Pasutri Gak Jelas

Pasutri Gak Jelas
14 Selalu Lebih Dewasa


__ADS_3

Baru saja akan masuk ke kamarnya, Reva mengernyit bingung karena pintu yang terkunci. Ia sempat melirik kesal Rafael karena pasti ulah pria itu, dengan malasnya Reva mengeluarkan kunci kamar cadangannya sendiri lalu membukanya.


"Kenapa dikunci sih?"


"Tadi kan ada Dinda, dia hampir masuk ke kamar kamu."


"Terus dia udah masuk belum?"


"Ya untungnya belum, langsung aku cegah."


"Huh emang dasar gak sopan, tamu kok gak bisa diem," dengus Reva, "Dia ngeberantakin rumah gak?"


"Emangnya kenapa?"


"Ya kalau ngeberantakin mau gue suruh dia balik kesini buat beres-beres."


Rafael menggeleng melihat sikap emosional istrinya itu, "Enggak, Dinda gak aneh-aneh kok di sini."


Reva mengedikkan bahunya tidak terlalu peduli juga musuhnya itu mau melakukan apapun di sini, asalkan jangan masuk ke area pribadinya ini. Reva lalu duduk di ranjang sambil mengeluarkan satu persatu barang belanjaannya.


"Kamu belanja apa aja sampai habis tiga juta?" tanya Rafael.


"Ada baju, aksesoris, dalaman."


"Tapi kok segitu bisa semahal itu?"


"Namanya juga fashion, belinya juga dari brand terkenal. Lo mah emang katro sih, gak tahu bergaya."


"Yang penting kan rapih, gak perlu harus branded juga," bela Rafael.


"Tapi sayang aja, banyak duit tapi gak punya barang branded."


Rafael sih tidak terlalu peduli dan sebenarnya tidak mau terlalu menunjukan kemewahannya juga. Di usianya yang masih delapan belas tahun, Ia bisa dibilang sudah sukses karena menanam saham di perusahaan keluarganya.


"Rafael, bentar gue mau nunjukin sesuatu ke lo," ucap Reva bersemangat.


"Apa?"


"Makanya tunggu, jangan dulu pergi ya."


"Iya-iya, cepetan."


Reva segera pergi ke kamar mandi sambil membawa sesuatu di pelukannya, seperti kain satin. Sambil menunggu, Rafael merapihkan barang-barang perempuan itu. Membuang hasil transaksinya juga ke tong sampah di pojok kamar.


"Tara, gimana?"


Saat Rafael melihat ke ambang pintu, pria itu langsung tersedak ludahnya sendiri. Di sana Reva berdiri berkacak pinggang dengan dress seksi tanpa lengannya. Rafael repleks menutup mata merasa malu sendiri melihat itu.


"Tadi mbaknya nawarin, katanya kalau di rumah pakai ini, bisa bikin suami betah," goda Reva sambil menahan tawanya, "Gimana? Gue seksi, kan?"

__ADS_1


"Aduh Reva ngapain sih beli baju begituan?"


"Loh bagus dong, kan katanya kalau suami lihat bakalan suka. Lo suka, kan?"


"Enggak."


"Hah kok enggak?!" tanya Reva tersinggung, "Ah lo mah emang aneh, beda dari cowok lain."


Rafael menghela nafasnya lalu menurunkan tangan yang dari tadi menutupi matanya. Kini jarak berdirinya dengan Reva lumayan dekat, jadi Rafael semakin jelas melinat kulit mulus perempuan itu.


"Reva kamu itu masih kecil, gak cocok ih pakai baju terbuka gitu."


"Masih kecil apanya? Dadanya? Tapi ukurannya C-cup kok," ucap Reva sambil menyentuh dan sedikit memijat dadanya sendiri.


Rafael yang melihat itu linu sendiri, apalagi pakaian yang Reva pakai itu cukup tipis. Rafael mencoba mengatur nafasnya yang mulai tidak teratur. Ia adalah pria normal, jadi jika melihat perempuan seksi tentu saja sedikit tergoda. Apalagi ini tepat di depannya.


"Kalau mau dipakai di apartemen aja gak papa, tapi jangan sampai dipakai ke luar ya?"


"Emangnya kenapa?"


"Gak boleh lah, nanti banyak laki-laki yang lihat."


Seringai terukir di bibir Reva, "Lo cemburu ya kalau ada cowok lain yang ngelirik gue?"


"Bukan gitu, tapi kan aku suami kamu dan harus selalu nasehatin yang baik-baik juga. Kalau semisal ada yang salah, harus aku tegur."


