
Dering alarm yang memekakan telinga terpaksa membuat Reva membuka matanya. Sebelah tangannya terulur untuk mematikan alarm itu, tapi karena tidak mau berhenti juga membuatnya harus beranjak duduk untuk mematikan dengan melihat langsung.
"Hah sudah jam setengah enam lagi, aku malas sekali," gumam Reva. Ia harus bangun awal karena hari ini adalah perdananya masuk ke Kampus, menjadi maba baru.
Khawatir terlambat Reva pun turun dari kasurnya untuk segera bersiap-siap. Ia memakai atasan blouse yang dibalut dengan blazer warna cerah, sedang bagian bawahnya memakai celana panjang. Menurutnya memakai pakaian bebas begini tidak terlalu menyenangkan, lebih nyaman saat memakai seragam SMA.
"Loh kok belum ada sarapan? Apa Rafael belum bangun ya?" gumam Reva. Khawatir suaminya itu benar belum bangun, membuatnya berlari kecil untuk mengeceknya di kamarnya.
"Rafael bangun, udah si--" Reva tidak melanjutkan perkataannya baru menyadari Rafael sudah tidak ada di sini, kamarnya yang tampak kosong dan dingin baru Ia sadari.
Helaan nafas berat keluar lewat celah bibir Reva, dengan berjalan gontai perempuan itu pun kembali ke meja makan untuk mulai sarapan sendiri. Reva lupa jika Rafael sudah pergi, Ia hanya belum terbiasa menjalani ini sendirian. Biasanya mereka selalu bersama hampir dua puluh empat jam.
"Sedang apa dia ya? Apa dia sudah bangun juga?" tanya Reva melihat nomor ponsel Rafael. Ingin sekali menghubungi, tapi Reva terlalu gengsi dan inginnya Rafael yang lebih dulu menghubinginya.
"Masa aku setiap hari sarapan dengan roti? Huft tidak enak sekali," dengusnya. Setelah menghabiskan dua lembar rotinya, tidak lupa setengah gelas susu. Reva pun baru berangkat untuk ke Kampus.
Perjalanan dari apartemen ke Kampusnya lumayan jauh, belum lagi macet. Itulah kenapa Ia tadi bangun pagi, apalagi ada kelas pagi dan jangan sampai telat. Padahal saat SMA dulu Reva termasuk murid nakal yang suka melanggar aturan, tapi setelah di Universitas tinggi membuatnya berubah dan serius belajar. Bukankah bagus?
Dug!
"Aduh!"
Reva terpekik melihat seorang perempuan terjatuh tepat di sebelah mobilnya, sepertinya tertubruk dengan pintu mobil yang Ia buka. Reva pun segera mendekat sambil meminta maaf, meringis di dalam hati karena dirinya yang terlalu ceroboh sampai tidak melihat-lihat sekitar.
"Aduh maaf ya, aku tadi gak sengaja," ucap Reva dengan nada merasa bersalahnya.
"Iya gak papa, tapi lain kali hati-hati ya." Perempuan yang memiliki rambut panjang lurus itu tersenyum lembut membalasnya.
Reva lalu memperhatikan perempuan itu yang mencoba berdiri dibantu dengan tongkat jalannya, menyadari sesuatu Reva pun berinisiatif membantunya. Reva semakin merasa bersalah karena ternyata perempuan itu sedang terkena musibah, sedangkan Ia malah menambah nya.
"Boleh kenalan gak? Nama kamu siapa?" tanya Reva mencoba ramah. Mungkin saja kan mereka bisa jadi teman?
__ADS_1
"Boleh kok, nama aku Vanessa. Kalau kamu?"
Reva tersenyum lebar karena merasa disambut dengan baik, "Nama aku Reva, aku maba baru dan hari ini kelas pertama."
"Oh ya? Wah sama dong, aku juga," sahut Vanessa dengan nada riangnya.
"Kamu jurusan apa emangnya?"
"Desain, kalau kamu?"
"Aku juga sama."
"Wah kebetulan banget, akhirnya punya temen sekelas juga, gak nyangka hehe," ucap Vanessa yang membuat Reva pun tersenyum senang.
