Pasutri Gak Jelas

Pasutri Gak Jelas
105 Banyak Yang Khawatir


__ADS_3

Setelah kejadian kejahatan yang menimpa Reva, Papanya itu membawanya ke rumah karena merasa lebih aman sekaligus ingin menemani dahulu putrinya itu yang pasti sedang terguncang karena mengalami kejadian buruk seperti itu.


"Ini Non diminum dulu airnya biar lebih tenang," ucap mbok Jumi, pembantu tua yang sudah lama bekerja di sini.


Reva pun menerimanya, "Makasih bi," ucapnya.


"Sama-sama, Non baik-baik aja kan? Mbok tadi ikut kaget pas denger kabar dari Tuan kalau Non dirampok." Dari sorot mata mbok Jumi menunjukan perasaan khawatir itu, Ia sangat-sangat peduli pada Reva yang bahkan sudah dirawat nya dari kecil.


"Aku gak papa kok," jawab Reva sambil berusaha tersenyum, walau sebenarnya jiwanya masih seperti melayang karena tidak menyangka telah mendapatkan kejadian buruk begitu.


"Beneran kamu gak papa? Dia gak sakitin atau ancam kamu?" Papanya yang baru selesai teleponan pun menghampiri Reva dan duduk di sebelahnya.


"Enggak, makanya pas itu aku gak curiga kalau dia penjahat," geleng Reva, "Tapi yang aku bingung tuh, mobilnya kan mogok. Terus gimana bisa dia bawa kabur dengan cepat? Aneh banget." Inilah yang dari tadi Reva pikirkan.


"Untuk itu Papa juga gak tahu, tapi bisa aja mungkin mereka berkelompok gitu jadi saling kerja sama," sahut Papanya. Membayangkan putrinya jika sampai kenapa-napa, membuatnya takut sendiri.


"Huft tapi untungnya yang dateng seorang, dia juga penampilannya kaya Bapak-Bapak biasa, gak sangar gitu."


"Non jangan lihat dari penampilan aja, kadang mereka itu memang pinter nipu," ucap mbok Jumi yang langsung diangguki Papanya.


"Untung aja tadi Papa kebetulan lewat, Papa sampai gak nyangka sendiri kalau itu kamu. Mungkin Tuhan kasih petunjuk ke Papa langsung untuk nolong kamu," gumam Papanya pelan.


Reva yang merasa terharu pun memeluk Papanya itu, "Makasih ya Pah, aku juga bener-bener lega pas tahu kalau itu Papa."


Keadaan di sana tadi sangat sepi, Reva sampai tidak peduli menangis di trotoar karena sedang putus asa. Melihat Papanya yang datang, malah membuat Reva semakin cengeng seperti anak kecil yang sedang mengadu. Ternyata mau sebesar apapun usianya, tetap saja Reva butuh sosok orang tua.


"Papa sudah telepon teman Papa yang polisi, dia bilang akan langsung usut sama timnya dan cek TKP. Semoga aja ada CCTV supaya bisa bantu ketemu pelakunya," ucap Papanya memberitahu.


"Iya semoga aja, gak ikhlas banget mobil kesayangan aku diambil. Huh dasar nyebelin!"


"Kamu juga malam-malam keluyuran," tegur Papanya.

__ADS_1


"Kan aku udah bilang habis nganterin temen, aku juga gak tahu bakal kejadian kaya gini."


"Tapi biasanya kamu gak suka keluyuran malam, kan?" Papanya bertanya sambil memicingkan mata.


"Ih ya enggak lah, sekarang aku sudah beda." Kalau dulu sih sebelum menikah Reva termasuk nakal sering main malam bersama teman-temannya, tapi semenjak menikah Rafael selalu menahannya dan Reva pun mulai berubah.


"Kalau gitu malam ini kamu nginep di rumah, Papa khawatir kalau kamu sendirian dan terus merenung di apartemen."


"Iya malam ini aku bakalan nginep, lagian udah malem." Reva pun pamit menuju kamarnya di lantai dua. Rumah ini dari dulu sangat sepi dan sunyi, sangat besar tapi penghuninya hanya sedikit.


