Pasutri Gak Jelas

Pasutri Gak Jelas
Sudah Salah Paham


__ADS_3

Keributan itu tentu menjadi tontonan keluarga yang lain. Walaupun mereka tidak bisa mendengar jelas percakapan pasangan muda itu, tapi sepertinya sedang cekcok hingga membuat Reva pergi. Sebelumnya belum pernah melihat Rafael dan Reva bertengkar begitu, selalu terlihat harmonis.


"Rafael, ada apa?" tanya Intan menghampiri.


"Em gak ada apa-apa kok Mah," bantah Rafael sambil berusaha tersenyum.


"Terus Reva kenapa pergi gitu?"


"Gak papa kok, dia cuman ngambek."


"Apa ada masalah?" Bukan bermaksud ikut campur, tadi kan sekarang Intan sudah menjadi orang tuanya jadi harus bisa menyelesaikan.


"Bukan masalah besar, paling ngambek nya juga cuman sebentar," ujar Rafael sambil tersenyum kikuk.


Rasanya memalukan sekali karena tadi sempat ribut sampai di tonton keluarga yang lain. Mereka terlalu asik sampai tidak memperhatikan sekitar. Rafael juga tidak menyangka istrinya itu akan bereaksi berlebihan begitu, kenapa jadi marah ya?


"Mah aku mau nyusul Reva dulu," izin Rafael.


"Oh iya mending sana kamu samperin, nanti dia makin ngambek lagi." Intan berpikir mungkin hanya pertengkaran biasa, apalagi perempuan kan suka ngambek.


Rafael mengangguk lalu segera pergi dari sana, saat melewati keluarga yang lain hanya tersenyum saja seolah tidak terjadi apapun. Rafael segera naik ke lantai dua, yakin sekali jika Reva sekarang sedang mengurung diri di dalam kamarnya.


Tok tok!


"Sayang, kamu di dalam, kan?" tanya Rafael setengah berteriak.


Karena pintu tidak terkunci, Rafael pun memutuskan masuk. Matanya memperhatikan sekitar dengan jeli, berusaha mencari keberadaan sang istri. Tetapi anehnya tidak ada. Baru saja akan keluar lagi, suara isakan kecil dari arah kamar mandi mengalihkannya.


Merasa yakin jika yang di dalam kamar mandi itu adalah Reva, Rafael pun segera masuk ke sana. Dan dugaan Rafael pun benar. Terlihat Reva yang sedang berdiri di dekat wastafel, pandangan mereka lalu bertemu lewat cermin. Reva langsung memalingkan wajah, mungkin malu melihatnya.


"Sayang, kamu kenapa sih?" tanya Rafael. Pria itu bersikut mendekat, tapi tangannya yang bertengger di bahu Reva malah langsung diturunkan.


"Ngapain kamu kesini? Pergi sana!" usir Reva masih sesekali terisak.

__ADS_1


"Reva aku minta maaf kalau ada salah, tolong jelasin kenapa kamu sampai nangis begini, mungkin aku bisa intropeksi diri."


Reva menghapus lelehan air matanya di pipi, lalu berbalik menghadap suaminya itu, "Kamu selingkuh ya?!" tuduh nya.


"Apa?!"


"Yolanda, siapa dia?"


Rafael langsung terdiam saat Reva menyebutkan nama itu, Ia pun mulai menduga sesuatu jika istrinya itu sekarang sedang salah paham. Apakah tadi saat Ia ke kamar mandi sempat melihat juga pesan dari Yolanda?


"Kenapa kamu berpikir aku begitu?" tanya Rafael.


"Aku tadi sempat lihat chat dari dia, dia tanyain kapan kamu pulang. Terus kamu juga gak mau nunjukin ponsel kamu, pasti ada sesuatu kan yang kamu sembunyiin?"


Helaan nafas berat keluar lewat celah bibir Rafael, "Reva, kamu terlalu berpikir jauh. Aku gak mungkin selingkuh," belanya.


"Alah bohong, buktinya tadi kamu gak mau aku lihat ponsel kamu. Biasanya ciri-ciri orang yang selingkuh kan begitu," dengus Reva. Muak sekali mendengar pembelaan pria itu.


"Ya sudah kalau kamu gak percaya, nih lihat aja ponsel aku." Rafael pun langsung memberikannya.


"Ck kenapa kodenya diganti sih?" kesal Reva.


