
"Reva kamu gak papa?" tanya Rafael dengan nada paniknya, Ia pun menghampiri istrinya itu lalu berjongkok di depannya untuk melihat jelas lukanya itu. Melihat darahnya yang terus keluar, membuatnya membawa selembar tisu dan mengelap nya.
"Apa sampai kedengeran ke atas?" tanya Reva.
"Enggak sih, tadi kebetulan aku pas lagi turun tangga aja gak sengaja denger suara keras dari dapur. Jadi gimana kejadiannya sampai kamu luka begini?"
Sebelum Reva menjawab, terlihat Alisa yang sudah kembali, "Ini gara-gara Bunda yang malah nyuruh Reva ambilin piring," ucapnya tidak enak.
"Enggak Bunda, aku yang salah karena gak hati-hati." Kenapa Bunda nya itu jadi menyalahkan diri sendiri? Kan Reva sendiri yang menawarkan tadi.
"Iya tapi kalau misal Bunda gak suruh kamu ambil piring, mungkin kamu juga gak akan terluka."
Rafael menghela nafasnya, "Namanya juga bencana, manusia tidak ada yang tahu. Sudah tidak apa, lukanya juga gak terlalu parah kok."
Akhirnya Rafael pun yang berinisiatif mengobati, terlebih dahulu membersihkan lukanya itu dan menghentikan aliran darahnya. Reva yang dari tadi hanya diam memperhatikan dibuat tersenyum, merasa senang saja jika sudah mendapat perhatian dari Rafael. Di akhir pria itu lalu memperban luka di kakinya dengan kapas khusus.
"Sudah selesai," ucap Rafael sambil mengusap kakinya.
"Makasih." Reva mengatakannya sambil tersenyum.
"Sama-sama, lain kali hati-hati ya."
"Iya, tadi tangan aku agak licin juga makanya piringnya jatuh."
Bertepatan dengan itu Alisa datang sambil menyimpan piring berisi nasi goreng yang di masaknya tadi, Ayah pun sudah datang dan mereka pun mulai sarapan bersama. Ayah juga sempat menanyakan keadaan Reva, tapi perempuan itu menjelaskan dirinya sekarang sudah baik-baik saja berkat Rafael.
"Reva pasti gak tahu kalau dulu cita-cita Rafael itu sebenarnya ingin jadi dokter," ucap Ayah di sela makannya.
Reva langsung melirik Rafael terkejut, "Serius dulu pengen jadi dokter?" tanyanya sambil menahan senyuman.
__ADS_1
"Iya, impian masa kecil lah. Tapi Ayah bilang pengennya aku jadi pengusaha aja, biar lanjutin usaha dia kalau semisal sudah pensiun," jelas Rafael. Sebenarnya Rafael tidak masalah jadi apa saja, yang penting Ia tetap menjadi anak sukses di porsinya masing-masing.
"Pantesan aja dia rapih banget merbaninnya," celetuk Reva melihat lagi pekerjaan Rafael di kakinya, kedua orang tuanya pun repleks tertawa kecil.
"Kalau Reva dulu cita-cita nya mau jadi apa?" tanya Bunda nya.
"Hm gak tahu Bunda, aku ini random banget orang nya," jawab Reva sambil tersenyum kikuk.
"Hahaha tapi pasti adalah satu cita-cita yang paling kamu inginin?"
"Ada sih, jadi pramugari." Reva memilih mengatakannya.
"Oh ya? Terus apa nanti kuliah kamu akan ikut ke penerbangan?"
"Sayangnya gak bisa, karena Papa gak bolehin aku. Katanya dia khawatir kalau tiba-tiba pesawatnya jatuh, padahal menurut aku kalau jadi pramugari seru bisa jalan-jalan hehe."
Bunda nya mengangguk, "Iya Bunda mengerti bagaimana perasaan Papa kamu itu, tapi kalau Bunda sih kayanya akan dukung aja apapun yang kamu mau. Tapi kan sekarang yang jadi penanggung jawab Reva itu Rafael, jadi bagaimana menurut kamu Rafael?"
Ketiga orang di sana menatap Rafael bingung, menginginkan penjelasannya yang lebih lagi.
"Kenapa? Apa takut Reva kenapa-kenapa juga?" tanya Alisa.