Mereka pun berjalan menuju kelas ber sama-sama, Reva mencoba menyesuaikan langkah kakinya dan berjalan dengan pelan di sisi Vanessa. Reva juga bahkan yang membawakan tempat laptop milik perempuan itu, merasa kasihan saja karena Vanessa terlihat kesusahan.
"Kamu mau duduk dimana?" tanya Reva.
"Di sini aja yuk," ajak Vanessa menunjuk salah satu bangku, dan mereka pun duduk di sana bersebelahan. Terlihat sudah ada beberapa juga yang masuk kelas, pelajaran akan dimulai beberapa menit lagi.
"Kamu juga cantik kok Vanessa," balas Reva.
"Makasih, tapi cantik kamu itu khas banget kaya cewek kota gitu."
Reva dibuat terkekeh kecil mendengar itu, "Apaan sih? Emang apa bedanya? Kamu ini lucu ah."
"Hehe bukan apa-apa, tapi orang bilang kalau aku malah kaya cewek kampung gitu."
"Hm kata siapa?"
"Teman-teman sekolah aku dulu, banyak yang bilang gitu. Apa memang iya ya? "
__ADS_1
"Aku gak tahu gimana khas cewek kampung dan kota, tapi yang pasti kamu juga cantik kok," jawab Reva sambil tersenyum. Kalau diperhatikan Vanessa itu terlihat sederhana orangnya, wajahnya juga natural tanpa make up. Mungkin maksudnya kecantikan Vanessa itu khas desa, alias bunga desa. Itulah yang Reva cerna.
"Tadi kamu gak papa, kan? Apa ada yang luka?" tanya Reva memastikan lagi.
"Enggak kok, cuman ke tubruk aja sama pintu mobil kamu hehe." Vanessa terkekeh kecil saat membayangkan kejadian yang menurutnya lucu tadi.
"Maaf ya aku salah gak lihat-lihat dulu, bakalan jadi pelajaran sih buat aku."
"Gak papa, mungkin emang udah takdirnya kita dipertemukan begitu," sahut Vanessa membuat Reva mengangguk setuju.
Saat melihat si dosen masuk, suasana kelas yang tadinya ramai pun menjadi hening. Biasanya di hari pertama ini mereka akan perkenalan lebih dahulu, sekaligus si dosen yang memperkenalkan diri juga rencana materi yang akan di pelajari nanti.
Satu jam kemudian kelas akhirnya berakhir, selanjutnya akan dilanjutkan sekitar setengah jam an lagi. Reva dan Vanessa pun memutuskan keluar kelas, tadi pun sempat berkenalan dengan teman-teman yang lain untuk saling mengenal.
"Maaf kalau boleh tahu, kaki kamu kenapa?" tanya Reva hati-hati, sungguh Ia sangat penasaran.
Vanessa menunduk sekilas melihat kakinya, "Aku sempat kecelakaan beberapa waktu lalu, jadi kakinya patah dan sekarang masih masa penyembuhan," jawabnya.
"Ya ampun, aku ikut sedih dengernya. Emangnya kenapa bisa patah?"
"Em.. Aku jatuh dari motor." Vanessa menjawabnya lagi sambil tersenyum, tidak ada raut kesedihan di wajahnya.
"Lain kali hati-hati."
"Iya, Reva juga hati-hati kalau pakai mobil," balas Vanessa membuat Reva tersenyum.
Walaupun masih pagi, tapi saat melihat banyak jajanan di kantin membuat lapar dan akhirnya mereka pun memutuskan untuk nyemil sambil menunggu kelas selanjutnya. Terlihat keduanya sudah akrab, padahal baru kenal hari ini. Reva juga terlihat berbeda sekali, kali ini tidak pilih-pilih mencari teman.
"Hei ternyata ini anak ada di sini, kita nyari-nyari dari tadi." Tiba-tiba ada empat orang perempuan yang bergerombol datang, mereka pun berdiri mengerubuni Vanessa yang sedang duduk.
"Hei Vanes, lo dari mana aja sih?" tanya salah seorang dengan nada ketusnya.
__ADS_1
"Em aku tadi pagi ada kelas," jawab Vanessa dengan kepala menunduk.
"Ya elah kan dibilangin kalau kelas selesai langsung samperin kita, kenapa malah di sini? Terus sama siapa nih?" Perempuan berbando itu lalu bertatapan dengan Reva, tatapan itu terlihat dalam memperhatikan satu-sama lain.