
Sesampainya di rumah kedua orang tuanya, mereka langsung turun. Rafael dengan gentle nya membawakan tas ransel Reva juga, sedang perempuan itu hanya memeluk buket bunga pemberiannya tadi.
"Bunda Ayah, kami datang," teriak Reva memasuki rumah.
Terdengar suara langkah kaki menuruni tangga, terlihat lah seorang wanita paruh baya yang memiliki wajah lembut dan kerudung yang menutupi rambutnya. Setelah dekat, kedua perempuan itu pun langsung berpelukan erat sambil tertawa riang.
"Akhirnya kalian datang juga, Bunda sudah nungguin dari tadi," ucapnya setelah melepas pelukan.
"Hehe iya maaf."
Perhatian Alisa teralih pada yang dipegang Reva, "Cie itu bunga dari siapa?"
Reva langsung tersenyum-senyum sambil melirik Rafael, membuat Alisa pun mengerti dan kembali tertawa cekikikan. Melihat pasangan muda yang kasmaran itu, membuatnya ikut senang sendiri.
"Terus buat Bunda mana?" tanya Alisa pada putranya.
"Maaf Bunda, aku gak beli," jawab Rafael sambil tersenyum kikuk.
"Ah mentang-mentang sekarang sudah punya istri, jadi lupa ya sama Bunda juga."
"Nanti deh aku beliin."
"Iya-iya gak papa, Bunda kan bisa minta sama Ayah. Kamu mending manjain aja istri kamu ini, biar Reva senang. Iya kan?"
Ditanyai pendapat seperti itu, membuat Reva jadi gugup dan malu sendiri menjawabnya. Jujur saja Ia memang senang jika Rafael sudah bersikap perhatian dan romantis, tapi untuk mengakuinya gengsi sekali.
"I-iya seneng kok," jawab Reva pelan.
"Aduh kalian lucu banget, bikin Bunda nostlagia aja pas masih muda." Alisa lalu berdehem pelan, "Ya sudah, kalian pindahin barang ke kamar dulu gih. Nanti pas makan malam sudah siap, Bunda bakal panggil."
"Iya." Reva pun memilih pergi lebih dahulu.
Rafael sebelum pergi bertanya sesuatu dulu pada Bunda nya itu, "Ayah mana ya? Kok aku gak lihat."
"Ayah belum pulang, apalagi kalau hari Sabtu pulangnya selalu lebih malam."
"Kasihan," gumam Rafael pelan.
"Iya kasihan, tapi dia juga bekerja keras kan buat kita." Alisa lalu menepuk-nepuk bahu Rafael, "Nanti kalau kamu sudah siap terjun ke pekerjaan, bisa gantiin Ayah ya?"
"Iya pasti, sekarang aku pengen belajar dengan tekun dan rajin dulu biar nanti bisa sekolah di Universitas bagus."
"Bunda akan selalu doakan yang terbaik untuk kamu."
__ADS_1
Rafael lalu menaiki tangga menuju kamarnya yang berada di bagian paling kiri lantai dua. Rumahnya ini cukup luas, tapi sepi karena yang tinggal hanya beberapa orang saja. Dulu Rafael sempat ditawarkan tinggal di sini bersama Reva, tapi Ia tolak karena tidak mau mereka tahu hubungannya dengan Reva yang sebenarnya. Selain itu pastinya agar bisa lebih bebas.
"Kyaaa!" Reva menjerit kencang sambil menutupi bagian dadanya.
Kedua mata Rafael terbelak karena tadi sempat melihat jelas dada besar Reva tanpa ditutupi apapun. Ia pun segera berbalik sambil mengatur nafasnya. Kenapa Ia masuk di saat waktu yang tidak tepat sih? Bikin canggung saja.
"Ih Rafael, kirain siapa," dengus Reva.
"Kamu lagi ganti baju? Lain kali kunci pintunya."
"Iya lagi ganti baju, tapi kan di rumah ini gak ada siapa-siapa."
"Ya jaga-jaga aja, gimana kalau tadi yang masuk bukan aku."
"Gak mungkin lah," bantah Reva, "Santai aja kali."
