Pasutri Gak Jelas

Pasutri Gak Jelas
Belajar Romantis


__ADS_3

Setelah berbaikan keduanya pun melanjutkan perjalanan. Anehnya suasana di dalam mobil menjadi canggung, mungkin karena tadi sempat ribut tapi dalam waktu tidak lama langsung berbaikan lagi. Namanya juga pasutri.


"Eh kok berhenti?" tanya Reva bingung.


Rafael membuka seatbelt nya, "Sebentar aku mau beli dulu sesuatu."


"Beli apa? Bukannya gak perlu beli makanan, kan ada oleh-oleh dari Amerika," ujar Reva.


"Bukan mau beli itu, ada deh sesuatu. Kamu tunggu aja." Setelah mengatakan itu, Rafael pun turun dari mobilnya.


Reva dari dalam memperhatikan suaminya itu, ternyata masuk ke salah satu toko bunga. Perasaan Reva tiba-tiba berdebar, Jangan-jangan suaminya itu ingin memberikan hadiah manis untuknya? Tanpa bisa ditahan bibirnya mulai tersenyum-senyum.


Hampir sepuluh menitan Rafael di dalam, pria itu akhirnya kembali sambil membawa buket bunga berukuran lumayan besar. Saat masuk ke mobil langsung menghadapkan tubuhnya pada Reva, lalu memberikan bunga yang dibelinya itu.


"Apa ini?" tanya Reva sambil menerimanya.


"Itu sebagai tanda permintaan maaf dari aku, maaf ya sudah nuduh kamu begitu. Aku tahu kamu istri yang baik, kamu juga gak mungkin begitu," Jawab Rafael sambil menggaruk pangkal hidungnya.


"Gak papa, aku juga ngerti kok perasaan khawatir kamu itu. Makasih ya bunganya, aku seneng."


Siapa juga yang tidak senang diberikan hadiah manis seperti ini, sudah lama juga Reva tidak mendapatkannya karena suaminya ini ada di luar negeri. Perasaan kesal karena tadi sempat ribut pun menguap begitu saja, sekarang Reva sudah benar-benar tidak kesal pada suaminya itu.


"Kamu romantis banget sampai beliin aku bunga," ucap Reva. Ia terus memandangi bunga mawar merah itu, sesekali menghirup wanginya juga.


"Katanya kan perempuan suka hadiah begitu, mungkin dengan aku kasih bunga bisa buat kamu luluh," sahut Rafael tetap fokus menyetir.


"Kamu tahu aja apa yang buat istri senang."


"Haha iya dong," kekeh Rafael.


"Tapi banyak loh yang bisa luluhin hati pasangan yang lagi ngambek selain ngasih bunga juga." Kode Reva.


"Oh ya? Apa tuh?"


"Shopping," jawab Reva dengan senyuman lebar.


Rafael pun menoleh sekilas, "Dasar, lagi ngegoda aku ya?"


"Hehe nanti kita shopping ya, sudah lama loh."

__ADS_1


Sebenarnya selama Rafael di luar negeri juga, Reva sering shopping bersama teman-temannya. Tetapi kan jika dengan pasangan, mungkin bisa sedikit menghemat uang jajannya. Kapan-kapan lagi bisa manja begini pada suami.


"Iya nanti, tenang aja," ucap Rafael. Ia juga tidak berdaya menolak, membuat istri bahagia kan bisa membuatnya juga senang.


"Makasih."


Setelah perjalanan lumayan lama itu, akhirnya mereka sampai juga di rumah Bunda dan Ayah. Seperti biasa keadaan rumah selalu sepi, ya karena yang tinggal hanya berdua, dengan seorang pelayan. Rafael membawa paperbag berisi oleh-oleh untuk kedua orang tuanya, sedangkan Reva hanya memeluk buket bunga pemberian Rafael. Sayang jika ditinggal di mobil.


Tok tok!


"Assalamu'alaikum Bunda," teriak Reva sambil mengetuk pintu berkali-kali.


Tidak menunggu lama, pintu pun terbuka dari dalam. Alisa tersenyum lebar melihat yang datang adalah menantunya, Ia pun memeluknya setelah cepaka-cepiki. Tetapi saat menoleh Alisa terkejut baru menyadari ada Rafael di belakangnya. Alisa pun melepaskan pelukannya dengan pelan dan beralih mendekati putranya itu.


"Rafael, ini kamu?" tanya Alisa dengan tatapan tidak percaya.


