Pasutri Gak Jelas

Pasutri Gak Jelas
109 Lebih Mandiri


__ADS_3

Selesai makan, Reva mencuci peralatan masaknya yang kotor. Vanessa sempat menawarkan, tapi langsung Reva tolak dengan alasan jika perempuan itu adalah tamu yang harus Ia layani. Selain itu juga, Vanessa kan tadi sudah mengajarkannya masak nasi goreng.


"Kok Kakak jalannya pakai tongkat?" tanya Celine pada Vanessa. Mereka sedang duduk di sofa, terlihat tayangan kartun di televisi.


"Kaki Kakak patah, jadi jalannya harus dibantu tongkat ini," jawab Vanessa ramah.


"Ya ampun pasti sakit ya Kak kaki patah itu?"


"Haha iya memang sakit, kalau gak dibantu tongkat gak akan bisa jalan."


"Apa nanti Kakak bisa jalan biasa lagi?"


"Bisa kok, tapi kayanya agak lama."


"Semoga bisa cepet sembuh ya."


Vanessa yang tidak bisa menahan rasa gemasnya lagi pada Celine lalu mengusap kepala anak itu, "Makasih ya, kamu lucu banget."


"Kakak juga cantik," balas Celine.


"Beneran Kakak cantik?" Rasanya sangat mengharukan saat ada anak kecil yang memujinya begitu. Katanya anak kecil kan tidak suka bohong.


"Iya kok cantik, tapi tetep cantikan Kak Reva," celetuk Celine polos.


Vanessa yang mendengar itu hanya tersenyum tipis, tidak tersinggung sama sekali saat di banding-bandingkan dengan Reva. Toh memang temannya yang satu itu sangat cantik, bahkan saat Ia pertama bertemu pun sudah kagum dan memujinya. Vanessa benar-benar beruntung bisa menjadi teman Reva.


"Celine sudah kenal Kak Reva lama ya?" tanya Vanessa yang ingin lebih mendekatkan diri dengan anak ini.


"Iya sudah, aku suka main juga sama Kak Reva."


"Apa Kakak boleh sekarang jadi teman Celine?" tanyanya penuh harap.


"Boleh kok, Kak Vanessa juga kelihatan baik."


"Asik makasih ya."

__ADS_1


Tidak lama Reva pun selesai dengan pekerjaannya dan menghampiri dua perempuan itu yang sedang memgobrol dengan asiknya di sofa. Reva lalu menyimpan potongan buah mangga dan naga di meja, biasanya selesai makan kan selalu makan buah-buahan.


"Lagi ngobrol apa sih kelihatan asik banget sampai ketawa-ketawa gitu?" tanya Reva sambil menggoda Celine. Anak perempuan itu terlihat nyaman bersama Vanessa, Ia saja yang melihatnya senang sendiri.


"Tadi Kak Vanessa cerita dongeng lucu, makanya aku ketawa Kak," jawab Celine yang masih berusaha menghentikan tawanya.


"Wah emang cerita apa?"


"Cerita kancil, dia bohongin buaya yang gak bisa menghitung."


Reva mengangguk mengerti, "Terus apa Celine bisa menghitung?"


"Bisa kok, dari satu sampai sepuluh." Celine sampai menunjukan semua jari tangannya.


"Hahaha masa cuman sampai sepuluh, kan hitungan banyak. Ratusan, ribuan sampai jutaan."


"Huft tapi aku masih kecil Kakak, aku gak bisa menghitung sebanyak itu," rengek Celine sambil menyenderkan kepalanya di tubuh Reva, membuat perempuan itu tidak bisa menahan tawanya.


"Celine suka belajar menghitung sama mbak Nana gak?" tanya Reva.


"Enggak, dia sukanya main HP terus," sahut Celine di sela kunyahannya.


"Iya, tapi kalau Papa pulang baru selesai mainnya dan pura-pura jagain aku."


Reva dan Vanessa pun kembali bertatapan, merasa miris saja mendengar cerita dari anak kecil itu. Sekarang Reva semakin yakin saja jika babysitter Celine itu memang tidak becus bekerja, alias bersifat munafik. Sepertinya sekarang Reva harus benar mengadukan kepada Evan agar babysitter nya itu kalau bisa dipecat.


