Pasutri Gak Jelas

Pasutri Gak Jelas
58 Sampai Melupakan Teman


__ADS_3

Setelah Ujian terakhir selesai, terlihat senyuman bahagia di wajah para murid. Mereka ada yang merayakan dengan teman kelas dan juga teman dekat lainnya. Bukannya langsung pulang, malah bersantai lama di sekolah karena masih menikmati suasana akhir-akhir itu.


"Ica, gue mau ngomong sama lo," ucap Reva yang memberanikan diri lagi menghampiri sahabatnya itu. Sebelum Ica beranjak pergi, dengan segera Ia menahannya.


"Lepasin, mau apa sih?" tanya Ica ketus, ekspresi wajahnya terlihat sinis sekali, tapi Reva sudah biasa mendapatkannya.


"Jangan ngehindar terus dong Ca, setidaknya kasih gue waktu buat bicara sama lo." Reva selalu berusaha membujuk dan tidak pernah lelah.


"Mau bicara apalagi?"


"Gue gak suka lo yang ngejauh begini, lo masih marah sama gue? Lo benci sama gue?"


Ica memutar pergelangan tangannya sampai terlepas, perempuan itu pun memilih memalingkan wajahnya enggan menatap Reva, "Sebenernya gue tuh cuman kesel aja karena Reva kaya gak bisa ngerti perasaan gue, tapi gue juga sadar kalau gue di sini gak ada hak apapun."


"Gue minta maaf Ca, bukan maksud gue rebut Lucas dari lo." Suara Reva lebih rendah merasa menyesal, Ia tahu inti permasalahan mereka itu dari Lucas.


"Enggak, lagian dia juga bukan milik gue." Ica mengatakannya dengan pahit sesuai fakta, tapi tetap saja hatinya sakit.


"Tapi lo tetep jauhin gue, lo gak mau temenan sama gue lagi?"


"Bukannya Reva yang begitu?" tanya Ica balik.


"Maksudnya?"


"Setelah Reva pacaran sama Lucas, Reva jadi gak ada waktu lagi kumpul bareng kita. Selalu saja ke mana-mana sama Lucas, jadi kita gak ada waktu bareng-bareng lagi kaya dulu."


Perkataan Ica membuat Reva tertohok, dan jika dipikirkan ada benarnya juga. Mau bagaimana lagi, Lucas itu selalu menahannya untuk tidak pergi jauh walaupun sekedar berkumpul dengan teman-temannya. Kekasih palsunya itu memang sangat posesif, Reva sendiri merasa tertekan kalau boleh jujur.


"Gue sama Tata sekarang selalu berdua, tapi kita udah biasa kok sekarang tanpa Reva," ucap Ica sedikit acuh.

__ADS_1


Reva panik mendengar itu, "Jangan dong, kalian harus tetep jadi temen gue." Membayangkan kehilangan dua sahabatnya itu, rasanya pasti nyesek sekali.


"Tata aja yang punya pacar masih bisa kumpul-kumpul, tapi Reva sama sekali gak bisa karena terlalu fokus pacaran."


"Bukan gitu Ca tapi--"


"Mungkin sekarang Reva udah bisa terima Lucas sepenuhnya ya? Apa Reva udah ada rasa cinta juga sama dia makanya sampai gak mau pisah?"


Rasanya Reva lelah sekali mendapatkan tuduhan-tuduhan itu, tapi Ia juga hanya bisa diam karena tidak tahu harus mengatakan pembelaan apa. Masa saja Reva bilang yang sebenarnya jika Ia pun terpaksa menjadi pacar Lucas dan menuruti semua perintahnya karena diancam, mati lah Reva.


"Sebentar lagi lulus, padahal tadinya pengen banget bisa rayain bareng-bareng bertiga. Tapi kayanya Reva gak ada waktu ya, kan harus selalu sama Lucas," ucap Ica meledek.


"Enggak, kita akan tetep bareng-bareng. Sorry kalau beberapa hari ini gak ngumpul sama kalian. Gue gak berubah kok, gue minta maaf." Reva harus menurunkan egonya, karena Ia tahu di sini dirinya memang salah.


Perhatian mereka lalu teralih mendengar langkah kaki mendekat, dan ternyata itu adalah Lucas. Helaan nafas berat keluar lewat celah bibir Reva, kenapa pria itu selalu menemukannya sih? Padahal untuk sekarang, Reva ingin berbicara serius dulu dengan temannya ini.