"Iya Bunda ini aku," jawab Rafael dengan senyuman tipisnya.


Alisa pun langsung berhambur memeluk anaknya itu dengan erat. Kedua matanya pun berkaca-kaca dan akhirnya meleleh juga, merasa terharu karena bisa bertemu dengan putranya lagi setelah beberapa bulan berpisah.


"Hiks Rafael, Bunda kangen banget sama kamu," isak Alisa.


Rafael pun membalas pelukan itu, "Aku juga sama kangen sama Bunda dan Ayah," balasnya.


"Rafael malah pulang kemarin malam Bunda, aku juga kaget pas dia tiba-tiba ada di apartemen," sahut Reva.


"Loh kenapa?"


"Kejutan, aku sengaja bilang gitu biar kalian kaget hehe," jawab Radael sambil terkekeh kecil.


Alisa pun menepuk pelan dada Rafael, "Dasar, iya dan kami benar-benar kaget."


Alisa lalu mengajak anak-anaknya untuk masuk ke rumah, wanita itu terlihat bersemangat dan bahagia sekali hari ini. Pastilah senang karena anaknya pulang setelah sekian lama. Alisa meminta bibi membawakan minuman, sedangkan dirinya akan memanggil Ayah di kamar.


"Kamu beliin apa aja buat Bunda sama Ayah?" tanya Reva.


"Baju, aksesoris sama makanan," jawab Rafael. Ada dua paperbag yang Ia bawa.


"Aku kira cuman makanan aja."

__ADS_1


"Enggak, Bunda pernah bilang dia pengen hiasan buat di rumah gitu dari Amerika katanya, jadi aku beliin."


"Bagus."


Tidak lama Ayah dan Bunda pun datang, Rafael kembali berdiri menghampiri Ayahnya dan mereka pun berpelukan. Walaupun Ayahnya tidak bereaksi banyak, tapi Rafael yakin Ayahnya itu tetap senang melihatnya pulang, terbukti kedua matanya yang berkaca-kaca.


"Ini oleh-oleh dari Rafael buat Ayah sama Bunda," ucap Reva sambil memberikan.


"Ya ampun makasih ya, sampai repot-repot beliin buat kita," ujar Bunda sambil tersenyum-senyum merasa senang. Ia dan suaminya pun membukanya untuk melihat.


"Kenapa banyak sekali coklat? Kami bukan anak kecil Rafael," ucap Ayah sambil menghela nafas.


Rafael menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Hehe mungkin aja Ayah sama Bunda belum pernah cobain coklat Amerika gitu."


"Bukannya rasanya sama aja ya rasa coklat?" celetuk Reva yang mengundang tawa dari mertuanya.


"Aku juga beli beberapa makanan lain yang gak ada di Indonesia kok," bela Rafael.


"Ya sudah gak papa, nanti kita pasti habisin kok," ujar Bunda.


Mereka pun mengobrol-ngobrol, tentang bagaimana keseharian Rafael di sana. Pria itu walaupun tinggal sendirian, tapi terlihat tidak kerepotan dan dengan mudah terbiasa dengan lingkungan baru. Walaupun banyak yang berbeda dengan Indonesia.


"Terus kamu mau liburan berapa lama di sini?" tanya Ayah.


"Hm kayanya cuman sepuluh hari," jawab Rafael.


"Sebenarnya lumayan lama, tapi pasti waktu akan cepat berjalan," gumam Bunda dan diangguki yang lain.


Ya mau bagaimana lagi, Rafael pergi juga kan karena Kuliah. Kalau ditanya lebih betah dimana, sudah pasti lebih betah di Indonesia karena ada keluarganya. Tetapi di sana juga Rafael sedang belajar, mempersiapkan masa depannya.


"Malam ini kalian bakalan nginep, kan?" tanya Bunda senang sendiri.


"Kayanya enggak Bunda," tolak Rafael.


"Loh kenapa? Nginep dong."


"Nanti saja ya Bunda, sebelum aku pulang ke Amerika pasti nginep kok."


Sebelum Bunda protes, Ayah memegangi tangannya membuat Bunda menoleh, "Kamu harus mengerti, sekarang Rafael dan Reva sedang butuh waktu berdua," bisiknya mengkode.

__ADS_1


Bunda mengangguk sambil menghela nafasnya, "Ya sudah gak papa, tapi pokoknya nanti sebelum ke Amerika lagi harus nginep dulu. "


"Iya pasti," sahut Rafael.


__ADS_2