Pasutri Gak Jelas

Pasutri Gak Jelas
67 Mengatakan Yang Sebenarnya


__ADS_3

Setelah diberikan beberapa nasihat oleh Oma, hati Rafael merasa lebih tenang dan rileks. Ia lalu memutuskan menghampiri Reva sambil membawa payung, sepertinya perempuan itu tidak menyadari kedatangannya karena masih asik mencabut wortel. Rafael pun berdiri di belakang Reva yang berjongkok, payungnya pun muat melindungi Reva juga.


"Katanya mau bangun siangan," ucap Reva sambil menengadahkan kepalanya melihat Rafael.


"Enggak ah, sayang banget liburan gini cuman tidur aja," sahut Rafael. Pria itu pun ikut berjongkok sambil tetap menahan payungnya untuk mereka berdua.


"Emangnya gak papa gak sekolah? Lo kan anak rajin."


"Gak papa, lagian udah bebas juga tinggal perbaikan nilai. Aku kesini nyusul kamu karena khawatir, kamu berhasil buat aku cemas."


"Masa? Gue pikir lo gak bakal peduli," ucap Reva sedikit acuh, "Atau lo cuman takut Papa marah?"


Rafael balas menatapnya, "Jadi benar yang ngirim pesan itu Reva?"


"Hah yang mana?" Reva meringis pelan menyesal karena terlalu frontal sampai membocorkan rahasianya sendiri.


"Sudahlah, aku juga sudah yakin kalau itu kamu. Tadi sempat ngobrol sama Papa dan dia gak ngerasa, terus kita langsung kepikiran kamu aja." Rafael menceritakannya sambil tersenyum-senyum, merasa geli saja dengan tingkah kekanakan istrinya itu.


Reva mengerucutkan bibirnya, "Habisnya gue kesel sama lo," ucapnya blak-blakkan, bahkan wortel di tangannya sampai Ia simpan kasar di ember.


"Kesel kenapa?" tanya Rafael padahal sudah tahu, tapi ingin mendengar jawabannya langsung dari Reva.


"Lo yang waktu bilang jangan saling ngurusin hidup masing-masing, gue kesel dan marah aja, gak terima juga."


"Mungkin waktu itu aku udah gak bisa nahan kesel lagi, makanya bilang seenaknya sampai gak mikir-mikir dulu," ucap Rafael sambil menghela nafasnya. Biasanya Rafael selalu sabar dan mengalah, tapi kali itu Ia tidak bisa lagi.


"Kenapa sampai berlebihan begitu?"


"Karena aku cemburu, gak terima juga."


Reva cukup terkejut dengan jawaban jujur Rafael, perlahan semburat merah pun terlihat di pipinya, "Cemburu kenapa?" Bodoh sekali pertanyaannya ini, sudah pasti lah Rafael cemburu karena Ia berhubungan dengan Lucas.


"Menurut Reva gimana perasaan aku yang cuman bisa lihat istrinya mesra sama cowok lain? Kalau posisi Reva dibalik gimana?" tantang Rafael sambil menyeringai.


"Ya pasti gak enak, sakit hati juga." Reva mengerti itu, tapi Ia juga tidak bisa menjelaskan yang sebenarnya waktu itu pada Rafael.

__ADS_1


"Apalagi Reva sampai dikenalin sama orang tua Lucas." Membayangkan itu seperti hubungan mereka serius saja, ya siapa juga yang tidak cemburu.


"Lo pasti bakalan kaget kalau gue cerita pas ketemu orang tua Lucas di rumahnya." Reva memutuskan akan mengatakannya pada Rafael, kejadian itu tentu tidak akan pernah Ia lupakan.


"Emangnya gimana? Pasti mereka langsung suka ya sama Reva? Apa setuju juga sama hubungan kalian?" tanya Rafael pahit.


"Enggak," geleng Reva.


"Loh kenapa?" Apa jangan-jangan Reva bersikap tidak sopan sampai tidak diberikan restu?


"Gue mutusin jujur waktu itu, menjelaskan semuanya pada mereka kalau gue dipaksa untuk jadi pacar Lucas. Dia ngancam gue dengan sesuatu, dan gue merasa gak berdaya menolak."


Awalnya Rafael belum mencerna dengan baik perkataan perempuan itu, tapi setelah mengerti perlahan kedua matanya terbelak lebar, "Apa?!" pekiknya dengan suara keras.


Reva tersenyum tipis, "Maaf gue gak bilang yang sebenarnya, tapi sebenarnya gue terpaksa jadian sama Lucas," ungkapnya jujur.


