
Sesampainya di apartemen, Reva langsung merebahkan tubuhnya di sofa panjang dengan helaan nafas berat. Di hari pertama masuk kampus, anehnya Ia merasa cukup kelelahan, padahal belum masuk jadwal belajar. Dulu kan Reva tidak terlalu rajin, tapi sekarang Ia harus benar-benar.
"Rafael, tolong ambilin aku minum dong," teriak Reva tanpa sadar. Kedua matanya yang tadi terpejam pun perlahan terbuka, bibirnya pun melengkungkan senyuman miris. Lagi-lagi lupa jika pria itu tidak ada di sini.
Drrrtt!
Deringan ponselnya membuat lamunan Reva terhenti, saat melihat jika yang mem video call adalah Rafael, tanpa bisa ditahan senyuman lebar pun langsung terukir di bibirnya. Reva terlebih dahulu mendudukan tubuhnya sambil merapihkan rambut yang sedikit berantakan.
"Hallo Rafael," sapa Reva pada seorang pria di sebrang sana. Melihat wajah Rafael dari layar, Reva bisa merasakan detak jantungnya menjadi cepat.
["Hai Reva, maaf ya aku baru hubungin kamu. Dari pagi aku tidur soalnya capek banget, perjalanan dari Indonesia ke Amerika sampai belasan jam, badan aku pegel-pegel."] Ungkap Rafael dengan wajah memelas nya.
"Iya gak papa, aku ngerti kok kamu pasti butuh waktu istirahat." Itulah kenapa Reva pun tidak menghubungi lebih dahulu. Selain gengsi, juga pasti Rafael sedang istirahat.
["Kalau aja ada kamu, aku bisa minta bantuan buat di pijitin hehe,"] ucap Rafael modus.
"Iya sih jauh, makanya aku gak bisa mijitin kamu." Reva sengaja memanasi, biar Rafael itu mengerti sekarang bagaimana repotnya berjauhan dengannya.
Terlihat di sana Rafael merebahkan tubuhnya di ranjang, wajah mereka terpampang jelas di layar dengan mata yang saling menatap. Tatapan itu tentu terlihat saling merindukan, senyuman di bibir keduanya pun tidak luntur.
["Aku kangen banget sama kamu Reva."]
"Aku tahu," sahut Reva sambil mengulum senyumannya.
["Kamu gak kangen sama aku?"] tanya Rafael balik.
"Hm kangen gak yah?"
["Pasti kangen lah, apalagi aku kan selalu bantuin kamu di apartemen. Dari masakin, buatin tugas, sampai bersih-bersih. Sekarang Reva harus mandiri ngerjain semuanya sendiri, harus bisa ya."]
"Iya-iya, tapi kayanya untuk masak gak bisa ih, susah." Sekarang Reva merasa menyesal karena dulu tidak rajin belajar masak bersama Rafael.
["Aku kan udah bilang, mending kamu tinggal dulu sama Bunda atau gak Papa, biar kamu ada yang jagain terus gak susah ini itu sendiri."]
__ADS_1
Reva juga sebenarnya bimbang, tapi Ia berpikir lagi jika dirinya pun sudah besar dan ingin mencoba hidup mandiri. Apalagi sekarang tidak ada Rafael, jadi Reva benar-benar akan merasakan bagaimana hidup sendirian itu.
"Enggak ah, aku akan coba dulu seberapa jauh aku kuat hidup sendiri." Reva tetap kekeuh pada pendiriannya.
["Ya sudah terserah kamu, tapi kamu harus jaga diri dan sayangin diri kamu sendiri. Jangan lupa makan dan jangan bergadang,"] nasihat Rafael yang terlihat khawatir di sana.
"Kamu juga Rafael," balas Reva. Mungkin ekskresi wajahnya dari tadi terlihat datar, tapi percayalah detak jantung Reva sangat tidak karuan.
["Besok aku mulai masuk Kampus, gak sabar banget,"] ucap Rafael dengan mata berbinar nya.
"Wah keren banget ya kamu bisa sekolah di sana, belajar yang bener-bener." Lucu sekali Reva ini, padahal dirinya belum tentu serajin Rafael.
