
Reva melirik jam tangannya yang sudah menunjukan pukul lima lebih. Kelas akhir memang selalu pulang lebih sore karena ada kelas tambahan untuk persiapan ujian nanti. Tetapi sayangnya Reva tidak bisa langsung pulang, karena Ia ditunggu Lucas di taman belakang.
"Va, gue nebeng mobil lo ya," ucap Ica.
"Emangnya lo gak bawa mobil?"
"Enggak, mobilnya dipakai nyokap ke luar kota."
Haduh gimana nih, batin Reva.
"Lo nebeng si Tata aja sana," ucapnya.
"Sorry, gue bakalan pulang sama ayang beb," timpal Tata yang memang sudah jadian beberapa minggu lalu dengan siswa dari sekolah lain.
Ica mengerucutkan bibirnya, "Emangnya kenapa gak mau nebengin gue?"
"Gue ada urusan, jalannya gak se arah sama rumah lo. Sorry Ca."
"Sepenting itu ya?"
"Iya, lo naik taxi aja ya?"
"Hah ya udah deh gak papa," desah Ica pasrah, toh tidak bisa memaksa juga.
Reva menunggu beberapa saat di kelas itu sampai merasa semua orang pergi, setelahnya Ia beranjak pergi ke tempat pertemuannya dengan Lucas di belakang. Suasana sekolah sudah sepi, ditambah lampu-lampu yang dinyalakan karena sudah mau gelap.
"Aku kira kamu kabur," ucap Lucas berdiri dari duduknya.
"Enggak mungkin lah," bantah Reva.
"Bagus deh kalau enggak, berarti udah nentuin jawabannya, kan?"
"Gue masih bimbang."
"Kenapa bimbang? Emangnya apa jawaban lo?"
Reva menghela nafasnya berat, "Gue terpaksa."
Seringai terukir di bibir Lucas, tanpa mendengar perkataan selanjutnya Ia merasa sudah dapat menyimpulkan sendiri. Lucas pun ikut duduk di sebelah Reva, menghadapkan tubuhnya ke perempuan itu.
"Ekhem jadi mau jadi pacar aku?" tanya Lucas.
"Kenapa sih lo kekeuh banget? Padahal kan gue waktu itu udah nolak, emangnya lo gak sakit hati?"
"Enggak, malahan buat aku makin semangat buat deketin Reva."
"Apa ke semua cewek yang lo suka gitu? Pantang menyerah hah?"
__ADS_1
"Sebenarnya gak pernah kaya gini, kayanya ke kamu doang Reva."
"Cih bohong banget, dasar buaya!"
Lucas terkekeh kecil, "Terserah kamu mau percaya atau enggak, tapi kayanya di mata kamu aku se playboy itu ya?"
"Kalau dari tampangnya sih iya."
"Dasar, gak ngaruh lah. Kan yang paling tulus itu dari hati, jangan lihat dari penampilan aja."
Setelahnya hening, keduanya melamun dengan pikiran masing-masing. Tetapi Lucas tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari Reva, tatapannya itu terlihat dalam dan penuh cinta.
"Lo kan tahu gue udah punya Rafael, terus apa maksud lo mau jadiin gue pacar? Apa lo ada rencana jadi pebinor di hubungan gue sama Rafael?"
"Gak tahu, aku pengen jawab enggak tapi kayanya rencana aku emang gitu. Mungkin karena terlanjur suka, jadi apapun dilakuin biar bisa bersama."
"Tapi lo sadarkan kalau lo itu licik?"
"Sadar kok, dan pasti Reva gak suka, kan?"
"Emang, gue malah jadi kesel sama lo."
"Tapi sayangnya Reva juga gak bisa lari, alias harus pasrah sama perjanjian itu. Jadi Reva mau kan pacaran sama aku?"
Reva rasanya enggan sekali mengiyakan, hatinya merasa berat, "Lucas, padahal lo bisa loh nyari cewek yang lebih dari gue."
"Lo kaya ngemis gini, jangan rendahin diri lo sendiri."
Sebenarnya Lucas sadar jika dirinya cukup menyedihkan meminta cinta seperti ini, padahal sudah sempat ditolak juga. Tetapi saat mengetahui rahasia besar itu, seperti sebuah peluang untuknya memperjuangkan lagi perasaannya.