"Tunggu, ini bagaimana sih? Jelaskan semuanya!" desak Rafael sambil mencengkram rambutnya.


Reva pun mulai cerita awal semuanya, dimana yang bertemu Lucas di acara ulang tahun Pak Dion waktu itu. Dugaan jika pria itu mengetahui status mereka dari Pak Dion, lalu Lucas yang malah akan mengancam akan membocorkan rahasia jika Ia dan Rafael adalah suami istri di sekolah dan akan menjadi berita heboh.


"Jadi Lucas itu anak Pak Dion?" tanya Rafael tidak menyangka sendiri, baru mengetahui fakta itu. Kemana saja dirinya selama ini?


"Iya."


Melihat ekspresi polos Rafael yang sedang bingung, membuat Reva tertawa kecil merasa lucu sendiri. Ia pun merangkul bahu pria itu dan menyenderkan kepalanya di tangannya sampai beberapa saat. Untuk beberapa saat pun mereka saling terdiam dengan pikiran masing-masing.


"Terus gimana tanggapan Pak Dion?"


"Tentu aja dia kaget karena yang tahunya kan gue udah punya suami. Awalnya Lucas ngebantah dan bilang kalau lo waktu itu bohong," jawab Reva mengadu.


Rafael tanpa sadar mendengus, "Enak aja bohong, masa aku bohong sama klien kerja Ayah." Rafael kan harus menjaga nama baik Ayahnya, agar dirinya pun dianggap sebagai orang yang jujur.


"Tapi gue waktu itu mutusin ngadu aja sama mereka, mumpung sekalian ketemu juga. Gue gak tahan mendem ini sendirian, gue juga udah muak pura-pura bahagia jadi pacar Lucas."


Rafael mengedikkan bahunya dimana ada kepala Reva yang menyender, perempuan itu pun kembali menatapnya, "Bukannya Reva bahagia jadi pacar Lucas?" tanyanya.

__ADS_1


"Kata siapa?"


"Kelihatannya begitu, dia baikkan sama Reva? Atau kurang ajar?"


"Jujur aja sebenarnya Lucas itu baik, perhatian juga. Tapi.. Gue gak ada perasaan apapun ke dia, selain itu juga gue terus mikirin lo." Reva lalu menunduk malu sudah mengatakan itu, seperti dari dalam hatinya sendiri.


"Kenapa Reva terus mikirin aku?" Rafael menatapnya dalam meminta penjelasan, menunggu dengan perasaan tidak sabar.


"Gak tahu, gue ngerasa bersalah aja karena ngerasa lagi selingkuh."


"Reva emang selingkuh dari aku," celetuk Rafael.


"Tapi kan gue juga terpaksa, " sahut Reva tidak mau disalahkan sepenuhnya.


"Kalau aja Reva cerita waktu itu, mungkin aku bakal bantu."


"Dengan cara apa?" tanya Reva.


Rafael terdiam beberapa saat sedang memikirkannya, "Mungkin kita bisa bicara sama Lucas dan nyelesain dengan cara lain."


"Gak mungkin, dia itu orangnya keras kepala dan gak mau kalah. Lucas aja pernah bilang kalau dia sudah cinta bakal lakuin apa aja biar bisa sama orangnya. Gila kan dia?"


"Waw sebegitu besarnya kah dia suka sama kamu?" Rafael tersenyum kecut lagi-lagi merasa cemburu, ternyata di luar sana ada pria lain yang lebih mencintai istrinya ini. Apakah Rafael takut tersaingi?


"Sekarang gue tanya, kenapa lo cemburu?"


"Reva kan istri aku," jawab Rafael.


"Ck itu mah tahu, tapi yang lain. Apa jangan-jangan lo ada perasaan sama gue?"


"Iya."


Padahal tadi Reva tidak serius, tapi tidak diduga Rafael malah menjawabnya blak-blakkan, "Perasaan apa?"


Sebelah tangan Rafael terulur mengusap sedikit noda tanah di pipi Reva, bibirnya pun melengkungkan senyuman tipis, "Sekarang aku sadar kalau sepertinya aku sudah suka sama Reva."

__ADS_1


"Hahaha lucu banget, gak mungkin. Lo suka gue dari apa?" tanya Reva sambil tertawa canggung menutupi perasaan gugupnya, Ia harus terlihat keren dan jangan sampai salah tingkah.


"Semuanya," jawab Rafael singkat seperti mendeskripsikan semuanya dalam satu kata yang sempurna.


__ADS_2