
"Di bawah Pak guru sudah jemput, aku berangkat sekarang ya," pamit Rafael.
Reva mengangguk, "Mau di anter sampai bawah?"
"Jangan, takut ada yang lihat."
"Ya sudah."
Rafael lalu mengulurkan tangan kanannya, "Salim dulu."
Dengan patuh Reva pun menyalami tangan suaminya itu, Ia sedikit tersentak merasakan usapan lembut di puncak kepalanya. Saat berdiri tegak lagi, bisa melihat Rafael yang tersenyum tipis ke arahnya.
"Selama aku pergi, jangan bandel ya."
"Bandel gimana?"
"Buat masalah misalnya."
"Hm, gak akan."
"Oke aku pegang janjinya, jaga diri kamu baik-baik di sini."
Reva malah terkekeh kecil, "Lo alay banget ih, sok khawatir gitu. Pergi juga cuma semalam, gue bukan anak kecil."
"Ya emang sih, tapi kan aku sebagai suami cuma khawatir ninggalin kamu sendirian di sini."
Walaupun menurut Reva sikap Rafael itu terkesan berlebihan, tapi tidak bisa berbohong hatinya merasa senang diperhatikan seperti itu. Tetapi Reva tidak mau terlalu menunjukan ekspresinya, Ia kan harus jaga image.
"Oh iya satu lagi, selama aku pergi jangan bawa teman laki-laki kamu ke apartemen," perintah Rafael.
"Emangnya kenapa?"
"Jangan dong Reva, nanti bisa buat fitnah. Apalagi aku lagi gak ada."
"Maksudnya si Lucas, kan?"
"Iya, bisa aja kamu ajak dia kesini."
"Biarin ah, lo aja pernah tuh ajak si Dinda kesini. Malahan gue juga gak boleh pulang dulu, alasannya kalian pengen berduaan."
Rafael menghembuskan nafasnya kasar mendengar kekeras kepalaan istrinya itu, "Itu kan beda lagi Reva, kamu juga gak pergi jauh."
"Lo pasti lagi ngebayangin aneh-aneh, kan gue sama si Lucas kalau berduaan di apartemen?"
"Iya, apalagi Reva ini kan nakal."
"Enak aja!"
"Pokoknya awas saja kalau Reva bawa temen laki-laki ke apartemen pas aku di luar kota, nanti aku aduin ke Papa kamu."
__ADS_1
"Hei kok gitu sih?" protes Reva, terasa tidak adil sekali baginya.
"Sudah ah, aku harus berangkat sekarang."
Sebelum Reva kembali protes, Rafael sudah keluar apartemen sambil mengucap salam. Reva menghela nafasnya lalu membalas salaman itu dengan pelan. Rafael tadi seperti orang yang egois sekali, tapi Reva pun tidak terlalu mempermasalahkan juga. Kenapa? Toh Ia dan Lucas memang tidak ada hubungan apapun.
"Hah kalau dia pergi, selalu jadi lebih sepi," gumam Reva sambil merebahkan tubuhnya di ranjang.
Memang sih mereka kalau di apartemen juga jarang mengobrol, sibuk masing-masing. Tetapi tetap saja rasanya berbeda jika salah satu ada yang pergi. Reva melirik jam di dinding yang masih menunjukan pukul delapan, tapi kedua matanya terasa berat mengantuk. Baru saja beberapa saat memejamkan mata, Ia terpaksa bangun mendengar deringan di ponselnya.
"Hallo?"
["Selamat malam."]
Kernyitan terlihat di kening Reva mendengar suara familiar ini, "Lucas, ada apa?"
["Lagi ngapain nih?"]
"Mau tidur."
["Masih pagi, kok udah tidur sih? Kaya anak kecil aja."]
Reva memutar bola matanya malas, terserah Ia lah mau tidur jam berapapun.
["Tapi gue gak ganggu, kan?"]
["Em sorry deh."]
"Ada apa nelpon? Kalau misal gak ada yang penting gue tutup ya."
["Tunggu-tunggu, cuma mau tanya besok berangkat sekolah bareng yuk."]
"Enggak ah, mobil gue udah bener."
["Reva gak suka naik motor ya? Ya udah, nanti di jemputnya pakai mobil deh."]
