
Merasa sudah mengantuk Rafael memutuskan ke kamarnya, cukup lama Ia mengobrol dengan Ayahnya di bawah sambil minum kopi. Banyak yang mereka bicarakan, khususnya tentang masalah pekerjaan. Rafael walaupun masih muda, tapi ilmunya pada dunia bisnis sudah bisa dikatakan tinggi.
"Reva kamu sudah tidur?" tanya Rafael pada istrinya itu yang berbaring di sebelahnya tapi dengan posisi membelakangi. Merasa tidak ada tanggapan, membuat Rafael mendekat dan memeluknya dari belakang.
"Ih apaan sih? Jangan peluk-peluk!" ketus Reva sambil melepaskan pelukan Rafael.
Rafael yang terkejut melengokan kepalanya, "Loh kamu belum tidur? Aku kirain udah."
"Gak bisa tidur."
"Kenapa? Biasanya kamu selalu nyenyak tidur di rumah Bunda."
Tetapi Reva tidak menjelaskan yang sebenarnya, inginnya Rafael bisa mengerti sendiri apa yang sedang di pikirannya itu. Tentu saja pria itu yang membuat Reva tidak bisa tidur, tapi sepertinya Rafael tidak akan tahu. Pria itu kan sangat tidak peka.
"Kamu nungguin aku ya?" tanya Rafael sambil berbisik di telinga Reva, seringai di bibirnya pun terlihat.
"Kenapa juga nungguin kamu?" Percaya diri sekali pikirnya suaminya itu.
"Ya mungkin aja pengen tidurnya aku peluk gitu?" Rafael dibuat terkekeh sendiri dengan perkataannya yang terlalu berlebihan, tapi apa salahnya berharap kan?
"Gak mau, gerah," tolak Reva mentah-mentah.
"Malam ini kan lagi dingin, jadi kalau dipeluk malah bakalan anget dong." Rafael belum menyerah membujuk istrinya itu, "Atau mau yang lebih anget gak?"
"Apa?"
Rafael kembali mendekati tubuh Reva dan berbisik di telinganya, "Begituan lah."
Kedua mata Reva terbelak mendengar itu, Ia pun langsung paham begitu saja ke arah mana perkataan Rafael. Reva pun menyikut perut suaminya itu saat merasakan tangan nakalnya yang mulai mengusap pahanya, membuat Rafael meringis lalu menjauh darinya. Memang dasar cari kesempatan sekali.
"Aduh sakit Reva ih," kesal Rafael sambil mendengus.
__ADS_1
"Makanya tangannya jangan nakal." Reva terlihat tidak merasa bersalah dan menaikan selimutnya lalu mulai memejamkan mata.
"Ya gak papa dong nakal sama istri, dari pada sama cewek lain." Rafael terlihat membela dirinya sendiri. Melihat Reva yang menoleh sambil menatapnya tajam, membuat Rafael mengatupkan bibir. Sepertinya Ia salah bicara.
"Oh jadi gitu?"
"Gitu gimana?" Kenapa Rafael jadi gugup begini ya?
"Ya sudah sana nakal sama cewek lain aja, pasti mereka juga suka," ucap Reva sinis.
"Enggak Reva, tadi aku cuman bercanda." Sepertinya Rafael benar-benar salah bicara, apalagi kan perempuan itu sensitif sekali.
"Jadi ngebayangin nanti kamu kalau beneran kuliah di Amerika, apalagi di sana itu bebas banget pergaulannya. Aku gak akan tahu apa yang kamu lakuin di sana, tapi bisa aja mungkin kamu deket-deket sama cewek lain." Dada Reva terlihat naik turun sedang berusaha menahan emosinya.
"Pikiran kamu terlalu jauh Reva, aku gak mungkin begitu. Aku kan di sana cuman belajar dan--"
"Tapi kan siapa yang tahu, apalagi pasti kamu juga suatu waktu butuh pelampiasan hasrat kamu itu. Gimana kalau kamu malah nyewa wanita bayaran di sana dan.. " Reva tidak melanjutkan perkataannya karena dadanya sesak begitu saja.
Rafael pun mendekat lalu memegang tangannya, "Sayang jangan bicara gitu dong, hati aku sakit loh dituduh begitu," bujuknya.
