Pasutri Gak Jelas

Pasutri Gak Jelas
63 Berusaha Mengelabui


__ADS_3

Deringan ponsel di meja membuat perhatian kedua wanita itu teralih. Reva beranjak untuk melihatnya, itu ponsel milik Papanya tapi yang menghubungi adalah Rafael. Kedua mata Reva terbelak, Ia pun membawanya sambil meredam suara deringan itu. Kebetulan Papanya sedang keluar, katanya mengurus pembayaran Oma.


"Aduh gimana nih," bingung Reva. Sudah pasti Rafael itu akan menanyakan keberadaannya pada Papa, kalau sampai Papanya mengangkat akan langsung memberitahu. Nanti Reva juga pasti akan dimarahi karena berbohong bilang sudah minta izin.


"Aku tulis pesan saja deh."


Terlebih dahulu Reva mematikan panggilan itu, lalu beralih dengan mengirim pesan. Ia akan pura-pura menjadi Papa, kalau ber teleponan sudah pasti curiga karena bukan suara Papanya. "Ada apa Rafael? Maaf tidak angkat panggilan, Papa sedang di ruang kerja."


[Maaf Pah kalau ganggu, aku cuma mau tanya apa Reva bersama Papa?]


Senyuman sinis terukir di bibir Reva ternyata dugaannya benar, Ia pun membalas dengan berbohong, "Tidak, Papa tidak tahu dia dimana."


[Benarkah? ]


"Kenapa kamu bertanya begini? Apa Reva baik-baik saja?"


[Sebenarnya dari kemarin Reva tidak ada, aku sudah berusaha mencari dia dengan berbagai cara. Aku pikir Reva bersama Papa.]


"Bagaimana bisa Reva menghilang? Kenapa juga kamu bisa tidak tahu Reva kemana?" Reva terkekeh geli sendiri karena dirinya berakting menjadi Papanya dan mengomeli Rafael, pasti pria itu di sana sedang panas dingin karena menganggap mertuanya marah.


[Kami ada sedikit masalah, maaf Pah. Tapi aku janji akan segera menemukan dia, aku minta bantuan Papa juga ya.]


"Ada-ada saja kamu ini Rafael, kenapa kamu tidak bisa menjaga Reva dengan baik? Pokoknya kamu harus menemukan dia dalam waktu cepat ini, awas saja kalau Reva sampai kenapa-napa!"


Reva tidak bisa menahan tawanya lagi setelah mengirim pesan itu kepada Rafael, aktingnya sudah bagus, kan? Semoga saja Rafael itu tidak curiga, malahan intropeksi diri dan memikirkan kesalahannya sendiri. Papanya sebenarnya tidak segalak ini, tapi dengan alasan dirinya menghilang pasti Rafael pun bisa mengerti. Tidak tahu saja yang membalas pesannya itu dirinya.


"Kamu sedang apa Reva? Kenapa mainin handphone Papa?" tanya Papanya yang sudah kembali.


Reva berbalik sambil nyengir lebar, "Hehe gak papa kok Pah, tadi cuman kepo aja apa ada cewek yang lagi deket sama Papa." Reva pun memberikan ponselnya itu pada Papanya, untung saja tadi pesannya pun sudah Ia hapus jadi tidak akan curiga.


"Astaga kamu ini, jadi dapat tidak?"


"Enggak, memangnya Papa gak deket sama siapa-siapa gitu?" Reva tidak terlalu mengekang Papanya itu, lagi pula kan Mamanya juga sudah meninggal dan Papanya butuh pendamping lagi.

__ADS_1


"Sebenarnya sih ada yang deketin, tapi untuk sekarang Papa masih banyak kerjaan dan pengen fokus dulu."


Reva mendengus tanpa sadar, "Sok terkenal ih," ledek nya.


Papanya tertawa, "Papa memang terkenal, walaupun sudah berumur tapi masih tampan dan gagah," ucapnya penuh percaya diri.


Reva lalu duduk di sofa sambil menyalakan ponselnya yang dari semalam Ia matikan karena sengaja ingin menghindari Rafael. Saat melihat Reva terkejut ada beberapa panggilan tidak terangkat dari Rafael, sekarang sudah ke sepuluh. Tanpa bisa ditahan Reva tersenyum kecil, merasa sedikit terharu karena ternyata benar Rafael mengkhawatirkannya.