"Aku gak butuh pendapat dari kamu Reva, itu biar jadi urusan aku sendiri. Sekarang aku cuma butuh jawaban kamu aja, jadi apa pilihan kamu?"
"Gue terpaksa, gue gak mau rahasia itu terbongkar."
"Pilihan bagus, apalagi sebentar lagi kita ujian kelulusan. Kalau sampai berita ini kesebar, aku gak bisa bayangin kalian masih bisa hadapin ujian dengan tenang atau enggak."
Saat Lucas membawa tangannya, membuat Reva tersentak. Perempuan itu melirik sekitar merasa khawatir saja ada yang melihat, padahal di sana sangat sepi. Melihat Lucas yang tersenyum lebar begitu, membuat Reva jadi gugup.
"Makasih ya Reva, aku seneng banget loh."
Lucas pun membawa Reva ke pelukannya, bodohnya lagi Reva malah diam dengan tubuh kakunya karena merasa bingung saja harus berbuat apa. Pria itu memeluknya cukup erat, kepalanya bahkan di senderkan di bahunya.
"Aku tahu aku emang menyedihkan karena ngancem kamu agar kita bisa bersama, tapi aku juga pengen bahagia sama orang yang aku suka."
Reva membatin, merasa di sana dirinya tidak akan bahagia. Walau memang Lucas sepertinya bisa memperlakukannya dengan baik, tapi tetap saja Reva tidak setuju dengan hubungan mereka ini. Apakah keputusan Reva sudah tepat?
"Aku pengen semua orang tahu kalau kita sudah jadian," ucap Lucas sambil meregangkan pelukannya.
__ADS_1
"Apa? Tapi--"
"Tentu aja semua orang harus tahu, biar mereka juga gak curiga kalau kamu ternyata sudah menikah dengan Rafael."
Lalu jika sampai berita ini tersebar bagaimana tanggapan Rafael? Reva cukup khawatir.
"Lo seneng kalau semua orang tahu kita jadian?" tanya Reva.
"Seneng dong, kenapa enggak?"
Sungguh Reva bingung dan aneh sendiri melihat sikap Lucas, tidak bisa mengerti dengan perasaannya itu sampai bersikap licik seperti ini. Tetapi Reva juga sudah menerimanya, jadi tidak berdaya lagi untuk mundur.
"Sudah mau malam, ayo kita pulang," ajak Lucas, "Aku anterin pulang ya?"
"Gak usah, gue bawa mobil."
"Ya udah, lain kali aku yang akan jemput dan anterin kamu pulang."
"Apa?!"
"Gak ada penolakan, bukannya orang yang pacaran begitu, kan?"
"Tapi--"
"Biar yang lain juga percaya kalau kita itu bener jadian, bukan cuma omong doang. Aku ingetin sekali lagi, Reva gak ada pilihan di sini dan cuma bisa nurut. Mengerti?"
"Dasar nyebelin!"
Reva berbalik dan pergi dari sana sambil menghentakkan kakinya, ekspresi wajahnya menahan marah. Baru juga jadian, tapi Lucas itu sudah menunjukan sikap dominannya dan semaunya. Reva juga tidak bisa diperintah ini itu, tidak ada yang pernah seperti ini kepadanya.
"Huh dasar nyebelin, emang dia siapa? Gue juga terpaksa kali pacaran sama dia," gerutu Reva sepanjang jalan ke parkiran.
Saat berbelok, Reva tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang, dan ternyata itu adalah Rafael. Kenapa bisa kebetulan seperti ini?
"Loh Reva, kok belum pulang?" tanya Rafael.
"Lo juga belum, kenapa masih di sini hah?"
Rafael mengernyit mendengar nada suara ketus dari perempuan itu, "Aku tadi dipanggil guru bahasa Inggris, ada kumpulan sebentar."
"Oh."
"Kalau Reva?"
"Em gak ada apa-apa, cuma ngobrol sebentar sama temen-temen."
"Bukannya dua temen kamu udah pulang duluan tadi? Aku sempat lihat mereka tadi keluar gerbang."
__ADS_1
Sial, batin Reva ketahuan. Memang dirinya ini tidak pandai sekali berbohong, apalagi pada orang pintar seperti Rafael.