"Reva, sepertinya aku harus pulang sekarang," ucap Vanessa sambil melihat jam di dinding.


"Oh iya sudah mau malam juga, maaf ya kali ini aku gak bisa anterin kamu pulang."


"Gak papa Reva, makasih ya sudah ajak aku main ke apartemen kamu lagi."


"Iya kan aku yang ajak kamu kesini buat ajarin aku masak, sering-sering kesini ya."


"Haha iya kalau kamu ngundang pasti aku dateng kok."

__ADS_1


Reva dan Celine terlebih dahulu mengantar Vanessa sampai ke bawah, perempuan itu pulang dengan menaiki kendaraan umum. Sebenarnya Reva tidak tega, tapi kan mobilnya masih hilang jadi tidak bisa membantu. setelah Vanessa benar-benar pergi, Reva pun akan mengantar Celine ke apartemennya.


Tok tok!


"Tunggu sebentar." Teriak dari dalam yang sudah pasti itu adalah Nana, saat membuka pintu ternyata benar. Nana terlihat terkejut melihat ternyata itu adalah Reva, bersama Celine.


"Non Celine ini dari mana aja sih? Mainnya selalu keluyuran, mbak kan sudah bilang jangan ke mana-mana." Dari nada bicara Nana, terlihat menahan kesal. Tetapi perempuan itu berusaha menahan karena ada Reva.


"Dia datang ke apartemen aku dan mengadu lapar, kamu belum kasih makan dia dari tadi siang?" tanya Reva dengan suara dinginnya.


"Hah? Em tadi siang--"


"Kamu ini sebenarnya bisa tidak sih menjadi babysitter? Kamu mengerti gak kerja jadi babysitter itu bagaimana?" tanya Reva mengomeli.


"Hei jangan sok menceramahi aku lagi, seperti kamu bisa saja jadi babysitter," balas Nana tidak kalah ketus.


"Walaupun aku tidak pernah jadi babysitter, dan umurku lebih muda dari kamu. Tapi sepertinya aku lebih baik dari kamu untuk menjaga Celine, dari pada kamu yang tidak becus sama sekali merawat dia." Reva sudah tidak bisa menahan emosinya lagi, apalagi Nana itu seperti tidak mau di salahkan padahal sudah tahu salah.


"Sudahlah lagi pula kamu ini hanya orang asing, tidak perlu ikut campur masalah di keluar ini."


Sebelum Nana menarik Celine, Reva dengan kasar melepaskannya, "Karena aku merasa mengganjal melihat ada orang lain yang bersikap semena-mena pada Celine. Orang itu juga tidak becus bekerja dan bersikap seenaknya. Aku ini masih normal, karena masih punya hati nurani untuk peduli pada orang lain."


Keributan itu tentu membuat orang lain tertarik melihat, mereka penasaran apa yang terjadi. Celine pun dari tadi hanya diam, tapi tangannya tidak Reva lepaskan sedikit pun. Kepala Celine lalu menoleh ke belakang, senyumannya langsung terukir melihat Papanya yang sudah pulang.


"Papa," panggil Celine dengan suara kerasnya.


Mendengar itu membuat Reva dan Nana otomatis menghentikan cekcok mereka, keduanya sama-sama melihat Evan yang berjalan mendekat. Terlihat ekspresi bingung di wajahnya, mungkin pria itu pun tadi sempat melihat keributan.


"Ada apa ini? Kok ramai sekali," tanya Evan penasaran.


"Maaf Tuan, ini Reva duluan. Dia datang-datang memarahi saya," adu Nana dengan wajah memelas nya.


Reva menatap nyalang Nana merasa tidak terima mendengar itu, "Bagaimana aku tidak marah melihat cara dia bekerja? Aku tidak terima dia menelantarkan Celine."


"Maksudnya?" tanya Evan semakin bingung.

__ADS_1


"Apa Kak Evan gak tahu bagaimana Celine di perlakukan selama ini oleh dia? Celine tidak dijaga dengan baik, Nana selalu mengabaikan dan tidak peduli." Reva yang mengadukan begitu, membuat Nana panik sendiri.


"Hah bagaimana?" pekik Evan terkejut baru mengetahui itu.


__ADS_2