Pasutri Gak Jelas

Pasutri Gak Jelas
103 Kali Ini Memilih Jujur


__ADS_3

"Dia suami aku."


"Apa?!" pekik Vanessa tanpa sadar dengan suara kerasnya sanking terkejut, tapi perempuan itu langsung meringis menyadari dirinya bersikap tidak sopan di rumah orang lain.


"Haha kaget ya?" Reva dibuat terhibur melihat ekspresi terkejut dari temannya itu.


"Reva kamu serius? Pasti kamu lagi bercanda, kan?" tanya Vanessa memastikan lagi, Ia rasanya sulit sekali percaya.


"Kalau menurut kamu apa aku lagi bohong?"


Dilihat dari ekspresi wajah Reva yang tersenyum, sebenarnya Vanessa tidak bisa memastikan sendiri apa temannya itu berbohong atau tidak. Ia lalu kembali melihat pigura itu, di sana Reva dan pria itu terlihat bahagia. Vanessa sempat menduga jika dua orang itu bersaudara, tapi anehnya tidak terlalu mirip.


"Tapi masa sih Reva kamu sudah nikah? Umur kamu sama kan kaya aku?" tanya Vanessa lagi.


"Iya masih sembilan belas tahun, dan aku nikah sudah mau setengah tahun sama Rafael."


"Tunggu, jadi benar kalau kamu sudah menikah?" Bahu Vanessa melemas begitu saja, ternyata temannya itu serius.


Reva lalu menarik tangan Vanessa untuk duduk di sofa agar mengobrol bisa lebih santai. Reva lalu membuka ponselnya melihat ke galeri, menunjukan sebuah foto saat Ia dan Rafael ijab kabul agar Vanessa lebih percaya.


"Aku sama Rafael di jodohin, lebih tepatnya permintaan terakhir Mama aku sebelum dia meninggal. Kami bahkan menikah di rumah sakit, tepat di depan Mama aku yang terbaring kritis," ucap Reva menjelaskan.


Setelah Vanessa melihat foto itu, barulah Ia percaya, "Ya ampun, aku benar-benar gak nyangka kamu nyembunyiin rahasia besar begini ke aku," ucapnya dramatis.


"Haha maaf ya baru bilang, pasti kamu kaget banget, kan?"


"Bukan kaget lagi, rasanya jiwa aku sekarang kaya melayang aja."


"Hahaha dasar, kamu bisa aja Vanessa." Kalau dulu saat SMA Reva dan Rafael sengaja menyembunyikan rahasia pernikahan karena khawatir terganggu pelajaran, tapi sekarang Reva memutuskan mengungkapkan karena tidak mau lagi menimbulkan masalah. Lagi pula pasti yang sudah menikah bukan hanya dirinya, banyak yang lain juga di Kampus.


"Jadi nama suami kamu itu Rafael? Terus sekarang suami kamu dimana?" Vanessa sampai memperhatikan apartemen itu, Ia harus menyapa sopan suami temannya.


"Dia gak ada di sini, dia di Amerika sekarang, kuliah," jawab Reva.

__ADS_1


"Wah jadi kuliah di luar negeri? Dimana?"


"Di Harvard."


"Keren banget, terus kenapa Reva gak ikut ke sana bareng?"


Reva menggeleng, "Aku kesulitan masuk ke Universitas bergengsi itu karena emang gak terlalu pinter, kalau Rafael itu dari sekolah juga emang berbakat dan pinter sering juara dan ikut lomba."


"Pantesan, tapi hebat suami kamu bisa terpilih sekolah di sana. Katanya kan untuk masuk aja susah, dipilih mana yang terbaik dari seluruh dunia." Vanessa terlihat semangat sekali, tentu saja merasa kagum karena ada orang yang bisa masuk ke Universitas hebat itu.


"Iya tapi Rafael emang pantes sih, Cita-cita dia akhirnya tercapai juga buat bisa kuliah di sana," sahut Reva sambil tersenyum tipis.


"Em jadi sekarang Reva dan Rafael harus LDR dong?" tanya Vanessa hati-hati.


"Ya mau gimana lagi, kita sibuk belajar masing-masing." Sebenarnya sedih, tapi pasti ini pun yang terbaik untuk masa depan mereka nanti.