Reva berdecak pelan, merasa Rafael itu terlalu serius dan sangat tidak asik. Tetapi tidak bisa berbohong hatinya sedikit sakit karena ternyata pria itu tidak cemburu. Memang sih bagus masih perhatian, tapi hanya sebatas itu saja.


"Belum, tapi tadi aku beli KFC dari Mall. Lo udah makan belum?"


"Sudah."


"Ih padahal gue belinya buat dua porsi, kok udah makan duluan sih?!"


"Ya maaf, kan Reva juga gak tanya dulu aku udah makan belum."


"Lo makan berdua sama si centil ya? Dimana?"


"Tadi sih pesen, terus makan di sini."


Tidak bisa Reva bayangkan apa saja yang Rafael dan Dinda lakukan berdua saat di sini, membuatnya semakin overthinking saja. Tanpa mengatakan apapun, Reva berbalik keluar dari kamarnya. Ia ke pantri untuk memindahkan makanan pesanannya ke piring.


"Makannya sendiri aja, gak bakal bagi-bagi?"


Reva menatap sinis Rafael yang malah duduk di depannya, Ia berusaha mengabaikan dan tetap fokus menyantap ayamnya. Saat melihat Rafael akan membawa paha ayam di piring, Reva dengan cepat memukul tangannya membuat Rafael meringis.


"Jangan sentuh-sentuh!" ketusnya.


"Pelit banget, minta satu ya?"

__ADS_1


"Gak, kan tadi lo udah makan."


"Tapi laper lagi, cuma pengen nyemil satu ayam ini. Boleh ya?"


Reva tetap menggeleng sambil menarik piring makannya ke dekatnya, menjadi menjauh dari Rafael. Dengan sengaja Reva malah makan dengan menggoda membuat Rafael semakin menelan ludah susah payah tergiur.


"Tadi katanya beli dua porsi, satu lagi kan buat aku," ucap Rafael.


"Kan tadi sudah makan, ya kalau sudah jangan minta."


"Tapi--"


"Syuthh udah sana pergi, katanya banyak tugas. Jangan ganggu, nanti gak selera makan lagi."


"Ah dasar Reva pelit, awas saja nanti kalau aku beli ayam gak akan aku kasih." Setelah mengatakan itu, Rafael pun beranjak pergi dari sana.


Reva hanya mengedikkan bahunya tidak peduli dan kembali melanjutkan memakan ayam gorengnya. Tetapi saat tersisa satu lagi, Ia malah terdiam menatap ayam goreng itu. Reva jadi teringat Rafael yang tadi menginginkannya.


Perempuan itu melihat jam di dinding yang baru menunjukan pukul delapan malam. Dengan mengendap, Reva menuju kamar Rafael sambil membawa piring dengan sisa satu ayam gorengnya. Pintu kamarnya terbuka sedikit, jadi Ia bisa melihat apa yang sedang pria itu lakukan.


"Lagi ngapain? Kalau mau masuk, masuk aja," ucap Rafael tanpa menoleh. Pria itu sedang fokus melihat statistik perkembangan sahamnya.


Reva mendekat sambil menyembunyikan piringnya di belakang tubuhnya, "Kirain lagi ngerjain tugas."


"Iya ini juga kan."


"Gimana sahamnya? Apa turun?"


"Enggak dong, kan aku pinter stabilin. Malahan bulan ini semakin naik."


"Hehe berarti uang jajan gue makin banyak dong," celetuk Reva mengkode.


Rafael melirik nya sekilas, "Enggak, kan Reva sudah shopping banyak hari ini. Jadi gak bakal dilebihin."


"Ck nyebelin, jadi suami itu jangan pelit-pelit sama istri."


"Tadi aja Reva pelit."


"Ya elah cuma satu ayam goreng aja, ya sudah nih gue kasih."


Rafael melihat piring yang tersimpan di mejanya, terlihat satu ayam goreng bagian paha. Tanpa bisa ditahan bibirnya melengkungkan senyuman, merasa geli dan terhibur sendiri dengan sikap gengsi Reva.


"Tadi katanya gak mau ngasih," ucap Rafael mengungkit.


"Gue kekenyangan, sayang aja kalau di besokkin gak akan enak. Jadi dari pada dibuang mending kasihin aja, kan?"


"Iya-iya deh percaya, makasih ya."


"Tapi nanti uang jajannya dilebihin ya?"

__ADS_1


"Lihat aja nanti ya."


__ADS_2