"Besok sore katanya Mama bisa pulang, sekarang gimana keadaannya?" tanya Papanya.


"Sudah lebih baik, kamu juga cepet banget langsung kesini."


"Iya, soalnya aku khawatir. Kenapa Mama gak mau tinggal sama aku aja di Jakarta? Dari pada di Surabaya sendirian."


"Mama gak bisa ninggalin rumah itu, banyak sekali kenangan di sana. Di sini Mama gak sendirian kok, ada mbok yang nemenin."


"Iya sih, tapi aku bakal lebih tenang kalau setiap hari bisa lihat Mama."


"Mending kamu anter Reva pulang, kasihan dia pasti bosen di sini," suruh Omanya.


"Enggak kok Oma, aku gak bosen," bantah Reva. Tidak terasa sudah siang lagi, tapi Ia cukup betah karena mengobrol dengan Omanya.


"Kamu mau pulang?" tanya Papanya.


"Terus Papa bakal kesini lagi?" tanya Reva balik.


"Nanti aja sore Papa kesini lagi, sekarang mau pulang dulu istirahat di rumah."


"Ya sudah, nanti sore aku ikut lagi ya jemput Oma pulang."


"Iya."


Keduanya pun pulang setelah berpamitan pada Oma, di sana Oma tidak sendiri karena ada mbok yang menemani. Jarak dari rumah sakit ke rumah Oma lumayan jauh, ada setengah jam an. Sesampainya di rumah, penjaga pun langsung membukakan gerbang.

__ADS_1


"Silahkan Tuan," ucapnya ramah sambil tersenyum lebar. Namanya Pak Agus, sudah bekerja di sini selama dua puluh tahun, istrinya pun pembantu di rumah ini.


Rumah Oma bergaya khas zaman dulu dengan banyak kayu, namun begitu masih terlihat mewah dan khas sekali. Lantainya ada dua, dengan ukuran rumah yang lumayan luas. Di belakang ada kebun buah dan sayur, sedang di depan banyak tanaman hias. Oma memang suka sekali merawat tanaman.


"Reva," panggil Papanya.


Reva yang baru saja akan naik ke lantai dua menoleh, "Apa?"


"Rafael nelepon kamu gak?"


"Memangnya kenapa?"


"Ya gak papa, biasanya kan pasangan harus selalu tukar kabar."


Reva tanpa sadar mendengus, "Enggak, lagian kan dia juga punya kesibukan tersendiri."


"Iya juga, tapi.. "


"Sudah ya aku mau tidur dulu, capek banget semalam."


"Hm."


Di rumah Omanya tentu Reva punya kamar sendiri, berada di bagian paling pojok yang pemandangannya langsung melihat ke halaman belakang. Entah kenapa setiap ke rumah Omanya, Reva selalu merasa nyaman dan betah. Mungkin Reva sedang bernostalgia, sekalian mengenang almarhum Mamanya.


"Beneran Rafael nyariin gue?" gumam Reva seorang diri. Membayangkan Rafael yang sedang kelimpungan membuat Reva antara senang tapi juga kasihan. Bagaimana kalau sampai meminta bantuan polisi? Tidak, itu terlalu berlebihan.


"Biarin aja deh sebentar lagi, anggap aja ini hukuman karena udah dingin sama gue." Apakah di sini Reva terlihat kekanakan sekali? Bukannya alasan perubahan sikap Rafael pun karenanya? Tetapi Reva pikir, pria itu pun salah karena tidak bisa mengerti posisinya.


Drrt!


Sebuah pesan masuk, tapi yang mengejutkannya itu dari Ica. Reva pun langsung melihatnya. ["Tadi di sekolah si Rafael nyariin lo.]


Reva tidak kenyangka Ica mau mengirimnya pesan, apakah sahabatnya itu sudah tidak ngambek lagi? Reva harap sih begitu, tapi Reva harus memastikannya nanti saat bertemu lagi. Reva ingin menyelesaikan masalahnya dengan Ica, semoga saja mereka bisa berkumpul bertiga lagi.

__ADS_1


__ADS_2