"Enggak, lagian besok bukannya giliran lo jemput Ica ya? Jangan lupa."
["Tapi.. "]
"Udah ah, gue ngantuk mau tidur sekarang."
Reva pun segera mematikan panggilan itu, tidak mempedulikan tanggapan Lucas di sebrang sana. Reva hanya tidak ingin seperti memberikan harapan pada pria itu, harus membuat benteng agar si Lucas itu sadar diri dan tidak mendekatinya terus.
"Merepotkan," dengusnya.
Besok paginya untungnya Reva tidak bangun kesiangan, mungkin karena semalam pun tidur lebih awal. Masuk ke dapur Ia langsung duduk di meja makan lalu membawa sepotong roti dan mengoleskan nya dengan selai. Reva sarapan dengan tidak nafsu.
[Reva aku sudah sampai di hotel.]
__ADS_1
Itu adalah pesan dari Rafael sekitar pukul sepuluh malaman. Apakah Reva hubungi saja ya agar lebih jelas? Tetapi Reva terlalu gengsi, Ia ingin Rafael yang lebih dulu menghubunginya. Akhirnya Reva pun hanya membalas singkat.
"Semangat ya lombanya, pokoknya harus menang," balasnya pada pesan itu.
Setelah sarapannya habis Reva pun berangkat ke sekolah dengan menaiki mobilnya. Sesampainya langsung menuju kelasnya, seperti biasa suasana sekolah selalu ramai di pagi hari. Saat melewati koridor, banyak murid laki-laki yang menggodanya, tapi Reva tidak pedulikan karena Ia tahu mereka hanya bercanda.
"Reva lihat si Ica dari tadi senyam-senyum mulu, jadi serem gue," ucap Tata.
Reva melihat salah satu sahabatnya itu, dan langsung paham, "Kenapa lo? Salting di boncengin crush hah?"
"Hahaha iya dong, seneng banget," jawab Ica, "Sepanjang jalan gue peluk tuh si Lucas, kesempatan emas jangan di sia-sia kan."
Reva dan Tata tidak bisa menyembunyikan tawanya mendengar itu, mereka pun langsung menyoraki Ica yang sedang salah tingkah. Untung saja si Lucas itu belum ke kelas, jadi tidak tahu sedang dibicarakan.
"Terus nanti pulangnya berarti dia anterin lo lagi?" tanya Reva.
"Iya lah, kan sudah janji."
"Mending jangan langsung pulang, ajak dia kemana dulu."
Ica mengangguk, "Ide bagus, tapi kira-kira kita main kemana dulu ya?"
"Makan-makan aja," usul Tata.
"Boleh deh, semoga Lucas mau. Pasti mau lah, masa gak mau jalan sama cewek cantik kaya gue."
Reva tersenyum tipis melihat Ica yang kesenangan dengan tingkat percaya diri tinggi. Baguslah jika Ica terus mendekati Lucas, jadi membuat pria itu tidak mengejarnya terus. Kemarin juga kan Reva sudah bersikap tegas, dengan secara tidak langsung menolaknya.
"Gue lupa, gue kan harus balas si Dinda," ucap Reva.
"Emangnya kenapa?"
"Yang dia numpahin kuah bakso ke seragam gue. Gak mau tahu, pokoknya gue harus balas."
Tata dan Ica pun saling bertatapan, terlihat seringai di bibir mereka seolah sedang mengkode sesuatu. Tanpa mengucapakan apapun, mereka seperti sudah tahu apa rencana yang harus disiapkan. Memang sahabat sekali.
"Lo mau gimana?" tanya Ica.
"Apa balas yang serupa? Kalau itu mending gue aja deh," ucap Tata.
"Boleh deh, tapi jangan lo."
"Loh terus siapa? Si Ica?"
"Jangan di antara kita, karena si Dinda pasti bakalan langsung curiga. Suruh seseorang deh buat balas, nanti kasih dia duit."
"Okey itu mah gampang, tapi gak usah dibayar juga lah." Nanti mereka akan mencari murid culun yang mudah diperintah.
Mendengar bel berbunyi, satu-persatu murid di luar pun masuk ke kelas. Saat Lucas masuk, pandangannya langsung bertemu dengan Reva. Tetapi Reva dengan cepat mengalihkan dan mengeluarkan peralatan belajarnya.
__ADS_1