Rafael menggelengkan kepalanya, "Ya kamu jangan marah-marah terus dong, aku ganti karena ada temen aku yang udah tahu. Kodenya aku ganti jadi tanggal lahir kamu."


Mendengar itu sempat membuat Reva tersentak, Tiba-tiba merasa terharu saja karena ternyata dirinya masih di kenang. Saat Reva menulis tanggal lahirnya, ponsel nya pun langsung terbuka, ternyata Rafael tidak bohong. Hal pertama yang Reva lihat adalah pesan, dan nama Yolanda pun langsung paling atas.


[Awas aja ya kalau gak ikut kerja kelompok, nanti aku laporin ke dosen!]


Itulah chat terakhir dari Yolanda. Sebenarnya percakapan mereka tidak ada yang aneh. Mungkin tadi Rafael pun tertawa karena pria itu yang bersikap konyol dan menggoda Yolanda sampai membuatnya marah. Menggoda di sini bukan ke arah romantis, tapi Rafael yang beralasan akan lama di Indonesia dan menyogok Yolanda.


"Gimana? Gak ada yang aneh, kan?" tanya Rafael.


"Ck terus kenapa tadi kamu sampai gak bolehin aku lihat?" tanya Reva kesal, "Atau jangan-jangan tadi kamu di bawah hapusin dulu riwayat chatnya ya?"

__ADS_1


"Reva kamu nuduh aku yang enggak-enggak lagi, mana ada waktu buat aku hapusin riwayat chat," rengek Rafael sambil memegang dadanya yang berdenyut sakit.


Melihat ekspresi memelas pria itu, membuat tatapan Reva sedikit melembut. Apakah dirinya terlalu berlebihan? Mau bagaimana lagi, namanya juga cemburu dan pasti menduga banyak hal.


"Aku sama Yolanda itu cuman temen biasa, semua sama kok. Kebetulan kami sekelompok. Dia ini orangnya mudah emosian, semua temen sering godain dia soalnya suka aja kalau lihat dia sudah marah-marah gitu," ujar Rafael kembali menjelaskan.


"Oh kamu suka godain dia juga?" tanya Reva sensi.


"Aku gak sering, kamu jangan salah paham."


Sebenarnya lucu juga melihat Rafael itu yang seperti serba salah, padahal sedang ingin membujuknya yang marah ini. Reva pun mencoba mengatur nafasnya, sekarang perasaannya lebih baik setelah mendengar penjelasan pria itu.


Reva lalu keluar dari aplikasi pesan itu, lalu beralih melihat galeri. Sempat melirik Rafael yang berdiri tidak nyaman sambil menggigiti kuku jarinya, membuat Reva bingung. Lalu ada beberapa video yang disembunyikan di aplikasi, membuat Reva penasaran dan membukanya.


"Kyaaa!" jerit Reva terkejut.


Hampir saja ponsel Rafael itu jatuh ke lantai, tapi untungnya Rafael dengan sigap menangkapnya dan dengan segera keluar dari video itu dan mematikan ponselnya. Rafael lalu tersenyum kikuk pada Reva yang masih syok.


"Rafael, kamu apa-apaan sih?!" bentak Reva galak.


"Maaf hehe."


Reva syok sekali karena video itu adalah sebuah video dewasa. Merasa tidak menyangka saja seorang Rafael yang selama ini dianggap polos dan anak baik-baik, ternyata menonton video syur begitu.


"Sebenernya itu alasan aku gak mau kamu lihat ponsel aku," ucap Rafael pelan.


"Kok kamu ngoleksi video begituan? Dasar otak kotor!" makinya. Reva jadi canggung sendiri.


"Kan aku kesepian, aku juga di sana selalu selesain hasrat aku sendiri. Caranya ya itu, lihat video itu."


Reva dibuat menggeleng-geleng mendengar itu, tidak menyangka sendiri. Tetapi Reva juga bisa menerima alasan Rafael, hasrat lelaki kan sangat tinggi. Berjauhan dengan istri pasti sangat berat untuk Rafael, berbeda dengan dirinya yang baik-baik saja.


"Kamu gak cemburu Reva aku lihat video begitu?" tanya Rafael hati-hati.

__ADS_1


"Ngapain juga aku harus cemburu?!" ketus Reva. Ia sama sekali tidak cemburu, hanya jadi canggung saja dengan situasi sekarang.


__ADS_2