
"Reva, kamu kenapa?" tanya Rafael bisa membaca ekspresi wajahnya.
"Hah? Gak papa kok," bantah nya.
"Kok kaya panik gitu?"
"Enggak, biasa aja."
Reva masih memikirkan kejadian tadi saat bertemu Lucas, lalu pria itu yang penasaran kenapa Ia dan Rafael belanja bersama. Reva cukup khawatir pria itu cerita pada murid di sekolah, nanti pasti akan langsung menjadi bahan perbincangan.
"Kita makan dulu yuk, aku laper," ajak Rafael.
"Tunggu!" cegah Reva.
"Apa?"
"Gimana kalau kita makan di apartemen aja?"
"Tumben, biasanya kalau ke Mall kamu selalu pengen makan di luar."
"Hari ini lagi pengen masakan rumah aja, sekalian ajarin gue masak, gimana?"
"Serius Reva mau belajar masak?" Tidak lama Rafael pun tertawa, membuat Reva tersinggung dan langsung mencubit tangannya.
"Iya-iya, ya sudah kita makan di apartemen aja," ucap Rafael yang malah senang.
Keduanya membawa trolli dengan isi belanjaan lumayan banyak, setelahnya memindahkan ke bagian bagasi. Sepanjang perjalanan ke parkiran bawah tanah, Reva terus mengawasi sekitar khawatir ada Lucas. Kalau pria itu melihatnya bersama Rafael lagi kan bisa gawat.
"Emangnya Reva lagi pengen makan apa?" tanya Rafael yang mulai menjalankan mobilnya.
"Chicken katsu, bisa gak?"
"Oh kalau itu gampang, kayanya bahan-bahan dan bumbunya juga semua ada."
"Oke, kita makan sama itu ya."
"Iya, tapi nanti Reva buat sendiri."
"Kok gitu?!"
"Tadi katanya mau belajar, nanti lihat dan turutin aja step dari aku."
"Iya."
Sesampainya di apartemen, Rafael memindahkan dahulu belanjaan ke meja pantri. Reva sendiri ke kamarnya untuk mengganti baju dan membuang hajatnya dulu. Setelah itu ke dapur melihat Rafael yang sedang memasukan beberapa makanan ke kulkas.
"Rajin banget lo," celetuk Reva yang memperhatikan.
"Soalnya kalau bukan aku siapa lagi, mana mungkin Reva."
__ADS_1
"Gue mah males, kenapa kita gak nyewa pembantu aja?"
"Reva mau?" tanya Rafael sambil menatap.
"Terserah lo sih, kan lo yang nge gaji."
"Kayanya kita bakal sewa pembantu aja, soalnya sebentar lagi juga ujian kelulusan. Aku bakalan mulai sibuk belajar, gak akan ada waktu buat beres-beres."
"Ya sudah, emang mending nyewa pembantu aja biar gak repot."
Masalahnya Reva juga malas jika harus membersihkan apartemen, Ia tidak suka bersih-bersih dan masak. Apalagi dari kecil hidupnya sudah mewah dan hanya dilayani, Ia tidak bisa melakukan pekerjaan yang merepotkan.
"Sini, kita mulai masak," ajak Rafael sambil melambaikan tangannya.
Pria itu menjelaskan lebih dahulu beberapa bahan yang akan dipakai, Reva pun mendengarkan dengan baik karena banyak yang tidak Ia ketahui juga. Setelah mencuci tangan, Rafael pun mulai melakukan step memasaknya.
"Jijik ih," ucap Reva melihat potongan daging bagian dada ayam.
"Kamu emangnya belum pernah sentuh daging mentah?" tanya Rafael, "Jangan lebay deh, dagingnya juga gak akan hidup."
"Ih bukan gitu, tapi.. Tapi teksturnya pasti jijik. Bau gak?"
"Enggak, coba dulu pegang."
Dengan menahan jijik, Reva pun menyentuh-nyentuh daging itu. Setelah menguatkan diri, baru berani memegangnya. Rafael lalu meminta menaburkan bumbu, Reva hanya ikuti saja. Ia juga menanyakan seberapa banyak karena khawatir terlalu asin.
"Coba sekarang taburin sama tepung bumbu, sampai dagingnya ketutup ya," perintah Rafael.
Rafael tidak menertawakan Reva yang terlihat kikuk saat memasak, mungkin ini adalah yang pertama kali bagi perempuan itu. Malahan Rafael cukup mengapresiasi karena Reva mau belajar masak, cukup ada perkembangan.
