
"Rosalind turun, ayo mandi," perintah Reva.
"Gak mau, hari ini aku gak mau sekolah ya Mama?"
Senyuman di bibir Reva langsung hilang, "Kenapa?"
"Soalnya aku mau seharian sama Papa hehe," jawabnya konyol.
"Jangan aneh-aneh deh, kamu harus sekolah. Mama panggilin mbak Rahma kesini ya untuk mandiin kamu."
"Gak mau, pokoknya aku gak mau sekolah titik!" jerit nya tidak mau menurut.
Reva memicingkan matanya sambil berkacak pinggang. Padahal Ia bukanlah orang yang sabar, tapi memiliki anak seperti Rosalind yang sedang nakal-nakalnya di usia ini membuat kesabaran Reva selalu teruji.
"Mama hitung sampai tiga ya, pokoknya harus keluar kamar. Satu dua tiga." Melihat anaknya itu masih memeluk Rafael, membuat kesabaran Reva habis.
Perempuan itu pun mendekati ranjang, "Rosalind, jangan mulai nakal," tegur nya.
"Mama aku setiap hari sekolah, hari ini boleh izin sehari aja ya?" bujuk Rosalind dengan wajah memelas seperti minta di kasihani.
"Enggak, alasan kamu itu gak jelas tahu gak? Sudah jangan banyak alasan, lagian kamu pulang sekolah juga jam sepuluh." Reva sampai menarik nafasnya naik turun.
Reva lalu beralih menatap Rafael, "Kamu kenapa dari tadi diem aja sih? Itu anak kamu, bujuk dong biar sekolah," protesnya.
Rafael tersentak mendengar nada suara istrinya yang menjadi tinggi, kalau sudah seperti ini selalu membuatnya ikut dimarahi. Rafael terlebih dahulu mendudukan tubuhnya, dan Rosalind pun semakin menempel saja memeluknya. Anak itu juga menyembunyikan wajah di dadanya, mungkin takut dimarahi.
"Sayang yuk sekolah," ajak Rafael.
"Gak mau, aku mau sama Papa di rumah," geleng Rosalind.
"Papa juga mau kerja, jadi gak akan di rumah terus."
Rosalind mengangkat kepalanya, "Kenapa Papa selalu kerja? Gak bisa diam aja di rumah main sama aku?" tanyanga polos.
__ADS_1
Rafael mencubit pelan pipi putrinya itu, "Kalau Papa gak kerja, nanti gak bisa beli mainan buat kamu dong," ucapnya.
"Mainan aku sudah banyak, jadi gak usah beli lagi. Berarti Papa gak usah kerja lagi ya?"
Ternyata memberikan pengertian kepada anak kecil harus ekstra sabar ya, memang pemikirannya itu sangat polos dan belum tahu apa-apa. Rafael sempat melirik Reva, mendapati ekspresi wajah istrinya itu masih garang membuat Rafael harus terus membujuk putrinya.
"Uang kan bukan untuk beli mainan Rosalind aja, tapi buat kita makan dan lain-lain. Nanti kalau sudah besar kamu juga pasti ngerti. Sekarang yuk kita mandi, siap-siap," ajak Rafael.
"Dimandiin sama Papa ya?"
"Em Rosalind kan sudah besar, jadi mandinya sama mbak aja ya?" bujuk Rafael.
"Gak mau, mau sama Papa."
Reva menghembuskan nafasnya kasar, "Ya sudah kamu aja yang mandiin kali ini, cuman itu yang bisa bujuk dia buat sekolah," ujarnya.
"Ya sudah," desah Rafael menurut saja.
Padahal Rafael masih butuh istirahat, tapi pagi ini sudah ribut dan banyak drama membuatnya terpaksa bangun. Reva itu kalau pada Rosalind memang agak tegas, tapi Rafael tahu ini semua demi kebaikan putri mereka juga. Berharap saja semoga Rosalind tidak salah paham.
"Mau sarapan sama apa?" tanya Reva.
"Aku mau di suapin sama Papa," sahut Rosalind sambil tersenyum lebar.