"Jadi dulu Reva gak tinggal sendirian kan di sini?"


"Iya, dulu sama Rafael."


"Enggak ah, aku kan udah besar."


Sebenarnya selain main ke apartemen Reva, mereka juga sekalian mengerjakan tugas yang diberikan. Tidak terlalu sulit, apalagi mengerjakannya berdua. Keduanya duduk di lantai dengan beralasan karpet bulu, terlihat fokus mengerjakan tugasnya.


Tok tok!


"Kayanya makanannya udah dateng, bentar aku bawa dulu," ucap Reva lalu beranjak dari duduknya. Tadi memang sengaja memesan beberapa makanan untuk pendamping mengerjakan tugas.


"Kamu beli banyak banget, jadi totalnya berapa?" Vanessa terlihat membawa tasnya untuk membawa uang.


"Enggak usah, aku yang traktir," tolak Reva.


"Jangan dong, kan aku juga mau makan. Kita patungan aja ya?"

__ADS_1


"Gak usah Vanes, kamu kan tamu di sini. Jadi aku mau layani kamu dengan baik."


Tatapan Vanessa melembut, "Makasih ya Reva, kamu baik banget." Sungguh rasanya sangat mengharukan sekali karena merasa baru pertama kali di hidupnya bisa memiliki seorang teman sebaik dan setulus Reva.


"Loh kok nangis?" tanya Reva terkejut, Ia pun bergeser mendekati Vanessa.


Vanessa menggeleng sambil menghapus air mata di pipinya, "Enggak papa, aku cuman terharu aja," ungkapnya jujur.


"Terharu kenapa?"


"Aku itu sebenarnya pemalu dan susah banget interaksi sama orang lain, sampai dulu buat aku gak punya banyak teman apalagi teman dekat. Tapi setelah kuliah aku pikir aku harus berubah, dan ternyata aku malah ditemuin sama kamu. Aku benar-benar beruntung bisa jadi teman Reva, makasih ya untuk semuanya." Vanessa mengatakannya dengan tulus, air matanya bahkan tidak mau berhenti menetes.


"Ya ampun Vanessa, kamu berlebihan. Aku juga seneng kok temenan sama kamu, sudah jangan nangis." Reva pun memeluk temannya itu, sambil mengusapi punggungnya berusaha memberikan ketenangan.


Melihat Vanessa yang terlihat sangat bersyukur memilikinya, membuat Reva ikut terharu dan merasa bangga begitu saja. Ia tidak tahu apa yang sudah temannya itu lewati selama ini, tapi sepertinya Vanessa cukup kesepian. Apakah Vanessa baik-baik saja?


"Apa Reva mau aku rahasiain soal kamu yang sudah menikah? Aku janji gak akan nyebarin atau cerita ke siapa-siapa," ucap Vanessa sambil menunjukan jari kelingkingnya.


"Gak papa kok, aku gak masalah kalau orang lain juga tahu. Kayanya mereka juga bakalan kaget, tapi kan bukan cuman aku pasti yang sudah nikah di Kampus," sahur Reva.


"Iya bener juga, tapi kayanya aku gak bakal cerita sama yang lain. Biar aja mereka tahu sendiri, atau kamu yang cerita langsung."


Melihat kesungguhan dan kesetiaan Vanessa membuat Reva kembali tersenyum. Sepertinya Ia sudah menemukan teman yang tepat, seperti yang Rafael pinta dulu kepadanya. Reva lalu terdiam memikirkan pria itu, semoga saja Rafael pun mendapatkan teman yang baik sepertinya di sana.


"Reva kayanya aku harus pulang sekarang, bibi sudah suruh aku pulang karena gak enak sama yang lain," ucap Vanessa dengan nada bergetar nya.


"Ya sudah aku anterin kamu ya biar cepet."


"Makasih ya Reva."


"Nanti bilang makasihnya kalau sudah sampai di sana."


Vanessa tersenyum malu, "Iya."

__ADS_1


Reva pun masuk ke kamarnya dahulu untuk membawa jaket, Ia hanya memakai pakaian santai karena di dalam mobil juga. Tadi juga nyemil makanan fast food sudah mengganjal perutnya, sepertinya Reva tidak akan makan malam lagi.


__ADS_2