"Sekarang tinggal di goreng deh."
"Terus udah gitu matang, kan? Siap dimakan?"
"Iya, bumbunya juga instant jadi tinggal tuang."
"Hehe gak sabar nyoba masakan sendiri, pasti enak."
Saat Reva menggoreng ayam itu, Ia repleks menjerit melihat minyak goreng yang bergejolak. Lantai yang licin karena taburan tepung, membuat kakinya terpeleset. Tetapi untungnya Rafael dengan repleks menahan tubuhnya, tidak jadi membuatnya jatuh.
"Reva, Hati-hati dong," ucap Rafael sambil menatap matanya.
Untuk beberapa saat mereka terdiam saling menatap. Reva menelan ludahnya susah payah merasa posisinya saat ini cukup romantis, Rafael terlihat gentle sekali karena dengan sigap menolongnya. Apalagi dari sedekat ini, pria itu terlihat lebih tampan.
"Ayo bangun, lanjutin masaknya," ucap Rafael lalu menarik tubuhnya kembali berdiri.
Reva bersehem pelan menghilangkan canggung, "Tapi gue takut ah, lo aja yang masaknya ya?"
"Gak bisa, itu punya kamu. Harus diselesaikan tugasnya. Ayo buruan balikin, nanti keburu gosong ayamnya."
__ADS_1
"Ih jangan dong."
Dengan berusaha menahan rasa khawatir, Reva akhirnya berhasil juga membalikan katsunya itu dari minyak panas. Ia berdiri di depan kompor sambil menjaga gorengannya, berharap matang dengan baik dan tidak gosong.
"Kalau Reva belajar masak setiap hari, pasti nanti juga bisa," ucap Rafael.
Reva menoleh sekilas, "Lo mau ngajarin gue?"
"Kalau Reva nya yang mau ya aku mau aja, asalkan harus semangat dan jangan males."
"Boleh deh, tapi kayanya gak akan sampai setiap hari juga belajar masak."
"Iya gak papa gak setiap hari, tapi kalau bisa sering biar cepet bisa. Selanjutnya nanti kita belajar buat nasi ya? Itu yang paling utama yang harus kamu bisa."
"Iya."
Setelah makanan mereka jadi, langsung memindahkan ke meja makan. Reva dari tadi tidak bisa menyembunyikan senyumannya melihat makanan di piringnya yang terlihat cantik, tidak menyangka saja Ia berhasil membuatnya sendiri.
"Sudah boleh dimakan?" tanyanya tidak sabaran.
"Baca doa dulu."
"Iya."
Saat Reva menyuapkan potongan kecil katsu itu, keduanya langsung terpejam dengan senyuman semakin lebar. Rafael yang melihat reaksi berlebihan perempuan itu dibuat terhibur sampai tertawa kecil. Kebetulan mereka memang duduk saling berhadapan.
"Gimana?" tanya Rafael.
"Enak banget, hebat banget gue bisa masak makanan seenak ini."
"Hei itu juga kan aku yang ngarahin."
"Iya-iya, tapi kan tetep gue yang buatnya."
Memang sih tidak seenak di restoran, tapi untuk ukuran masakan buatannya yang memang tidak bisa masak, bagi Reva ini sangat enak. Membuatnya jadi semakin semangat untuk belajar masak, untung saja Rafael pun mau mengajarkannya.
"Rafael, kok lo bisa masak sih? Lo kan cowok," tanya Reva.
"Dari kecil aku emang suka bantuin Bunda masak, makanya jadi tahu deh beberapa resep. Menurut aku masak juga seru, bisa sesuai kemauan kita."
"Tapi kan jarang banget tuh ada cowok yang bisa masak."
"Enggak juga, buktinya kebanyakan koki itu laki-laki."
"Iya juga ya, tapi tetep aja jarang."
Rafael terlebih dahulu menelan makanannya, "Makanya Reva cepet bisa masak, biar bisa masakin buat aku. Kan masakin buat suami bisa dapet pahala."
"Nanti deh, kalau gue bisa masak juga pasti dibuatin."
__ADS_1
"Oke, aku tunggu ya."
Padahal tadi siang Reva sempat ngambek, tapi sore ini mereka sudah akur lagi. Mungkin pasutri itu memang begini, mereka hidup bersama jadi kemungkinan berdamai pun akan lebih cepat.