Reva memutar bola matanya, "Mama tanya kamu mau sarapan sama apa? Kok jadi jawabannya gitu?"
"Ih Mama dari tadi bawel," gerutu Rosalind sambil memanyunkan bibirnya.
"Apa?!"
"Ekhem kayanya Rosalind biasa makan sama sereal, biar aku aja yang suapin," dehem Rafael. Gawat juga jika dua perempuan itu cekcok lagi.
Terkadang Rafael selalu merasa lucu jika Rosalind dan Reva sudah saling adu argumen. Reva yang kesabarannya sangat tipis harus menghadapi putrinya sendiri yang agak nakal ini. Rafael lah yang selalu menjadi penengah, bersikap paling dewasa.
__ADS_1
"Aku di anterin sama Papa, kan?" tanya Rosalind di tengah kunyahan nya.
"Sama supir aja ya sayang?" bujuk Rafael.
"Gak mau, pokoknya Papa harus anterin aku sampai sekolah!"
"Hah baiklah," desah Rafael pasrah. Tidak apalah, tinggal tahap akhir agar anaknya itu mau sekolah.
Padahal selama Rafael pergi tugas di luar kota, Reva merasa putrinya itu selalu tidak nafsu makan dan melakukan apapun. Tetapi jika Rafael ada di rumah, Rosalind selalu bertingkah selayaknya anak kecil dan manja. Memang anak Papa sekali.
Rafael dan Rosalind pun pamit pada Reva untuk berangkat. Reva mengantar mereka sampai ke depan, setelah pergi dengan mobilnya kembali masuk ke dalam rumah. Reva tidak bekerja, perempuan itu menjadi Ibu rumah tangga sepenuhnya sekarang.
"Hah aku capek banget," ucap Rafael. Pria itu yang sudah kembali langsung merebahkan kepalanya di pangkuan Reva sambil memejamkan mata.
"Mau lanjut tidur? Bukannya katanya kamu akan ke kantor? " tanya Reva.
"Enggak, aku cuti hari ini untuk istirahat," jawab Rafael. Sengaja berbohong karena untuk membujuk Rosalind agar mau sekolah.
Reva mengusap-usap kepala suaminya itu, merasa kasihan juga pada Rafael ini yang hampir setiap hari selalu kerepotan sendiri mengurus Rosalind yang manja. Pantas saja anak itu sangat menempel, toh sikap Rafael semanis tadi.
"Kamu jangan terlalu manjain Rosalind, jangan selalu kabulin apa mau dia. Terkadang kamu harus ngasih tahu dia beberapa pengertian. Aku takutnya kalau dia udah besar jadi terus bergantung dan membangkang," kata Reva.
"Tenang aja, aku tahu kok aku harus gimana. Sekarang kan Rosalind masih kecil, sikap manja dia itu wajar karena ingin mencari perhatian kita. Nanti kalau dia sudah masuk SD, aku akan sedikit berubah," sahut Rafael.
Sebenarnya Reva selalu kasihan pada Rafael yang mengurus Rosalind saat manja. Pria itu kan sudah capek bekerja, lalu di rumah juga harus menjaga Rosalind. Tetapi waktu itu Rafael pernah menjelaskan jika Ia tidak lelah, malahan senang bisa menghabiskan waktu dengan putrinya.
"Kamu sudah mandi belum sih?" tanya Reva bingung.
"Hehe belum, kan tadi Rosalind terus nempelin aku," jawab Rafael sambil tertawa canggung.
"Dasar aku kirain udah mandi," dengus Reva. Semua didukung karena wajah tampan dan putih Rafael, jadi tidak mandi saja masih terlihat segar-segar saja.
"Aku males mandi, gimana kalau kamu aja yang mandiin aku?" tanya Rafael mencari kesempatan.
__ADS_1
"Gimana caranya? Lihat anak kamu di perut aku, buat aku jadi susah gerak."
Rafael pun yang baru sadar langsung mengecup perut Reva, sambil mendusel-dusel sebentar di sana. Rafael tadi hanya bercanda, tidak tega juga menyuruh Reva memandikan nya di saat kondisi hamil besar seperti itu.