"Ya selain itu juga mungkin kita akan jadi sulit ketemu kalau sudah sama-sama memiliki pekerjaan. Aku lebih pengen nanti kalau sudah wisuda Reva jadi Ibu rumah tangga aja, diam di rumah," jelas Rafael.
Entahlah apa yang dirasakan Reva saat ini setelah mendengar penjelasan dari Rafael, perasaannya campur aduk sekali. Pria itu seperti mengatur hidupnya, walaupun memang Rafael itu lebih berhak terhadapnya karena Ia adalah istrinya. Tetapi ada beberapa yang mengganjal dari kata-katanya tadi, Reva ada yang tidak setuju.
"Terus Reva jadinya ambil jurusan apa?" tanya Alisa.
"Dia akan ambil jurusan designer, aku lebih suka itu dari pada dia ambil penerbangan." Rafael lagi-lagi yang menjawab.
__ADS_1
"Ya sudah terserah kalian saja, tapi Bunda sama Ayah berharap kalian sekolah baik-baik dan tekun ya. Biar nanti jadi lulusan terbaik juga, bisa membahagiakan semua orang."
"Iya Bunda."
Selesai sarapan Ayah berangkat ke kantor, sedangkan Reva membantu lebih dahulu Bunda mencuci piring. Sempat ditolak karena Ia terluka, tapi Reva terus memaksa karena tidak enak juga. Selesai mengerjakan tugasnya, Reva pun naik dengan hati-hati ke lantai dua menuju kamarnya. Terlihat Rafael yang sedang menonton TV, Ia pun mendekat dan duduk di sebelahnya.
"Nanti kita pulang sebenyat lagi ya," ucap Rafael. Tetapi merasa tidak mendapat tanggapan, membuatnya menoleh. Melihat ekspresi wajah datar Reva, sepertinya ada sesuatu yang sedang di pikirkannya, "Kamu kenapa lagi? Kalau sudah jadi pendiem gini, aku selalu gak enak sendiri."
Reva terlihat menghela nafasnya, "Kenapa kamu gak setuju kalau misal aku jadi pramugari?"
"Kan tadi di bawah sudah aku jelasin."
"Tapi kamu juga punya cita-cita kan Rafael, kamu terus berusaha dan berjuang sampai cita-cita kamu itu terwujud. Aku juga pengen begitu, tapi gak ada yang dukung aku, bahkan suami aku sendiri." Nada suara Reva terlihat lirih, seperti menahan sedih.
"Kamu harus mengerti Reva, jadi seorang pramugari itu resikonya besar." Rafael mencoba menjelaskan dengan baik, jangan sampai Ia terbawa emosi
"Tapi kan orang bilang takdir kematian itu sudah di atur Tuhan. Kalau misal aku sudah saatnya kembali, ya memang sudah takdirnya dong," ucap Reva belum mau kalah.
Rafael lalu membawa kedua tangannya, membuat mereka duduk saling berhadapan, "Aku tahu, tapi aku juga berusaha mencegah. Belum lagi kalau kita sudah sama-sama bekerja, kamu akan sering ninggalin aku."
"Nanti juga kamu bakal ninggalin aku," ketus Reva sambil memanyunkan bibirnya.
"Itu kan beda, aku di sana itu sekolah, belajar," tekan Rafael.
"Lagian kan Papa juga gak setuju kalau kamu jadi pramugari, aku dan Papa punya pemikiran yang sama. Aku yakin di tempat lain kamu akan mendapat yang lebih, percaya ya sama aku?" Lanjut Rafael.
Tetapi Reva merasa belum mau menerima keputusan itu, Ia pun memilih beranjak dan keluar kamar. Rafael yang melihatnya kembali menghela nafas berat, ternyata cukup sulit juga membujuk Reva yang ngambek itu. Padahal Rafael sudah berusaha menjelaskan, sepertinya Reva benar-benar menginginkannya.
"Dia juga sangat cantik, bagaimana kalau misal ada penumpang lain yang suka?" Batin Rafael memikirkan hal lain.
__ADS_1
Keputusan Rafael akan tetap, yakni tidak akan mengizinkan Reva menjadi seorang pramugari. Rafael tidak egois kan?