"Kalau semisal kamu memang gak mau kita jauhan, gimana kalau kamu ikut aku ke Amerika?" tawar Rafael. Sebenarnya bukan Reva, tapi Rafael juga enggan menjalani hubungan jarak jauh. Apalagi hubungan mereka sekarang sudah baik, Sama-sama tidak mau terpisahkan.
"Tapi aku bodoh," cicit Reva.
"Memangnya kenapa? Tapi kamu masih punya semangat untuk belajar, itu lebih bagus dari pada orang malas yang gak mau belajar."
"Gak tahu, gimana kalau kamu jangan pergi aja?" Reva malah menanyakan balik, ingin mendengar juga jawaban dari Rafael.
Rafael terdiam beberapa saat, "Maaf Reva, aku gak bisa. Kamu tahu sendiri kalau aku dari dulu pengen banget bisa kuliah di sana," ucapnya tidak enak. Melihat tatapan sendu itu, membuatnya merasa bersalah sendiri.
"Iya gak papa, aku tahu kok. Gak usah dihiraukan." Reva berusaha tersenyum walau hatinya terasa sesak. Bodoh sekali Ia menawarkan itu, sudah pastilah Rafael itu akan menolaknya.
__ADS_1
Reva lalu berbaring berbalik dengan kembali membelakangi Rafael, memejamkan matanya mencoba tidur. Saat merasakan pria itu yang memeluknya dari belakang, membuat detak jantungnya menjadi cepat. Semoga saja Rafael tidak mendengarnya karena Ia terlalu malu.
Besok paginya Reva bangun lebih awal, Ia melirik tangan Rafael di perutnya, sepertinya sepanjang malam memeluknya. Dengan perlahan Reva melepaskannya lalu turun dari ranjang, setelahnya Ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah berdandan sedikit keluar kamar menuju dapur, terlihat Bunda yang sedang memasak.
"Bunda lagi masak apa? Wangi banget," tanyanya menghampiri.
Alisa menoleh sambil tersenyum lebar, "Hai sayang sudah bangun, Bunda lagi masak nasi goreng untuk kita sarapan."
"Ada yang bisa aku bantu?"
"Boleh deh tolong ambil empat piring ya, sebentar lagi nasi gorengnya mateng," pinta Bundanya.
"Oke Bunda." Reva pun segera membawa piring-piring itu di nakas bagian atas dengan hati-hati. Tetapi entah karena tidak fokus atau tangannya yang licin, salah satu piring meluncur dan pecah di bawah kakinya.
Prang!
"Ya ampun," pekik Alisa terkejut sambil menoleh ke asal suara. Ia dengan cekat mematikan kompor lalu menghampiri menantunya itu, "Astaga Reva, kenapa ini?"
"Maaf Bunda, aku gak hati-hati sampai piringnya jatuh dan pecah." Reva terlihat merasa bersalah, tapi sesekali mengernyit menahan sakit.
"Kamu gak papa?"
"Em kayanya pecahannya ada yang kena kaki, lumayan perih."
Saat Alisa cek lebih dekat ternyata benar, ada luka goresan lumayan panjang di dekat pergelangan kaki kirinya. Melihat darahnya yang keluar sedikit demi sedikit membuat Alisa meringis menahan ngilu. Ia pun menarik tangan Reva membimbingnya duduk di kursi makan.
"Sebentar ya Bunda ambil dulu kotak obatnya," ucap Alisa yang panik sendiri. Segera Ia pun keluar dapur untuk mencarinya, tapi di ambang pintu malah berpapasan dengan Rafael dengan wajah bantal khas bangun tidurnya.
"Ada apa Bun kok tadi berisik banget?" tanya Rafael sambil merapihkan rambutnya yang berantakan.
"Itu istri kamu kakinya kena pecahan piring sampai berdarah, lukanya lumayan panjang, kasihan pasti perih banget." Alisa seharusnya tadi tidak usah menyuruh itu pada Reva, Ia jadi merasa bersalah.
__ADS_1
Kedua mata Rafael terbelak, "Serius Reva terluka?" tanyanya keras.
"Iya sudah sana datengin dia, Bunda mau bawa dulu kotak obatnya," suruh Alisa dan langsung dituruti putranya itu