Pasutri Gak Jelas

Pasutri Gak Jelas
17 Perbedaan Keinginan


__ADS_3

"Gimana kalian kalau di sekolah?" tanya Alisa penasaran.


"Gak gimana-gimana Bunda, biasa aja," jawab Rafael.


"Tapi temen kamu itu, apa ada satu orang aja yang tahu kalau kalian itu sebenarnya suami istri?"


"Gak ada."


"Hah padahal kalau pada tahu juga menurut Bunda gak papa, malahan bagus."


Rasanya Rafael ingin sekali protes tidak setuju dengan perkataan Bundanya itu yang meremehkan. Kalau semua murid di sekolah tahu Ia dan Reva suami istri, habislah nanti semua meledek nya. Mereka juga pasti tidak akan menyangka jika keduanya yang tidak akur ini ternyata punya hubungan.


"Terus sampai kapan kalian bakalan sembunyikan?" tanya Ayahnya.


"Ya sampai kami lulus saja, toh perjanjian nya juga memang begitu."


"Ya sudah, terserah kalian mau bagaimana. Yang terpenting itu kan hubungan kalian saja, harus selalu akur dan harmonis, ya?"


"Hm." Rafael dan Reva berdehem malas bersamaan.


Jika di rumah kedua orang tuanya, mereka memang tidak menunjukkan ketidakakuran itu. Jadi keduanya pun harus sama-sama menurunkan gengsi dan berpura-pura seperti pasangan sungguhan.


"Gak kerasa ya sebentar lagi kalian bakalan lulus. Sudah rencanain bakal lanjut ke Universitas mana, kan?"


"Sudah kok," jawab Rafael, "Malahan aku sudah target dari pas kelas sepuluh juga."


"Kalau Reva gimana?"


"Em kayanya aku gak bakal jauh-jauh Bunda, masih di Jakarta aja," jawab Reva.


"Memangnya Rafael maunya dimana?" tanya Ayahnya bingung.


"Harvard University."


"Wih jauh dong."


"Bunda sama Ayah tahu sendiri aku dari kecil juga pengen banget bisa masuk kuliah di sana. Do'a in ya, semoga aja bisa masuk."


"Iya pasti, tapi.. Terus gimana dong sama Reva?"


"Gimana apanya?"


Kedua orang tuanya menghela nafasnya sama-sama dibuat menggeleng melihat tingkah polos putranya yang terkesan tidak memikirkan istrinya itu. Sepertinya mereka harus menasehati Rafael mengenai ini, untuk bisa berpikir lebih dewasa lagi. Apalagi kan sekarang adalah kepala keluarga.


"Kalau semisal kamu diterima kuliah di Harvard, itu berarti kamu dan Reva bakalan LDR."

__ADS_1


"Em iya sih, tapi kan Reva juga mau kuliahnya di Jakarta katanya."


"Gimana kalau Reva ikut kamu?"


Rafael malah tertawa kecil, "Gak mungkin lah Bunda, untuk masuk ke Harvard itu gak gampang loh. Aku aja belum tentu masuk, banyak saingan yang lebih hebat dari seluruh dunia."


Rafael langsung menghentikan tawanya dengan kedua mata terbelak saat merasakan injakan lumayan keras di kakinya. Hampir saja Ia berteriak sanking kaget dan sakit, tapi masih bisa menahan diri. Perlahan Rafael melirik Reva dan menatapnya memicing.


"Gak papa Bunda, Rafael kan punya cita-cita sendiri. Aku gak bisa nahan dia di sini, jadi mungkin dari pada sama aku di sini, dia lebih pengen menggapai cita-citanya," ucap Reva dengan nada pura-pura kuatnya.


"Kayanya kalian harus membicarakan ini lagi berdua. Bunda sedikit khawatir kalau kalian sampai berjauhan, gak enak loh."


"Iya, nanti kami akan bicarakan lagi."


Setelah makan malam berakhir, Reva dan Bunda menonton film sambil bergosip seperti wanita lainnya. Sedangkan Rafael dengan Ayahnya bermain billiard di dekat kolam renang. Terlihat sekali dua pria yang berbeda usia itu sangat fokus.


"Rafael, menurut Ayah kamu bawa saja Reva ke Inggris," ucap Ayahnya mengusulkan.


"Entahlah Yah, kan aku juga belum tentu diterima kuliah di sana."


