Pasutri Gak Jelas

Pasutri Gak Jelas
Tidak Mau Egois


__ADS_3

"Rafael sempat kaget dan gak nyangka juga, tapi dia bilang dia senang," jawab Reva sambil tersenyum.


Bunda langsung mengelus dadanya lega, "Terus Rafael mau pulang, kan?"


"Hah? Kenapa Rafael mau pulang ke Indonesia?" tanya Reva bingung.


"Ya harus dong, dia harus ketemu kamu langsung dan kalau bisa temenin kamu juga di masa kehamilan ini. Reva, Bunda bukan mau nakut-nakutin, tapi trimester pertama itu sangat berat."


Memang benar sangat berat, karena sekarang kan Reva sedang merasakannya juga. Tetapi setelah dipikir-pikir lagi, kasihan juga kalau Rafael pulang hanya untuk bertemunya langsung dan memastikan keadaannya ini.


"Gak usah deh Bunda, kasihan Rafael kalau pulang," kata Reva.


"Loh kenapa? Kalau soal masalah biaya gak papa, Ayah yang akan urus," ucapnya yang merasa setuju dengan perkataan istrinya.


"Bukan itu, tapi kan perjalanan dari sana ke sini jauh banget. Dia juga baru pulang beberapa minggu lalu, pasti capek banget. Lagian sekarang kita juga sudah aktif belajar lagi, kalau misal Rafael pulang pasti akan ganggu belajar dia." Reva mengatakannya dengan berbesar hati.


Sebenarnya Reva senang saja jika benar Rafael pulang, tapi Ia tidak bisa bersikap egois dan mementingkan diri sendiri. Sampai sekarang Reva masih sanggup menjalani sendirian, walau memang banyak sekali cobaannya.


"Iya kasihan Rafael kalau pulang, tidak apa-apa, Reva akan baik-baik saja kok," sahut Harry.


"Benar, kan banyak yang menjaga dia. Apa Reva mau pindah ke rumah Papa?" tawar Intan.


"Em gak tahu," geleng Reva.


"Kalau menurut Bunda sebaiknya Reva pindah saja, kalau tinggal sendirian saat hamil di apartemen bener-bener gak enak," ujar Bunda.


"Baiklah nanti aku akan pikirkan lagi, tapi gak sekarang ya. Aku bener-bener kuat kok, gak papa." Reva berusaha menunjukan ekspresi tenangnya agar orang tuanya itu tidak terlalu khawatir.


Para orang tua pun tersenyum mendengarnya, walau begitu mereka tetap khawatir membayangkan Reva tinggal sendirian di apartemen. Bagaimana kalau terjadi hal buruk? Sedangkan Reva sendirian, tidak ada yang menjaganya. Para orang tua hanya berjaga-jaga saja.


"Kamu sudah periksa kandungan ke dokter?" tanya Intan.


"Belum," jawab Reva.

__ADS_1


"Gimana kalau besok? Sama Mama ya," ajaknya. Intan jadi bersemangat sendiri merawat anaknya ini yang sedang hamil.


"Boleh Mah," angguk Reva.


Lagi pula Reva tidak terlalu mengerti bagaimana cara cek kandungan ke dokter itu, ini kan pertama kalinya Ia hamil. Sedangkan Intan sudah pernah, ya walau sayangnya bayinya tidak selamat saat kecelakaan itu.


Obrolan pun terus berlanjut, para orang tua memberikan beberapa nasihat kepada Reva yang sedang hamil. Tidak boleh ini itulah, lalu harus selalu hati-hati dimana pun. Reva hanya mendengarkan saja dengan serius, karena menurutnya penting.


"Sudah malam ya, sepertinya Ayah dan Bunda harus pulang sekarang. Gak papa?" tanya Bunda. Padahal Ia masih betah, tapi besok kan mereka kerja.


"Iya gak papa, malahan aku tadinya mau nyuruh kalian pulang soalnya sudah larut hehe," jawab Reva sambil terkekeh kecil.


Begitupun kedua orang tuanya, mereka juga akan pulang. Berjanji suatu saat akan menginap bergantian di apartemen, malam ini tidak bisa karena besok akan bekerja. Reva mengantar hanya sampai depan pintu apartemen, mereka tidak membolehkannya turun karena sudah malam.