"Masih ganti baju? Kalau gitu, akun tunggu di luar ya?"
"Ngapain tunggu di luar?"
"Ya kamu kan mau ganti baju, pasti malu lah kalau ada aku."
"Gak akan, lo kan suami gue," jawab Reva enteng.
"Rafael, kita kan suami istri. Gak papa dong kalau saling lihat aurat masing-masing, kan?" tanya Reva.
"A-aku gak bisa, aku malu."
"Malu kenapa?"
Tetapi Rafael hanya diam karena bingung sendiri harus menjelaskan bagaimana. Nafasnya semakin memburu karena Reva dengan sengaja malah menggesek-gesekkan dadanya itu. Rafael tidak tahu apa Reva memakai penutup atasan atau tidak.
"Rafael harus biasain dong, masa cewek cantik seksi gini di sia-sia in?"
Dengan sekuat tenaga, Rafael melepaskan pelukannya, "Aduh lepas ah Reva, jangan mulai deh!"
"Mulai apaan sih? Kita bahkan belum dimulai."
Merasa percakapan mereka tidak menyambung dan perempuan itu terus menggodanya, membuat Rafael memutuskan segera keluar kamar. Saat pintu tertutup, Ia bisa mendengar tawa keras dari dalam. Rafael sudah tahu Reva hanya mengerjai nya saja.
"Ck bagaimana kalau semisal aku lupa diri? Nanti Reva juga yang repot," dengus Rafael.
Sebenarnya Rafael bisa saja berhambur menerkam Reva saat itu juga, tapi Ia merasa tidak siap dan sedikit gugup. Istrinya itu sangat berani, sifat mereka memang berkebalikan. Rafael harus selalu menahan diri dari godaan-godaannya itu.
__ADS_1
"Rafael, Reva mana?" tanya Alisa yang baru datang.
"Dia lagi ganti baju di dalam, Bunda."
"Terus kenapa kamu di luar?"
"Em itu--"
Tatapan Alisa pun memicing, "Jangan-jangan kamu malu sendiri lihat dia ganti baju?"
"Bukan kok," bantah Rafael cepat, "Aku cuma mau lihat-lihat rumah, haha sudah lama gak kesini jadi kangen."
"Aneh kamu, rumah gak ada yang beda."
Jangan sampai deh Bunda nya itu tahu, nanti kan bisa curiga juga mengenai hubungannya dengan Reva yang memang kurang akur dan dekat. Ia dan Reva jika sedang bersama kedua orang tuanya selalu berusaha terlihat seperti pasangan sungguhan.
Ceklek!
Pintu terbuka dan keluar lah Reva dengan baju tidur panjangnya. Melihat Alisa, Ia pun langsung mendekatinya. Kedua perempuan itu pun pergi turun lebih dahulu, tanpa mempedulikan Rafael. Padahalkan di sini yang anak kandung itu Rafael.
"Haduh hampir mati aku," ucap Rafael sambil mengusap dadanya. Bayangan tadi masih teringat jelas di pikirannya.
Pria itu segera masuk ke kamar untuk mengganti bajunya juga dengan yang lebih santai. Baru saja turun dari tangga, Ia melihat kehadiran Ayahnya yang sepertinya baru pulang bekerja. Rafael pun menghampirinya dan menyalami tangannya itu.
"Rafael, kamu di sini dari kapan?" tanya Ayahnya.
"Dari tadi sih, Ayah baru pulang?"
"Iya."
"Aku kira bakalan lebih malam, biasanya kan malam minggu selalu lembur."
"Biasanya, tapi untungnya tugas hari ini gak terlalu banyak jadi bisa pulang lebih cepat."
"Pasti capek ya?"
Ayahnya hanya tersenyum tipis, "Nanti juga kamu ngerasain, kalau dijalani dengan ikhlas ya biasa saja."
"Ya sudah, Ayah mending mandi. Aku sama yang lain tunggu di meja makan ya, kita makan malam bareng."
"Ada Reva juga?"
"Iya lah, dia kan istri aku. Mana mungkin gak ikut."
__ADS_1
"Haha iya bener, nanti dia ngambek lagi kalau gak di ajak."