"Iya Ayah tahu, tapi kalau semisal diterima, lebih baik bawa Reva sana. Kalian itu suami istri, harusnya kan sama-sama terus."


"Tapi kalau semisal berjauhan juga, aku dan Reva gak papa kok." Malahan Rafael akan merasa lega karena tidak akan ada yang menjahili nya lagi.


"Repot kenapa Yah? Apa gak akan ada ngurusin aku dan beresin tempat tinggal? Aku bisa kok, kan aku rajin suka bersih-bersih."


"Selain itu peran Reva juga sebagai istri kamu sangat dibutuhkan, misalnya dalam memberikan kamu dukungan dan kebutuhan ****."


Kedua mata Rafael langsung terbelak mendengar itu, Ia berdehen pelan untuk menghilangkan kegugupan nya. Ayahnya itu tidak tahu saja jika Rafael dan Reva sebenarnya belum pernah berhubungan badan.


"Laki-laki itu kan sulit sekali kalau menahan diri, gimana kalau nanti di sana kamu malah macam-macam?"


"Macam-macam gimana?"


"Ya misalnya malah jajan cewek gitu," celetuk Ayahnya.


"Ih apaan sih Yah? Gak mungkinlah," bantah Rafael, "Aku ini anak baik-baik, gak mungkin begitu."


"Hahaha iya Ayah percaya, semoga saja kamu nanti tinggal di sana gak aneh-aneh. Kamu harus bisa jaga diri, apalagi pergaulan di sana sangat bebas."


"Iya."


Rasanya Rafael tidak sabar sekali, makanya mulai dari sekarang Ia belajar dengan baik dan rajin untuk selalu mendapatkan nilai terbaik. Sudah lama sekali Ia mengidolakan Universitas terkenal itu, seperti sebuah obsesi baginya untuk bisa masuk ke sana.


"Sudah malam, sana tidur," suruh Ayahnya.

__ADS_1


"Ya sudah, aku ke kamar dulu."


Lampu rumah juga sudah temaram, sudah waktunya semua beristirahat. Saat masuk ke kamarnya, pandangan Rafael langsung jatuh ke ranjang dimana Reva yang sedang duduk sambil memainkan ponselnya.


"Aku tidur dimana ya? Di sofa suka pegel," tanya Rafael bingung, "Apa di kamar lain?"


"Ck jangan cari masalah deh, gimana kalau Ayah sama Bunda tahu?"


"Tapi tidur di sofa gak enak."


"Ya gak usah di sofa, di sini aja sama gue," ucap Reva sambil menepuk sisi ranjang yang kosong.


Rafael menelan ludahnya kasar, "Memangnya gak papa? Reva kan selalu bilang gak mau tidur bareng aku."


"Terpaksa, soalnya kita lagi di rumah Bunda," ketus Reva dengan gengsinya.


"Ya sudah, makasih ya."


Rafael lalu ikut naik ke atas ranjang dan berbaring di sebelahnya. Untuk beberapa saat, mereka terdiam dengan pikirannya masing-masing. Rafael lalu melirik Reva yang masih asik memainkan ponselnya.


"Belum ngantuk ya? Jangan tidur terlalu malam, gak baik," tanya Rafael.


"Besok kan libur, santai aja kali," jawab Reva tanpa menatap.


"Iya sih, tapi tetep aja."


"Ah lo mah bawel, kalau bawel sana keluar aja!"


"Iya-iya, nih bakalan diem."


Rafael membalikan badannya lalu menutup mata mencoba tidur. Tetapi baru saja akan terlelap, suara Reva membuatnya kembali terbangun dan membuka mata.


"Lo beneran mau kuliah di luar negeri?" tanya Reva.


"Iya, kenapa emangnya?"


"Ya gak papa, terserah lo mau dimana aja."


Rafael kembali membalikan badan menghadap Reva, "Kenapa? Reva gak mau aku tinggal ya?" godanya sambil menyeringai.


"Idih apaan sih? Jangan kepedean deh."


"Beneran ya? Nanti kalau beneran aku pergi, Reva jangan kangen pokoknya," guraunya.


Tanpa Rafael sadari, candaannya itu membuat Reva terdiam dengan tatapan sedihnya. Perempuan itu sebenarnya tidak mau ditinggal, tapi tidak menunjukannya dan seperti biasa selalu meninggikan egonya.

__ADS_1


__ADS_2