"Hoam aku juga sudah ngantuk," gumam Reva sambil menguap lebar.


Perempuan itu pun masuk lagi ke apartemennya, tidak lupa mengunci pintu lalu ke kamarnya untuk istirahat. Akhir-akhir ini Reva memang jadi sering tidur lebih awal, mungkin bawaan bayi juga. Padahal dulu selalu bergadang, tapi sekarang tidak akan karena kasihan pada bayinya.


Besok paginya Reva bangun tidak kesiangan, segera Ia bersiap untuk kuliah. Saat sedang asik sarapan, deringan ponselnya mengalihkan perhatian. Melihat jika itu adalah Rafael, segera Ia pun mengangkatnya.


["Selamat pagi sayang, kamu lagi apa?"] tanya Rafael.


"Aku lagi sarapan, mau ke Kampus. Kamu lagi dimana? Kok gelap di sana?"


["Iya lah gelap, di sini kan sudah malam. Aku baru pulang dari Kafe, tadi habis kerja kelompok,"] jawab Rafael. Pria itu bahkan sampai menunjukan keadaan sekitar taman yang gelap dan sepi.


"Habis kerja kelompok sama Yolanda ya?" Nada bicara Reva jadi agak ketus.


["Em iya, tapi--"]


"Apa kalian juga makan malam bareng? Sudah pasti sih, pasti cuman berdua ya? Wah pasti banyak yang ngira kalian pacaran," celetuk Reva.


["Sayang jangan cemburu dong, aku dan Yolanda beneran cuman ngerjain tugas kok. Di Kafe juga cuman minum kopi, udah gitu doang."] Rafael jadi panik sendiri melihat ekspresi wajah masam istrinya.

__ADS_1


"Oh ya sudah."


["Sayang kamu marah? Jangan marah, aku kan gak aneh-aneh."]


"Iya-iya."


Reva juga tidak tahu kenapa berpikir sejauh ini, hanya merasa cemburu saja membayangkan suaminya di sana berduaan dengan perempuan lain walau sebatas mengerjakan tugas. Apa mungkin bawaan bayi ya?


"Sudah dulu ya aku mau berangkat, takut telat," ucap Reva.


["Iya aku juga mau pulang soalnya udah malam, agak bahaya juga malam-malam gini di luar."]


"Ya sudah sana cepet pulang, langsung mandi dan ganti baju."


["Kamu juga semangat ya belajarnya, oh iya titip salam untuk anak Papa."] Rafael langsung terkekeh kecil.


Sebelah alis Reva terangkat, "Papa?" tanyanya mengulang.


["Iya Papa, gak papa, kan? Kamu mau dipanggil apa nanti?"] tanya Rafael balik.


"Hm aku mau dipanggil Kanjeng Ratu aja," celetuk Reva.


Melihat Rafael yang tertawa terbahak di sebrang sana membuat Reva ikut tersenyum, Ia hanya bercanda dan ternyata berhasil juga. Walaupun hanya bertukar kabar sebentar, tapi itu saja sudah cukup bagi mereka melepas rindu.


Setelah sarapannya habis, Reva pun segera berangkat ke Kampusnya dengan menaiki mobil seperti biasa. Sesampainya di Kampus Reva terkejut melihat teman-temannya memberikan kejutan kecil kepadanya, katanya sebagai tanda selamat karena dirinya hamil.


"Ya ampun makasih, tapi kalian tahu aku hamil dari siapa?" tanya Reva pada semuanya.


"Dari Vanessa, dia juga yang ngajak kita untuk ngadain kejutan ini," jawab salah seorang.


Reva pun langsung melirik Vanessa sambil tersenyum manis, sedang temannya itu hanya tersenyum malu-malu sambil melambaikan tangan kepadanya. Semua teman kelasnya pun memberikan selamat kepada Reva, yang tentu saja disambut dengan baik.


"Pokoknya kalau kamu butuh sesuatu bilang sama kita ya."

__ADS_1


"Terus kalau misal kamu ngerasa sesuatu yang gak enak, jangan lupa bilang sama kita."


Mendengar teman-temannya yang super protektif ingin ikut menjaganya membuat Reva terkekeh kecil, merasa senang dan terharu di waktu bersamaan. Mereka bilang bayinya itu adalah calon keponakan mereka, jadi harus ikut menjaga.


__ADS_2