Baru saja Reva membaringkan tubuhnya di ranjang, deringan ponsel menggema membuat perhatiannya teralih. Saat melihat nama si pemanggil ternyata itu adalah Rafael, kenapa malam-malam meneleponnya? Reva pun mengangkat saja.


["Reva katanya kamu kerampokan ya? Kamu baik-baik aja, kan? Kamu gak papa? Apa ada yang luka?"] Suara keras Rafael dari sebrang sana dengan melontarkan banyak pertanyaan membuat Reva terkejut sendiri sampai menjauhkan ponselnya sebentar.


"Emangnya aku kenapa?" tanya Reva balik. Apakah mungkin Rafael sudah tahu apa yang sedang menimpanya?


["Papa kamu bilang kalau kamu tadi habis kerampokan, terus mobil kamu katanya diambil. Apa bener?"]


["Tapi kamu gak papa, kan? Apa mereka nyakitin kamu?"] Bagi Rafael, mobil itu tidak terlalu Ia pedulikan. Yang terpenting itu kan keadaan istrinya.


"Enggak, soalnya aku kira dia juga bukan orang jahat, pakaiannya biasa aja dan wajahnya gak sangar." Reva lalu melanjutkan ceritanya jika si Bapak itu meminta mencari bengkel di depan yang katanya tidak jauh, dan bodohnya Ia pun malah menurut dan meninggalkan mobilnya begitu saja.


["Haduh kamu ini, jangan mudah percaya dong sama orang,"] tegur Rafael gemas sendiri.


"Ck ya aku juga kan gak tahu dia orang jahat, aku pikir dia beneran mau nolongin aku."


["Kalau misal dia bener mau nolongin, ya dia lah yang cariin montir nya, bukan kamu yang punya mobil."]


"Benar juga," batin Reva.


["Tapi syukur deh kalau kamu gak papa, yang penting kamu aja yang selamat. Soal mobil, aku yakin Papa juga pasti akan bantu cariin. Kamu yang tenang ya, jangan sedih."]

__ADS_1


Untuk beberapa saat Reva terdiam, "Tadi aku sempet nangis," ucapnya pelan.


["Aku tahu kamu pasti sedih karena mobil kesayangan kamu hilang, gak papa tenang aja-"]


"Aku nangis bukan karena itu, tapi karena hal lain," sela Reva.


["Terus kenapa?"]


"Mikirin kamu. Aku ngerasa setelah kamu pergi, banyak kejadian yang harus aku hadapin sendiri. Aku ngerasa berat, karena selama ini selalu bergantung sama kamu Rafael. Kamu juga gak ada di samping aku pas aku benar-benar lagi butuh." Kedua mata Reva langsung terpejam karena sudah mengungkapkan isi hatinya, tapi tidak bisa berbohong rasanya sekarang lega sekali.


["Maafin aku sayang, aku juga sedih gak bisa di samping kamu untuk nemenin kamu. Maaf ya?"]


"Iya gak papa, kamu di sana juga pasti harus mandiri dan akan banyak hal terjadi. Kita sekarang harus bisa biasain diri. Kamu mungkin bisa, tapi aku harus belajar," ucap Reva sambil tersenyum kecut.


["Jangan sedih, walaupun kita berjaugan tapi hati kita tetap bersama kok."]


"Ck dasar gombal," dengus Reva sambil terkekeh kecil.


Cukup lama mereka ber teleponan, dan Reva merasa lebih lega setelah mendengar suara Rafael yang terus memberikan ketenangan juga. Walaupun akan lebih puas pastinya jika mereka bertemu langsung, tapi sekarang kan LDR jadi hanya bisa lewat virtual saja.


["Terus sekarang kamu dimana?"]


"Aku nginep di rumah Papa, tapi kayanya besok harus ke apartemen soalnya ada kelas."


["Ya sudah sekarang mending tidur, jangan terlalu dipikirin lagi."]


"Hm."


["Mending mikirin aku, kan bikin bahagia tuh,"] modus Rafael lalu terkekeh geli.


"Dasar."

__ADS_1


Setelah panggilan berakhir, Reva pun kembali merebahkan tubuhnya di ranjang. Terlihat bibirnya terus melengkungkan senyuman, perempuan itu hanya merasa senang sudah melepas rindu dengan suaminya.


__ADS_2