap saja malu.
"Mau dimandiin dong," sahut Rafael menggoda sambil menaik turunkan alisnya.
"Lo telat, mungkin tadi kita bisa mandi bareng," ucap Reva sambil menyeringai. Ia tidak serius, hanya sedang menggoda Rafael saja.
"Ck Bunda sih ganggu, mungkin kalau dia gak datang bisa kali mandi bareng." Rafael baru kali ini menyalahkan Bundanya itu, tapi Ia tidak serius kesal.
"Sudah sana mandi sendiri, udah gede juga."
"Tapi nanti mandi bareng ya." Lagi-lagi Rafael masih berharap dan membujuk istrinya itu.
"Dasar, iya-iya." Reva hanya ingin cepat pria itu pergi, Rafael akan semakin puas menatap tubuh seksinya ini.
"Oke aku pegang janjinya, awas aja kalau nolak." Rafael pun berbalik dan keluar dari kamar itu dengan senyuman puasnya. Sebenarnya tadi Rafael ingin melakukan lebih, tapi sepertinya tidak akan aman karena kehadiran Bundanya di luar.
"Sarapan dulu sayang," perintah Alisa kepadanya, wanita itu sedang ber teleponan.
"Bunda sudah sarapan?" tanya Reva yang sedang mengoleskan selai di rotinya.
"Sudah kok, nanti kalau kamu gak kenyang makan sama nasi dan lauk yang Bunda bawa aja."
"Oke, tapi katanya baru makan agak siangan."
Selesai mengobrol dengan teman-temannya di ponsel, Alisa pun mematikannya dan memfokuskan pandangan pada menantunya. Pagi itu Alisa merasa Reva terlihat lebih segar. Selain karena baru selesai mandi, mungkin karena alasan lain yang hanya orang dewasa tahu.
"Ekhem Bunda jadi penasaran," ucap Alisa.
"Penasaran apa Bunda?"
"Jujur sama Bunda, gimana Rafael malam tadi?"
__ADS_1
Reva hampir tersedak makanannya mendengar itu, bisa langsung Ia cerna dan mengerti ke arah mana pembicaraan. Melihat seringai di bibir mertuanya itu, membuat Reva malu. Jadi Bundanya itu tahu semalam Ia dan Rafael sudah begituan? Apa mungkin Rafael yang cerita?
"Ya begitu," jawab Reva ambigu.
"Katanya tadi itu malam pertama kalian ya?"
"Bunda tahu dari Rafael?"
"Iya, Rafael bilang malam tadi kalian baru melakukannya."
Reva mengangguk pelan, "Iya, memang kami baru melakukannya," cicitnya.
"Gak usah malu begitu sayang, santai aja."
Mau santai bagaimana, Reva kan malu digoda seperti itu oleh mertuanya. Mengingat kejadian semalam saja membuat Reva panas dingin sendiri, apalagi ternyata diketahui oleh orang lain. Ah ini benar-benar sangat memalukan.
"Jadi gimana rasanya?" tanya Alisa sambil menaik turunkan alisnya.
"Gimana apanya?" Reva pura-pura tidak mengerti.
"Apa sakit untuk kamu? Kalau Bunda pas awal begituan, lumayan agak takut dan sakit. Jalan kamu pagi ini persis banget kaya Bunda dulu."
"Oh itu aku juga ngerasain sih Bun, aku sempat takut. Tapi Rafael terus nenangin aku, malahan dia terus nanyain gimana perasaan aku." Reva tersenyum tipis kembali mengingat bagaimana perlakuan gentle Rafael semalam.
"Ternyata dia begitu ya, bagus deh jadi buat kamu tenang." Alisa hanya khawatir Rafael tidak bisa bersikap dengan baik dan ceroboh, kan Ia akan ikut malu.
Reva mengangguk lalu melanjutkan makannya dengan pelan, obrolan ini benar-benar sangat canggung dan membuatnya malu sendiri. Tetapi sepertinya tidak masalah cerita dengan mertuanya itu, toh Alisa bersikap biasa. Mungkin karena ini pertama melakukannya, bisa saja kedepannya jika sudah sering ya biasa saja.
"Nanti malam jangan lupa datang ya ke rumah, Bunda tunggu pokoknya," ucap Alisa mengalihkan obrolan.
"Iya pasti kami datang, mungkin datangnya bakalan agak sorean kan harus siap-siap dulu. Nanti aku bantuin Bunda beresin semua deh." Reva tentu harus ikut andil menyiapkan acara, menunjukan kalau dirinya adalah menantu yang baik.
"Okey Bunda tunggu." Alisa cukup lama di sana, di pukul dua belas siangnya baru pulang karena harus membawa kue dan menyiapkan masakan untuk acara syukuran malam nanti.
__ADS_1