
Besoknya mereka tidak sekolah karena sudah lulus, bangun pun lebih santai karena tidak melakukan kegiatan. Hanya saja berbeda dengan Rafael yang memangnya rajin, jadi bangun di jam biasa dan menyempatkan gym sebentar di bawah. Di pukul tujuh paginya Ia baru kembali ke apartemen, menemukan Reva yang sedang melihat isi kulkas.
"Kirain bakal bangun lebih siang," ucap Rafael setelah meminum rakus air mineral di botolnya.
Reva menoleh saat mendengar itu, "Lo dari mana?" tanyanya. Tetapi kalau di perhatikan dari penampilan pria itu, Reva bisa dengan cepat menebaknya.
"Habis nge gym di bawah," jawab Rafael.
"Psstth lo kenapa jadi rajin nge gym gini? Perasaan dulu gak terlalu deh." Reva berusaha menahan tawanya meledek Rafael.
"Soalnya sekarang aku sadar kalau jaga penampilan itu sangat penting. Badan aku lumayan kurus, mungkin kalau nge gym bisa ideal. Mungkin kalau misal sampai dapetin abs di perut ya itu bonusnya hehe." Rafael terkekeh kecil membayangkan memiliki perut yang ideal seperti model laki-laki.
Tatapan Reva memicing, "Hm gue jadi curiga nih," celetuknya.
"Curiga kenapa?"
"Jangan-jangan ada cewek yang lo suka ya? Makanya lo mulai jaga penampilan. Mau cari perhatian dia?" Nada suara Reva dalam sekejap pun berubah menjadi lebih ketus, perempuan itu menduga sendiri sesuai firasat perempuan lainnya.
"Astaga enggak lah, kalaupun ada cewek yang lagi aku taksir ya kamu Reva." Rafael blak-blakkan mengatakannya, toh Reva juga sudah tahu bagaimana perasaannya ini.
"Masa? Atau jangan-jangan pelatih di gym bawah cantik-cantik dan seksi ya, makanya lo rajin ke sana."
Rafael menghela nafasnya mendengar dirinya dari tadi terus dituduh yang tidak-tidak oleh Reva. Pria itu pun beranjak mendekati istrinya itu, tapi Reva malah memalingkan wajah dengan bibir tertekuk ke bawah. Rafael lalu menyadari sesuatu, jika sepertinya Reva ini sedang cemburu. Tetapi kan tuduhannya itu tidak benar.
"Bukannya Reva suka ya sama cowok yang punya badan bagus? Atletis gitu," ucap Rafael dengan nada suaranya yang rendah, berusaha berbicara baik-baik.
"Kapan gue bilang?" tanya Reva balik sambil melipat kedua tangannya.
"Gak pernah sih, tapi bukannya semua perempuan suka cowok yang badannya bagus?"
"Oh jadi nanti kalau lo udah punya badan atletis, semua cewek bakalan tertarik dan cari perhatian lo ya?" Reva malah semakin tersulut emosi dengan pikirannya sendiri.
Rafael mengerang pelan melihat istrinya itu yang malah semakin emosi, kenapa Reva itu terus menuduhnya sih? Padahal kan Rafael sudah berusaha sebaik mungkin menjelaskan. Bukannya emosinya turun, Reva malah semakin marah padanya dengan prasangka buruk nya itu.
"Pikiran kamu itu terlalu jauh Reva." Rafael jadi lelah menjelaskan pun karena Reva tidak mau percaya.
__ADS_1
"Tapi bener, kan?"
"Enggak lah, ngapain juga aku nyari perhatian cewek lain? Aku kan udah punya istri, itu berarti aku udah punya pemiliknya."
Tanpa bisa ditahan bibir Reva melengkungkan senyuman, merasa senang saja mendengar itu. Sebenarnya Reva tidak terlalu masalah dengan penampilan Rafael, pria itu yang apa adanya saat bersamanya sudah cukup.
"Tapi nanti kalau lo punya badan bagus, gimana kalau makin banyak cewek yang suka sama lo?" tanya Reva mengkhawatirkan itu.
"Ya tinggal aku tolak, kan aku udah punya kamu."
"Lo gak bakal selingkuh, kan?"
"Enggak, aku gak begitu." Rafael lalu menarik tangan Reva mendekatinya, kini mereka berdiri saling berhadapan dengan posisi yang sangat dekat. Sebelah tangan Rafael menyampirkan helaian rambut Reva ke telinganya.