["Iya pasti."]
Cukup lama mereka mengobrol dengan asiknya, tanpa terasa hari pun sudah menjelang sore. Karena merasa lapar, Reva memutuskan turun untuk membeli makanan. Sekarang Ia tidak bisa hemat karena harus beli makanan, Reva kan tidak bisa masak. Tetapi di depan gedung, Reva malah tidak sengaja melihat seseorang.
"Celine, kamu sedang apa di sini sendirian?" tanya Reva menghampiri.
"Iya, kamu lagi apa?"
"Aku pengen es krim." Celine terlihat menunjuk penjual es krim yang memakai kendaraan roda dua. Posisinya lumayan jauh karena di luar gerbang apartemen.
"Jadi kamu nungguin di sini karena pengen beli es krim?" Reva lalu memperhatikan sekitar, "Terus mbak Nana kemana? Kenapa kamu sendirian di sini?"
"Tadi kami habis jalan-jalan, terus aku bilang ke mbak Nana pengen es krim. Tapi mbak Nana gak bolehin aku, katanya nanti aku batuk terus dia di marahin Papa," jawab Celine dengan suara lucunya.
Reva pun mengusap kepala Celine, "Tapi emang bener yang di bilang mbak Nana, nanti gimana kalau kamu batuk?"
"Tapi aku gak sering kok makan es krim nya, mbak Nana aja yang pelit gak bolehin aku jajan," celetuk Celine jujur.
"Masa? Papa kamu pasti titipin uang ke dia, kan?"
"Gak tahu, tapi kan kalau enggak juga nanti bisa minta ke Papa."
__ADS_1
Kalau dipikir-pikir sepertinya babysitter pasti akan dititipkan uang untuk jajan anak asuhannya, berjaga-jaga saja takut sewaktu-waktu ingin ini itu. Reva kembali teringat saat tadi Celine bilang tidak dibolehkan jajan, sudah dua kali juga anak itu bilang kalau babysitter nya pelit.
"Ya sudah biar Kakak yang beliin es krim buat kamu, mau rasa apa?" tawar Reva berbaik hati, tidak tega rasanya melihat anak lucu itu cemberut.
Kedua mata Celine langsung berbinar, "Beneran Kak Reva mau beliin aku es krim?" pekiknya sambil melompat-lompat kecil.
"Haha iya, kamu sukanya rasa apa?"
"Aku suka rasa coklat, tapi jangan ada kacangnya."
"Oke Kakak beliin dulu, kamu tunggu di sini ya."
"Iya Kak."
Reva pun keluar dari gerbang untuk membeli es krim, Ia juga membeli untuk dirinya sendiri karena sedang ingin makan yang dingin. Setelah mendapatkannya kembali dan memberikan satu es krim untuk Celine. Anak perempuan itu mengucapkan terima kasih kepadanya dengan lucu.
"Celine, apa Kakak boleh tanya sesuatu ke kamu?" tanya Reva. Mereka sedang makan es krim dan duduk di sebuah bangku yang ada di depan.
"Boleh," angguk Celine di sela mengemut es krimnya
"Kak Reva belum pernah lihat Mama Celine, dimana Mama Celine?"
"Papa bilang Mama sudah di surga."
Jawaban itu membuat Reva tersentak sendiri, tatapannya pun menjadi sendu. Tiba-tiba kedua matanya berkaca-kaca, merasa sedih saja melihat anak sekecil Celine yang sudah ditinggalkan sosok malaikat yang paling bermakna di hidup nya.
"Apa Celine tahu Mama pergi sejak kapan? "
"Papa bilang dari saat aku lahir, aku juga belum pernah ketemu Mama, cuman lihat di foto aja." Celine terlihat tidak sedih saat menceritakannya, anak itu tetap ceria. Mungkin karena belum mengerti, masih sangat terlalu kecil.
Reva lalu mengusap kepala Celine, "Celine anak yang baik, nanti suatu saat juga pasti akan ketemu sama Mama. Mama Celine pasti cantik, secantik kamu."
"Hehe iya, Mama emang cantik. Papa bilang juga begitu."
__ADS_1