"Mau apa?" tanya Reva sedikit ketus.


"Mau pulang sekarang gak? Aku pengen ajak kamu ke rumah aku." Lucas sudah memikirkan ini, dan Ia ingin sekali mengenalkan kekasihnya ini pada kedua orang tuanya.


Bukan hanya Reva yang terkejut, tapi juga Ica. Terlihat ekspresi menahan cemburu Ica, tapi ditutupi dengan senyuman miris karena dirinya tidak bisa apa-apa dan bukan siapa-siapa. Tetapi jujur Ica merasa iri, Lucas benar-benar terlihat jatuh cinta pada sahabanya itu.


"Waktu itu kamu kan sudah janji, pas ujian terakhir," ucap Lucas kembali mengingatkan. Masalahnya Ia sudah beberapa kali menawarkan, tapi Reva itu selalu menolak dan menghindar.


"Ekhem gue permisi," pamit Ica lalu melenggang pergi dari sana. Berlama-lama menonton pasangan kekasih itu, membuat hatinya sakit sendiri.


Reva menatap sendu sahabanya itu, lalu beralih menatap Lucas dengan tajam, "Lo sengaja ya?" tanyanya ketus.


"Sengaja apa sayang?"

__ADS_1


"Bilang gitu di depan Ica, lo gak mikirin perasaan dia?" Jujur Reva saja malu dan merasa semakin bersalah pada sahabanya itu. Padahal mereka ingin berbaikan, tapi selalu saja ada halangan.


"Enggak kok, kenapa juga mikirin perasaan dia?" Lucas sampai mengedikkan bahunya tanda tidak peduli.


"Lo juga tadi ganggu banget, padahal gue hampir baikkan sama Ica." Reva masih menggerutu kebal dengan kejadian tadi.


Lucas satu langkah mendekat, "Kok bicaranya jadi gitu lagi sih? Bukannya harusnya aku kamu ya?" tanya Lucas tersinggung.


Reva menghela nafasnya karena baru menyadari. Mungkin Ia terlalu kesal sampai berkata pun seenaknya dan mengeluarkan semua isi hatinya. Melihat sikap santai Lucas, membuat Reva semakin kesal saja. Ekspresi wajahnya pun terlihat tidak merasa bersalah sama sekali, menyebalkan memang.


"Sudah tidak usah pikirin dia, kamu selalu saja khawatir tidak ditemani lagi. Padahal aku juga selain jadi pasangan kamu, bisa jadi teman kamu juga Reva," ucap Lucas sok dewasa.


Rasanya Reva ingin tertawa mendengar itu, tentu saja Lucas tidak akan bisa. Ia saja kan terpaksa menjadi pacarnya, berteman saja tidak mau karena sekarang sudah tahu bagaimana sifat asli Lucas. Tetapi Reva hanya bisa memendamnya saja, tidak mau memperpanjang masalah.


"Ayo kita pergi, kebetulan Mama sama Papa aku tadi pagi sudah sampai di rumah," ajak Lucas.


"Kamu gila ya?!"


"Apalagi sih Reva?" tanya Lucas gemas karena perempuan itu selalu menolak.


"Papa kamu kan tahu aku istrinya Rafael, terus nanti pas ketemu malah kamu kenalin sebagai pacar, kan aneh." Inilah alasan yang membuat Reva enggan dan selalu menghindar saat Lucas ajak akan bertemu kedua orang tuanya.


"Biarin aja, bilang aja waktu itu kamu bohong jadi istri Rafael," sahut Lucas.


"Enggak, bisa-bisa nanti hubungan Papa kamu sama Ayahnya Rafael jadi buruk."


"Reva kamu terlalu serius, lagian Papa aku gak seserius itu kok. Nanti deh aku bantu jelasin, gak mungkin juga buat hubungan kerja mereka jadi berantakan." Lucas tetap kekeuh ingin mengenalkannya pada kedua orang tuanya.


Lucas pun menarik tangan Reva pergi dari sana, sepulang dari sekolah akan langsung ke rumahnya untuk bertemu dengan kedua orang tuanya. Rasanya Lucas bersemangat sekali dan tidak sabar, berbeda dengan Reva yang sepanjang jalan terus cemberut dan tidak senang.

__ADS_1


__ADS_2