"Apaan sih?" tanya Reva berusaha menahan perasaan salah tingkahnya, percayalah detak jantungnya sekarang cepat sekali mendapati posisi mereka yang cukup dekat.
"Seharusnya aku yang khawatir punya istri kaya kamu."
"Kenapa? Apa karena gue kaya cewek nakal dan gak bisa jaga kesetiaan?" Membayangkan dianggap seperti itu oleh Rafael, tidak berbohong Reva cukup sedih, tapi Ia pun sadar dirinya tidaklah sebaik itu.
"Bukan itu, tapi Reva ini cantik dan menarik. Kejadian kemarin buat aku patah hati, jangan sampai kamu giniin aku lagi ya." Rafael mengatakannya sambil memelas, membuat Reva tidak tahan menahan tawanya.
"Emangnya aku alay? Aku kan udah jujur, dari dalam hati."
Memang sih, tapi Reva kan jadi malu sendiri mendengar perkataan manis dari pria itu. Setelah pengakuan perasaannya waktu itu, sikap Rafael jadi lebih berani kepadanya dan tidak malu-malu lagi mengungkap perasaannya. Reva sih suka-suka saja, tapi kan Ia tetap malu.
"Emangnya lo gak malu jujur gini ke gue? Sekarang lo jadi kaya buaya yang lagi gombalin target baru," celetuk Reva.
"Terserah Reva deh, tapi kan gak salah juga aku begini ke Reva. Atau apa mungkin Reva keberatan?"
"Enggak kok," bantah Reva cepat, langsung mengatupkan bibirnya karena terlihat terlalu tidak mau pria itu salah paham.
"Lagian kan kita udah suami istri, jadi gak masalah lah saling nunjukin perasaan," ucap Rafael enteng.
Reva melirik jam tangannya, Ia baru mengingat sesuatu, "Nanti siang mau anter gue gak?"
__ADS_1
"Kemana?"
"Ke Mall, gue pengen beli dress buat nanti malam acara prom night."
"Tapi kan baju Reva udah banyak, kenapa beli lagi?" Rafael bahkan tahu hanya untuk pakaian saja, Reva sampai harus menampungnya dengan dua lemari besar.
"Ih enggak ah, gue pengen yang baru yang belum pernah gue pakai," sahut Reva. Padahal bajunya tidak sering di pakai, hanya satu kali saja sudah Ia anggap bosan.
"Hah ya sudah, nanti aku anter."
"Hehe beneran nih? Berarti lo yang belanjain kan?"
"Ya iyalah, uang jajan kamu kan dari aku."
"Makasih Rafael," ucap Reva sok manis, hanya ingin menunjukan rasa terima kasihnya saja pada suaminya itu yang baik hati.
Seringai lalu terukir di bibir Rafael, "Tapi aku minta hadiahnya sekarang dong," ucapnya.
"Hadiah apa? Lo kan gak ulang tahun," sahut Reva bingung.
"Hadiah karena nanti bakalan temenin Reva shopping."
"Ck kok ada bayarannya sih?" Perhitungan sekali pikirnya suaminya itu.
"Bukan uang atau barang kok, gampang banget."
"Apaan?"
Tiba-tiba Rafael merendahkan kepalanya hingga hampir sejajar dengan Reva, "Cium."
Reva langsung membelakan matanya mendengar permintaan itu, perlahan Ia merasakan pipinya mulai memanas merasa salah tingkah sendiri, "Nyari kesempatan banget lo!" dengusnya.
"Cuman cium aja, terserah mau dimana aja kok. Anggap aja ini sebagai imbalan, ya?" Rafael lalu memejamkan kedua matanya sambil menunggu perempuan itu memberikan yang diinginkannya dengan hati berdebar.
Hampir satu menit Reva terdiam karena merasa gugup harus melakukan apa, tapi khawatir Rafael membuka mata dan protes membuat Reva memutuskan mempercepat. Setelah berusaha menenangkan diri, dengan memberanikan diri Ia pun mengecup pipi kanan Rafael. Setelahnya Reva langsung berlari ke kamarnya karena terlalu malu.
__ADS_1
"Hah sudah?" tanya Rafael sambil membuka mata, tapi tidak melihat keberadaan Reva lagi di depannya.
"Loh itu memangnya ciuman yah?" Batinnya. Padahal Rafael menginginkan lebih, misal di bibirnya gitu.